Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Hidup Desna, Ibu Tiga Anak di Balik Badut Pooh di Taman Kota Singaraja Bali yang Kerap Dipandang sebagai Pengemis  

Dian Suryantini • Minggu, 17 Maret 2024 | 14:17 WIB
Desna dengan kostum badut saat menghibur pengunjung di Taman Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali.
Desna dengan kostum badut saat menghibur pengunjung di Taman Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Ketut Desna membagikan kisahnya menjadi badut di Taman Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali.

Sebelum menjadi badut, wanita ini memiliki usaha rumah makan. Namun saat pandemi Covid-19 melanda, Desna terpaksa menutup warungnya karena sepi pembeli.

Terdampak oleh kebijakan pembatasan sosial, ia beralih profesi menjadi badut untuk mencari nafkah bagi keluarganya.

Meski pendapatan menjadi badut tidak menentu, Desna tetap bersyukur dan menjalani pekerjaannya dengan penuh semangat.

Setiap malam, ia mengenakan kostum beruang Pooh dan menghibur pengunjung Taman Kota Singaraja.

Meskipun tidak mematok tarif resmi, Desna menerima apapun yang diberikan orang kepadanya, bahkan ada pula yang tidak memberikan apapun.

Meski merasa sedih terkadang disalah artikan sebagai pengemis, Desna tetap tegar menjalani pekerjaannya. “Sakit sekali kepala saya,” ujar Desna.

Bagi Desna, menjadi badut bukan hanya sekadar pekerjaan, tetapi juga cara untuk berinteraksi dengan anak-anak dan memberikan kebahagiaan bagi mereka.

Namun, di balik senyumnya, ia tetap merindukan pekerjaan tetap dengan penghasilan yang cukup untuk keluarganya.

Meski tidak sebanding dengan punakawan dalam pewayangan Jawa yang memiliki derajat yang lebih tinggi, kehadiran Desna mampu memberikan hiburan yang nyata bagi siapa pun yang bertemu dengannya.

Meski tersembunyi di balik kostum beruangnya, keinginan Desna untuk berubah dan meraih kehidupan yang lebih baik tercermin jelas.

“Mau bagaimana lagi, yang penting halal dan ini saya sudah jalani selama 2 tahun,” katanya lagi.

Sebelum menjadi badut, warga Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng itu mengandalkan penghasilan dari suaminya sebagai satpam.

Itu tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Terlebih Desna memiliki tiga orang anak yang masih kecil.

Untuk menambah penghasilan keluarga, Desna akhirnya turut bekerja.

Ia sempat menjual balon serta mainan anak-anak. “Jualannya di sini juga, di Taman Kota Singaraja,” imbuhnya.

Perjalanannya menjadi badut pun ia pilih, sebab jalan itulah satu-satunya yang dapat ia coba untuk menghasilkan rupiah.

Ia lantas dikenalkan kepada seorang pemilik kostum badut oleh salah seorang teman. Penghasilannya menjadi badut pun harus dibagi dengan pemilik kostum.

Selama menjadi badut, Desna paling bahagia ketika diundang pada acara ulang tahun.

Tentu saja, pendapatan saat menjadi badut di Taman Kota dengan acara ulang tahun sangat jauh berbeda.

Desna bisa mendapat upah berlipat-lipat  ketimbang saat membadut di hari biasa di Taman Kota Singaraja.

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #badut #Taman Kota Singaraja #buleleng