TABANAN, BALI EXPRESS – Setiap menjelang hari raya Nyepi masyarakat Banjar Bendul Desa Wongaya Gede, Tabanan, Bali, memiliki sebuah tradisi membuat kuliner.
Mereka membuat makanan entil yang merupakan makanan tradisional masyarakat Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan yang dibuat pada waktu sehari sebelum hari pengerupukan.
Warga setempat, Ni Made Ayu Suniari menerangkan hari raya Nyepi selain identik dengan perayaan pawai ogoh-ogoh, pada hari pengerupukan juga identik dengan makanan khas, yaitu entil.
Ini merupakan makanan tradisional masyarakat Banjar Bendul Desa Wongaya Gede yang dibuat pada saat menjelang Hari Raya Nyepi yang jatuh satu tahun sekali menurut perhitungan kalender Bali.
“Entil adalah makanan tradisional yang terbuat dari beras yang dibungkus daun nyelep atau daun lenggidi,” ujarnya.
Digunakannya daun jenis itu untuk membungkus entil tujuannya supaya rasanya menjadi lebih enak.
Selain itu dalam proses perebusannya juga ditambahkan daun dadap, daun kayu suji dan daun pandan harum.
“Penambahan daun-daun itu bertujuan untuk memberikan warna hijau serta rasa gurih dan aroma yang sedap pada entil,” paparnya.
Beras yang sudah dibungkus kemudian dipasang-pasangkan dan diikat dengan tali yang terbuat dari bambu atau tali plastik.
Proses pembuatan entil hampir sama dengan membuat ketupat tapi waktu merebusnya lebih lama.
Masyarakat Banjar Bendul Desa Wongaya Gede biasanya memasak entil menggunakan kayu bakar.
Tujuannya untuk mendapatkan rasa yang khas, proses memasaknya memerlukan waktu yang cukup lama.
Bisa seharian penuh agar mendapatkan hasil yang sempurna semakin lama direbus hasil yang didapatkan semakin baik pula.
Suniari menerangkan entil yang baik biasanya tahan selama beberapa hari dan tidak cepat basi.
“Hal itu disebabkan karena proses memasaknya yang sangat lama,” tegasnya.
Ke depannya entil agar selalu menjadi makanan tradisional yang digemari oleh semua orang dan dikenal oleh masyarakat banyak.
Entil yang dibuat oleh masyarakat banjar Bendul Desa Wongaya Gede memiliki ciri khas yang unik serta penyajiannya selalu ditemani oleh timbungan atau daging babi yang dicincang diracik dengan bumbu khas Bali. Dimasak dengan cara dimasukkan ke dalam batang bambu kemudian dibakar di atas bara api.
“Kedua jenis makanan itu selalu ada saat perayaan Nyepi dan telah menjadi ciri khas atau identitas makanan tradisional yang terdapat di Banjar Bendul Desa Wongaya Gede,” pungkasnya.
Detail Kuliner Khas Bernama Entil
Entil terbuat dari beras yang dibungkus daun nyelep atau lenggidi. Daun ini memberikan rasa khas dan aroma sedap pada entil.
Daun dadap, kayu suji, dan pandan harum turut ditambahkan saat perebusan untuk menghasilkan warna hijau dan rasa gurih.
Proses pembuatan entil mirip dengan ketupat, namun membutuhkan waktu rebus yang lebih lama, hingga seharian penuh, untuk menghasilkan tekstur yang sempurna.
Kayu bakar digunakan untuk mendapatkan cita rasa khas.
Entil yang matang tahan selama beberapa hari tanpa basi, berkat proses perebusan yang lama.
Keunikan Entil:
- Dibuat hanya saat Nyepi.
- Terbuat dari beras dan daun nyelep/lenggidi.
- Memiliki rasa khas dan aroma sedap.
- Direbus selama seharian penuh.
- Tahan lama tanpa basi.
Penyajian:
Entil dinikmati bersama timbungan, daging babi cincang yang diracik dengan bumbu khas Bali dan dimasak dalam batang bambu bakar.
Identitas Kuliner Tradisional:
Entil dan timbungan menjadi ciri khas Desa Wongaya Gede dan selalu hadir saat Nyepi.
***
Editor : I Putu Suyatra