SINGARAJA, BALI EXPRESS- Nengah Suparna, 52, warga Buleleng, Bali mengembangkan sorgum di lahan seluas 2,5 hektare.
Ia dengan telaten mengurus ribuan batang sorgum yang ditanam tersebut. Matanya tampak awas.
Ia tidak membiarkan burung hinggap dan mencicipi sorgum yang ia tanam.
Ladang luas milik Suparna berlokasi di Desa Ringdikit, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng.
Untuk menuju ke ladang itu dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua sampai di ujung ladang. Sisanya dilanjutkan dengan jalan kaki.
Ladang sorgum itu tersembunyi dan jauh dari keramaian. Sembari menatap sorgum itu lekat-lekat Suparna berbisik ingin mengembalikan kejayaan sorgum di Buleleng.
“Kembali membuatnya menjadi kebanggaan Buleleng,” kata Suparna, mantap pada Jumat, 24 Mei 2024.
Bagi Suparna, sorgum bukan hanya simbol seperti yang terdapat pada ikon Singa Ambara Raja, melainkan sebuah pangan yang dapat membantu masyarakat di kemudian hari jika terjadi krisis pangan.
Di tangan Suparna, ribuan sorgum itu tumbuh subur. Biji sorgum terlihat sehat dengan bulir yang cukup besar.
Suparna sendiri telah lama berkutat dalam bidang pertanian. Tangannya telah terbiasa bertemu sapa dengan jagung, pohon karet, kakao, sawit hingga padi.
Tanaman-tanaman pangan itu ia urus tidak di satu tempat saja. Suparna telah berkeliling ke Lampung, Sampit, Pangkalan Bun, Kendari hingga Palu.
Suparna juga sempat bekerja di salah satu perusahaan pertanian ternama di Indonesia.
Namun tahun 2004 ia memutuskan untuk pulang ke Buleleng. Ia ingin mewujudkan mimpinya untuk bertani di Buleleng.
Maka setelah 18 tahun berada di kampung halaman, ia memutuskan untuk merintis sorgum. Di lahan yang sama ia menanam dan berhasil panen tahun 2022.
Dua pemicu utamanya adalah krisis pangan yang diakibatkan oleh perang Rusia-Ukraina dan perubahan iklim global.
Bagi Suparna, sorgum adalah tanaman ajaib yang serupa dengan pohon kelapa karena semua bagiannya bisa dimanfaatkan.
Daunnya bisa digunakan sebagai pakan ternak dan bahan kerajinan tangan, batangnya dapat diolah menjadi bioetanol dan sirup.
Biji sorgum bisa dijadikan tepung, dan akarnya dipercaya dapat memperlancar peredaran darah. “Sorgum adalah wonder plant,” ujar Suparna.
Selain itu, sorgum bisa tumbuh di lahan tidak produktif atau yang tak bisa ditanami tanaman lain.
Di Buleleng atau Bali, banyak lahan yang cocok untuk adaptasi sorgum, dari barat hingga timur.
Sorgum juga bisa tumbuh diberbagai jenis tanah, termasuk lahan bekas tambang.
Sorgum juga mudah dikembangkan. Cukup sekali tanam dan bisa dipanen hingga tiga kali, sehingga lebih ekonomis dibandingkan bertani padi. Namun, Suparna menghadapi beberapa kendala.
“Masalahnya, terkendala benih yang masih terbatas. Petani juga sudah terbiasa dengan padi dan khawatir jika sorgum tidak laku di pasaran,” katanya. (*)
Editor : I Made Mertawan