Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rukayyah, Perempuan 75 Tahun Pemetik dan Pemanjat Cengkih Pegayaman Yang Melegenda

Rika Riyanti • Kamis, 30 Mei 2024 | 13:45 WIB

Para perempuan Pegayaman yang mahir panjat pohon dan menjadi tukang kepik cengkih saat musim panen.
Para perempuan Pegayaman yang mahir panjat pohon dan menjadi tukang kepik cengkih saat musim panen.

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Wangi khas di bulan Mei terasa tidak asing. Wangi ini akan menggoda hidung sepanjang bulan Mei hingga bulan Agustus. Wangi itu milik pohon cengkih yang sudah mulai panen. Aromanya yang khas seakan menyelimuti seluruh desa di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali.

Di periode ini, desa ini dipenuhi dengan bunga cengkeh yang baru dipetik. Bunga-bunga cengkih itu menebarkan wangi khas yang tak ditemukan di bulan-bulan lainnya.

Warga desa, mulai dari anak-anak hingga orang tua, terlibat dalam ritual tahunan ini – mikpik cengkih.

Baca Juga: Pengembangan Transportasi Massal Berbasis Kereta di Bali Masuki Babak Baru 

Setiap pagi, warga Pegayaman memulai kegiatan memetik bunga cengkih. Mereka membawa kampil, tas anyaman, lalu menuju pohon-pohon cengkih yang tumbuh di pekarangan rumah atau kebun mereka.

Pohon-pohon cengkih di desa ini beragam usia dan ukuran. Mulai dari yang baru berumur lima tahun hingga yang telah mencapai usia 50 tahun lebih.

Para pemetik cengkih, baik pria maupun wanita, menawarkan jasa mereka kepada pemilik pohon.

Ada juga yang diminta langsung oleh pemilik untuk membantu memetik. Proses memetik dilakukan dengan memanjat pohon untuk mengambil bunga cengkih yang mencapai kondisi terbaik.

Namun, tidak hanya memanjat, ada juga warga yang melakukan aktivitas 'ngorek', yaitu memungut satu per satu bunga cengkih yang jatuh ke tanah.

Di balik cerita petik cengkih ini, ada perempuan-perempuan tangguh yang tak kalah dengan pria dalam memanjat pohon cengkih.

Salah satu yang paling fenomenal adalah Rukayyah, yang akrab dipanggil Kayyah.

Baca Juga: Tak Hanya Punya Vie Indah, Melukat di Jaga Satru Desa Duda Timur diyakini Bikin Panjang Umur

Perempuan berusia 75 tahun ini dikenal karena kelihaiannya memanjat pohon cengkieh, durian, dan kemang (wani) tanpa pengaman apapun.

Kemampuannya yang luar biasa ini membuatnya dijuluki Kayyah Tuung, yang berarti kecil namun lincah.

Kayyah memanjat pohon setinggi 30 meter dengan mudah, seolah tubuhnya melayang.

Warga desa menduga dia memiliki ilmu peringan tubuh, sebuah kemampuan khusus yang jarang dimiliki orang.

Meskipun usianya sudah lanjut, Kayyah tetap sehat dan aktif, bahkan masih sering memanjat pohon cengkih.

Cerita tentang Kayyah diakui oleh warga desa lainnya, seperti Ida, Dewi dan Nur.

Baca Juga: Healing Sambil Melukat: Penglukatan Jaga Satru di Desa Duda Timur Solusinya

Mereka mengungkapkan bahwa banyak perempuan di Pegayaman yang bisa memanjat pohon cengkih, tetapi hanya Kayyah yang mampu memanjat pohon besar seperti durian dan wani.

Saat ini, Kayyah menghabiskan hari-harinya berjualan sayur keliling, namun kemampuan memanjatnya masih tetap terjaga.

Ida mengatakan, di Desa Pegayaman, tradisi petik bunga cengkih bukan hanya tentang hasil panen dan upah.

Ini adalah momen kebersamaan, saling membantu, dan merayakan hasil kerja keras bersama.

Aroma khas bunga cengkih yang menyelimuti desa menjadi saksi bisu kebersamaan dan kerja keras warga.

Upah untuk memetik dan ngorek berbeda. Pemetik bunga cengkeh di pohon mendapatkan upah Rp 5.000 per kilogram, sedangkan untuk ngorek mendapatkan Rp 15.000 per kilogram.

Baca Juga: Selain Stefano Lilipaly, Mantan Bintang Bali United Ini Berada di Circle Pelatih Borneo FC; Tugasnya Cukup Vital

Perbedaan ini karena ngorek memerlukan waktu lebih lama dan lebih telaten.

Dalam sehari, seorang pemetik bisa mengumpulkan hingga 30 kilogram, sedangkan yang ngorek paling banyak mendapatkan 2 hingga 3 kilogram.

“Untuk upah ya sama saja. Ibu-ibu juga dapat upah yang sama. Yang petik atau yang mikpik. Ibu-ibu juga bisa panjat pohon. Tergantung pohonnya bisa dipanjat langsung atau perlu pakai tangga,” ujar Ida.

Setelah memetik atau ngorek, bunga cengkih dibawa pulang untuk ditimbang.

Pemilik pohon menyediakan timbangan di rumah untuk memastikan hasil panen. Setelah ditimbang, bunga cengkih melalui proses 'mikpik', yaitu memisahkan bunga dari tangkainya.

Proses mikpik ini dilakukan oleh warga desa dari pukul 14.00 hingga pukul 18.00, bahkan kadang berlanjut hingga malam. Setiap kilogram bunga yang di-pikpik dihargai Rp 1.500,-.

Baca Juga: Punggawa Timnas Indonesia U23 Ini Antusias Ingin Jungkalkan Bali United untuk Kado Ulang Tahunnya

Ritual mikpik menjadi ajang berkumpul dan bersosialisasi bagi warga.

Sambil bekerja, mereka menikmati kopi dan berbincang ringan. Walaupun upah mikpik tidak seberapa, sekitar Rp 30.000 per hari, namun kebersamaan yang tercipta menjadi nilai tambah yang tak ternilai.

Yang menarik, semua proses dari memetik, ngorek, hingga mikpik dilakukan dengan profesionalisme tinggi.

Upah dibayar sesuai kesepakatan dan tanpa memandang hubungan keluarga.

Bahkan, kadang pemilik pohon memberikan upah tambahan sebagai bentuk sedekah kepada kerabat yang membantu.

Bunga cengkih yang telah di-pikpik biasanya langsung dijual. Namun, ada juga pemilik yang memilih menjemurnya untuk disimpan sebagai stok.

Baca Juga: BNI Java Jazz Festival 2024 Sukses Dorong Transaksi Digital BNI

Kendati demikian, hingar bingar kegembiraan panen cengkih, ada hal yang mengkhawatirkan para warga.

Pemanjat pohon cengkih rawan kecelakaan seperti terjatuh dari pohon. Hal itu pun kerap terjadi ketika musim cengkih tiba.

“Kalau sudah musim begini, setiap tahunnya ada saja yang jatuh dari pohon. Ada juga pernah sampai meninggal,” tutur Ida. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #cengkih #buleleng