BALIEXPRESS.ID – Pasangan suami istri (Pasutri) dari Bali ini, memelihara puluhan anjing Bali. Yang menarik, nama-namanya menggunakan nama kota, hewan hingga rempah-rempah. Seperti apa?
Kambing… kambing.. kambing... Suara Ayu Gayatri melengking memanggil hewan peliharaannya.
Nama yang dipanggil pun terdengar tidak asing. Tapi alih-alih muncul kambing, tapi yang mendekat adalah anjing.
Ya, anjing yang berlari kecil mendekatinya di Rumah Intaran Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali itu namanya Kambing.
Badannya sedikit gempal dengan ekor tegak lurus ke atas. Kambing adalah anjing Bali peliharaan keluarga Ayu Gayatri.
Selain kambing ada juga anjing-anjing lain di rumahnya. Namanya ada kuda, karena badannya gagah mirip kuda.
Ada pula yang namanya sapi karena warna bulunya coklat seperti bulu sapi. Benar-benar unik.
Ayu menceritakan hewan-hewan peliharaannya itu berkembang biak sangat cepat.
Sebelum diberi nama-nama hewan lain, anjing-anjing itu juga diberi nama kota.
Tidak sembarang kota menempel sebagai nama si anjing. Kota-kota itu adalah kota-kota yang pernah ia kunjungi bersama suaminya Gede Kresna.
“Kalau yang nama-nama hewan itu sudah masuk generasi kedua. Generasi pertama itu ada namanya Dompu, Nias, Tambora dan masih banyak. Itu kota-kota yang pernah kami kunjungi,” tegas Ayu belum lama ini.
Waktu terus berjalan. Setelah generasi si kambing dan si kuda berguguran, muncul generasi baru.
Generasi itu diberi nama dengan berbagai macam rempah dapur. Ada yang bernama jahe, kencur hingga merica.
“Kalau yang itu diberi nama sama anak-anak magang di rumah kami. Kami terima-terima saja. Lagian lucu juga namanya dan mereka juga ngerti kalau dipanggil dengan nama itu,” ungkapnya sembari tertawa kecil.
Ide lain soal penamaan anjing peliharaan di Rumah Intaran itu juga muncul. Pada generasi “rempah” ada keluarga baru.
Beberapa anjing kecil itu kemudian diberi nama gula dan juruh (gula merah cair). Tidak berhenti sampai disitu, nama anjing-anjing generasi berikutnya kemudian menggunakan pengulangan kata, seperti Ling-Ling atau Tung-tung.
“Ini sudah tidak ada ide lagi, mulai nama pengulangan. Ada Ling-ling, yang gitu-gitu. Semuanya anjing Bali. Awalnya cuma satu. Dapat minta dari keluarga. Itu anjing betina. Lalu banyak anjing dari luar masuk ke rumah kami, jadilah beranak pinak dan banyak. Terus beranak seperti itu,” terangnya.
Ada-ada saja hal unik soal penamaan hewan peliharaan. Dengan nama hewan peliharaan itu, tak jarang tamu dibuat kebingungan sekaligus terbahak.
Mereka tidak menyangka anjing akan diberi nama dengan hewan lain.
“Kalau nama anjing pada umumnya mungkin Doggy, Poppy atau yang lain. Tapi disini tidak. Jadi tamu-tamu yang datang juga kadang bingung. Setelah kami jelaskan mereka kadang tertawa juga. Kalau dibilang aneh y aini aneh, tapi ini lucu,” tutur Ayu. ***
Editor : I Putu Suyatra