BALIEXPRESS.ID – Tangannya tampak cekatan merakit sebuah kipas angin yang sedang diperbaiki. Ia adalah Wayan Murdika, 60. Dulu, dia dulunya salah satu pekerja film layar tancap di Buleleng era 1980-an.
Ia memang gemar memperbaiki kipas angin meski bukan ahlinya. Sembari membereskan peralatannya, Murdika bercerita mengenai karirnya sebelum ia kini bekerja di sebuah pabrik kopi kecil di Celukan Bawang, Gerokgak, Buleleng.
Murdika tinggal di Desa Pengulon, Kecamatan Gerokgak, Buleleng. Meskipun kini ia telah beralih profesi, masa mudanya dipenuhi kenangan yang unik dan berkesan.
Tahun 1988 Wayan Murdika pernah bergelut di dunia perfilman. Ia bukanlah seorang sutradara ternama atau produser film besar, tetapi ia memiliki peran penting dalam dunia perfilman lokal pada akhir tahun itu.
Murdika adalah seorang tukang pembawa film keliling, sebuah profesi yang mungkin tidak dikenal oleh generasi muda saat ini, namun sangat berpengaruh pada masanya.
"Dulu namanya tukang trek film, kalau sekarang namanya mungkin programmer film atau apalah itu. Yang jelas lebih keren," katanya.
Pada tahun 1988, di tengah maraknya popularitas film-film seperti "Mak Lampir" dan "Saur Sepuh", Murdika menjadi salah satu dari banyak pekerja pemutar film keliling di Buleleng.
Tugasnya adalah mengambil roll film dari bioskop di Singaraja dan membawanya berkeliling Buleleng, dari kota hingga ke Buleleng Barat dan Timur.
Pada masa itu, film yang telah diputar di bioskop akan diizinkan untuk diputar di luar, memberikan kesempatan bagi masyarakat di daerah terpencil untuk menikmati hiburan yang sama.
“Kalau dulu filmnya diputar di Singaraja Theater pertama, lalu Wijaya Theater, terakhir ke Mudaria Theater. Setelah itu baru diijinkan untuk diputar keluar bioskop. Menontonnya tetap bayar karcis saat itu,” ujarnya sembari tetap berkutat dengan kipas angin yang diperbaiki, Jumat (28/6).
Setiap roll film yang dibawa Murdika beratnya sekitar 50 kilogram. Ia harus menjinjingnya ke berbagai tempat, menghadapi berbagai tantangan yang datang bersamanya.
Profesi ini bukan tanpa resiko. Penonton yang marah karena film yang diputar macet-macet seringkali mengekspresikan ketidakpuasan mereka dengan cara kasar.
Murdika pernah mengalami situasi layar film dirobek, toa (pengeras suara) yang dipasang setinggi lima meter dihempaskan, dan kabel-kabel ditarik hingga jatuh.
Kerusakan-kerusakan ini, meskipun menimbulkan kerugian besar, biasanya ditanggung oleh pihak bioskop. Namun, perasaan kecewa dan stres tentu saja dirasakan oleh Murdika.
“Marahnya penonton saat itu tidak main-main. Teriak-teriak kalau pemutarannya jelek,” ujarnya.
Sebelum film diputar, ada berbagai persiapan yang dilakukan Murdika. Selebaran yang disebut "koran" disebar sehari sebelum pemutaran film.
Selebaran ini dibuat secara manual, bukan dicetak, melainkan dilukis. Koran-koran ini ditempelkan di pohon-pohon sebagai pengumuman. Selain itu, pengumuman yang disebut "callingan" juga dilakukan sesaat sebelum film diputar untuk mengingatkan masyarakat agar segera berkumpul.
Wayan Murdika mendapatkan bayaran sebesar Rp 1.500,- untuk setiap kali memutar film keliling. Meskipun jumlah ini tidak besar, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup pada saat itu.
“Sekarang mungkin namanya poster. Itu dibuat manual, dilukis tangan. Tidak dicetak atau print begitu. Dulu ada yang tugasnya sebagai tukang gambar. Singaraja Theater mempekerjakan orang-orang itu dulu. Saya ambil koran itu dari mereka juga,” ungkap Murdika.
Sebelum terjun ke dunia film keliling, Murdika sempat bekerja sebagai pegawai bank di Desa Sanggalangit.
Namun, ia memutuskan untuk resign dan beralih profesi bersama temannya, Renes.
Bersama-sama, mereka memutar film keliling Buleleng, membawa hiburan ke pelosok-pelosok desa. Meski pekerjaan ini memiliki tantangan, Murdika menikmati setiap momennya.
Ia merasa senang bisa menjadi bagian dari kebahagiaan orang lain saat menonton film.
“Bioskop dulu memang ada, tapi tidak semua orang bisa menikmati kesana. Jadi layar tancap ini sebagai alternatif agar mereka juga bisa menikmati filmnya. Jaman itu tv masih sangat sedikit,” kata dia.
Namun, seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi dan munculnya televisi mulai menggeser peran film keliling.
Permintaan untuk memutar film mulai berkurang, dan akhirnya, Murdika memutuskan untuk meninggalkan profesinya tersebut.
Meskipun demikian, kenangan indah dan tantangan yang pernah dihadapinya sebagai tukang pembawa film keliling tetap melekat kuat dalam ingatannya.
“Sejak ada TV, masyarakat jarang keluar dan mendapat hiburan dari TV saja. Karena sudah tidak ada yang nonton layar tancap jadi saya selesai kerja itu. Sekarang kerja di pabrik kopi bubuk Jaya Kerti di Celukan Bawang,” kata dia.
Di tengah maraknya kemajuan teknologi dan perubahan zaman, kisah Wayan Murdika menjadi sebuah pengingat akan masa lalu yang penuh nostalgia.
Pada masa itu, menonton film di bioskop dengan tiket seharga Rp 250,- adalah sebuah kemewahan tersendiri.
Kini, dengan berbagai kemudahan akses ke hiburan, generasi muda mungkin sulit membayangkan betapa berartinya peran para pekerja film keliling seperti Murdika.
Yakni ketika zaman itu bioskop masih jadi kemewahan, bioskop streaming seperti Netflix dan lainnya belum ada. Dan televisi baru ada TVRI.
“Sekarang sudah ada YouTube. Sudah semakin mudah untuk mengakses hiburan,” ujarnya.
Baca Juga: MEMUKAU! Jegog Tingklik Seiko Niti Suara dan Seni Jegog Tingklik Sandi Suara Mebarung di PKB
Hari-hari ini, Wayan Murdika menjalani kehidupan yang lebih tenang di Desa Pengulon.
Ia telah meninggalkan dunia perfilman, tetapi cerita tentang perjalanan hidupnya sebagai tukang pembawa film keliling masih sering ia ceritakan kepada orang-orang di sekitarnya.
Kisahnya menjadi bagian dari sejarah lokal, mengingatkan bahwa di balik layar film yang ditonton, ada perjuangan dan dedikasi dari orang-orang seperti Wayan Murdika yang membawa hiburan dan kegembiraan ke banyak orang.
“Kalau tidak ada pekerja-pekerja film seperti kami ini, meskipun perannya kecil, layar film tidak akan terkembang. Saat diputar di luar bioskop tentunya,” kata Murdika diiringi dengan gelak tawa. ***
Editor : Y. Raharyo