BALIEXPRESS.ID - Kain besar bergelendot di pinggang. Ember dan karung siaga di bawah pohon. Siti Aisyah,40 seorang ibu rumah tangga tengah asyik beradu dengan biji-biji kopi.
Biji kopi yang merah dengan cepat dipetik lalu dimasukkan ke dalam kain yang sejak pagi bergelendot di pinggangnya.
Dengan bantuan tangga, Siti berpindah dari pohon ke pohon.
Pohon kopi yang dipetik Siti adalah milik Wayan Muhammad Inwan di Dusun Amerta Sari, Desa Pegayaman, Kabupaten Buleleng, Bali. Pohonnya cukup tinggi dan bijinya telah matang.
Siti berangkat dari rumah sekitar pukul 08.00 wita.
Setibanya di kebun, ia langsung bersiap. Kendati berada di atas pohon, Siti tidak merasa ngeri, sebab ia sudah terbiasa.
“Setelah masak dan urus suami saya baru berangkat. Jam 8 sudah di sini. Tapi suami saya juga ikut metik. Saya ikut bantu-bantu,” ujarnya sambil tetap bergelayut di atas pohon, Senin (8/7) siang.
Sebagai pemetik biji kopi, Siti sudah dibekali pengetahuan dasar.
Ia dengan teliti memetik biji kopi yang sudah memerah. Sementara yang hijau dan setengah merah dibiarkan tetap di pohon, kemudian kembali dipetik saat sudah merah. Siti sudah lama jadi buruh petik kopi di Pegayaman.
Hasil dari memetik kopi digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Biasanya ia akan memetik kopi hingga pukul 12.00 wita.
“Nanti lanjut lagi sampai jam 4 sore. Sisanya kembali urus rumah. Namanya juga ibu rumah tangga,” ujarnya dari atas pohon sambil tertawa.
Selain Siti ada juga Umamah. Perempuan muda berusia 20 tahun ini memilih memetik biji kopi daripada bersantai menggulir layar handphone.
Ia mengikuti jejak Siti. Berangkat pukul 08.00 wita hingga pukul 12.00 wita. Meski masih muda, Umamah tidak canggung.
Ia juga fasih memanjat pohon kopi yang tingginya lumayan dengan cabang yang rentan patah.
“Gak malulah, kan dapat uang, Mbak. Daripada diam saja, tidak punya bekal,” ujarnya malu-malu.
Meski tergolong pemetik pemula, Umamah tak kalah lincah dari Siti. Baru saja ia berada di bawah untuk memindahkan hasil petik ke ember, dalam hitungan detik ia sudah kembali bergelayut di atas pohon kopi.
Menjelang siang, kedua perempuan ini keluar dari kebun kopi. Masing-masing membawa karung plastik yang penuh biji kopi.
Karung-karung itu ditimbang lalu dihitung untuk mendapatkan upah petik. Selama hampir 4 jam bergelayut memetik kopi, Siti dan Umamah berhasil mengumpulkan puluhan kilogram. Siti mengumpulkan 51 kilogram.
Hasil itu dikalikan dengan upah Rp 2.500,- per kilogram, sehingga dalam waktu 4 jam Siti mendapat upah sekitar Rp 127,500,-.
“Ya, lumayan untuk tambahan uang dapur,” kata Siti.
Dengan upah yang sama, Rp 2.500,- per kilogram, Umamah mengumpulkan 31 kilogram. Hasil petik Umamah tergolong lumayan bagi pemetik pemula.
“Ada tambahan uang jajan,” kata Umamah singkat.
Siti dan Umamah memang baruh tetap di kebun kopi milik Wayan M. Inwan. Setiap kali kopi-kopi di kebun itu siap panen, Siti dan Umamah menjadi buruh perempuan yang ada dalam daftar pemetik kopi.
Bersama pemetik lainnya, Siti dan Umamah selalu setia memilih biji kopi merah seluas 1 hektar lebih itu.
“Kalau sudah musim panen kami selalu ikut sama Pak Inwan. Alhamdulilah kami masih diijinkan ikut sebagai buruhnya,” ujar Siti sambil menimbang hasil petiknya. ***
Editor : I Putu Suyatra