Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sekilas Tentang Sejarah Desa Penglatan: Terletak di Bali Utara, Ada Kaitannya dengan Kayu untuk Obat, Balian Sakti, Ada juga Toya Bulakan yang Unik

Dian Suryantini • Kamis, 25 Juli 2024 | 02:05 WIB
Tapal batas memasuki Desa Penglatan di Buleleng
Tapal batas memasuki Desa Penglatan di Buleleng

BALIEXPRESS.ID - Desa Adat Penglatan, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, Bali, memiliki sejarah yang kaya dan penuh dengan legenda serta cerita turun temurun.

Asal usul desa ini tidak memiliki catatan tertulis yang pasti dan lebih banyak didasarkan pada cerita rakyat dan logika pemikiran bersama.

Menurut penuturan para tetua desa, sejarah Desa Adat Penglatan merupakan hasil pemekaran dari Desa Bale Agung Tenaon yang berada di wilayah keprebekelan Desa Alasangker.

Desa Bale Agung Tenaon sendiri didirikan pada masa kepemimpinan I Gusti Panji Sakti di daerah Buleleng sekitar tahun 1619-1717.

Cerita berlanjut dengan kisah tujuh orang yang memutuskan untuk mendirikan tempat tinggal baru, yang kemudian dikenal sebagai "Saih Pitu".

Salah satu dari mereka dikenal sebagai dukun sakti yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit dengan obat-obatan yang dibuat dari kayu yang ada di sekitar desa.

Karena banyaknya kayu yang digunakan sebagai obat, desa ini kemudian disebut Desa Pengelatan, yang berasal dari kata "Pangeletan" (mengupas kulit kayu).

Sampai saat ini, keturunan dari Saih Pitu terus melaksanakan peran mereka sebagai dukun sakti atau Balian.

Salah satu keturunan yang terkenal adalah Jero Balian, yang memiliki kemampuan luar biasa dalam penyembuhan tanpa pernah belajar secara formal.

Beliau terkenal mampu menyembuhkan berbagai penyakit, bahkan hingga ke desa-desa tetangga seperti Sambangan, Lumbanan, Cempaga, Pedawa, Gobleg, Panji, dan sekitarnya.

Desa Penglatan juga memiliki mata air suci yang disebut Toya Bulakan atau Toya Anakan, yang dipercaya memiliki kemampuan menyembuhkan segala macam penyakit.

Air ini dianggap sangat suci dan digunakan dalam upacara-upacara penting, serta tidak boleh digunakan untuk mandi oleh wanita tanpa busana.

Desa Adat Penglatan, Desa Adat Bale Agung Tenaon, dan Desa Adat Jinengdalem memiliki hubungan yang erat dalam melaksanakan upacara keagamaan.

Warga dari desa-desa ini sering kali berkumpul bersama untuk bersembahyang, menunjukkan ikatan spiritual dan budaya yang kuat di antara mereka. ***

Editor : I Putu Suyatra
#balian #bali #Dukun Sakti #penglatan #sejarah #desa #buleleng