Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Hari Raya Tumpek Landep, Ini Kegiatan yang Dilakukan Pande Besi di Bali

I Dewa Gede Rastana • Sabtu, 27 Juli 2024 | 20:37 WIB
Tumpek Landep adalah hari dimana benda-benda tajam seperti keris diberikan upacara pengodalan atau otonan.
Tumpek Landep adalah hari dimana benda-benda tajam seperti keris diberikan upacara pengodalan atau otonan.
 
BALIEXPRESS.ID - Hari Raya Tumpek Landep merupakan momen spesial bagi I Ketut Margi, seorang Pande Besi asal Banjar Pande Batu Sangian, Desa Gubug, Tabanan. 
 
Baca Juga: AMOR ING ACINTYA! Penumpang Lansia Meninggal di KMP Nawesena Saat Tiba di Pelabuhan Padangbai
 
Pada hari istimewa ini, Margi selalu melakukan ritual pengodalan di Pura Pande di rumahnya dan di Perapen (tempat perapian Pande Besi).

Menurut Margi, Tumpek Landep, yang berarti tajam atau runcing, adalah hari dimana benda-benda tajam seperti keris diberikan upacara pengodalan atau otonan.
 
Baca Juga: Sejarah dan Cerita Unik Hindu Bali: Pura Alas Angker, Tempat yang Cocok untuk Peternak yang Alami Masalah

Namun, seiring waktu, upacara ini juga dilakukan untuk sepeda motor, mobil, dan berbagai peralatan elektronik karena semuanya terbuat dari besi.

“Kita tidak bisa menyalahkan adanya perkembangan itu karena peralatan itu juga terbuat dari besi,” ujarnya.
 
Baca Juga: Terbongkar! Oknum Polisi di Polresta Denpasar Diduga Selingkuhi Istri Orang sejak Bertugas di Jembrana

Sebagai pembuat keris yang sudah terkenal, Margi, ayah dua anak ini, rutin melakukan pengodalan untuk keris miliknya pada Hari Tumpek Landep. Menurutnya, keris merupakan salah satu elemen penting dalam perayaan ini sebagai wujud syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan manifestasinya sebagai Sang Hyang Pasupati.

Margi menjelaskan, dalam kehidupan sehari-hari, Hari Tumpek Landep dimaknai untuk mempertajam pikiran dalam menganalisis berbagai hal agar bisa memilah mana yang baik dan buruk.
 
Baca Juga: Beji Waringin Pitu: Tempat Melukat Tersohor di Bali dengan Tujuh Simbol Khusus

“Sedangkan jika dibawa ke kehidupan sehari-hari, Hari Tumpak Landep digunakan untuk mempertajam fikiran dalam menganalisis berbagai hal agar bisa memilah mana yang baik dan buruk,” lanjut pria yang sering dijuluki Mpu Keris tersebut.

Sebelum pengodalan, ia melakukan prosesi nyiramang terhadap keris dengan air kumkuman yang dilengkapi berbagai bunga. Setelah itu, keris dibersihkan dengan minyak cendana sebelum diberikan banten pengodal.
 
Hal serupa juga dilakukan pada alat Pande miliknya, termasuk Culik Api, yakni alat bantu pembakaran penting dalam pembuatan keris.
 
Baca Juga: Sosok Kompol Dewa Putu Werdhiana, Perwira Polresta Denpasar yang Dicopot hanya 22 Hari Menjabat Kasat Polairud

Bagi Margi dan komunitas Pande, Tumpek Landep sangat penting. Perapen, tempat pembakaran, merupakan identitas klan Pande yang terkenal dengan keahlian membuat senjata dan alat keagamaan dari besi atau logam.
 
Margi telah menggeluti keahlian turun temurun ini sejak tahun 1992. Di Banjar Pande Batu Sangian, ratusan kepala keluarga juga menggantungkan hidup pada profesi ini.
 
Keris buatan Margi sudah dipesan dari seluruh Bali dan beberapa negara seperti Belanda dan Timor-Leste.
 
Baca Juga: Truk Terguling di Denpasar Viral: Warganet Soroti Kecepatan dan Muatan Berat

Keris yang dibuat Margi memiliki keistimewaan pada unsur-unsur besi yang digunakan, yaitu besi Brahma, besi Wisnu (besi ireng), dan besi Iswara (besi Pamor), dengan lapisan paling rendah sebanyak 35 lapisan. Proses pembuatan keris melibatkan tiga kali upacara.

Margi menekankan bahwa keris adalah warisan budaya yang harus dirawat dan dilestarikan. Oleh karena itu, ia mendedikasikan hidupnya untuk membuat keris sekaligus melestarikan budaya.
 
Baca Juga: PENTING DIPERHATIKAN! Bagi Umat Hindu yang Mau Nangkil ke Pura Lempuyang Dilarang Menggunakan Daging Paling Populer di Bali Ini untuk Banten  

Selain membuat keris, Margi dan istrinya juga membuat blakas, pengrupak, dan pengutik sesuai permintaan dengan harga yang bervariasi.
 
Menurutnya, memande bukanlah sekadar profesi, tetapi juga bentuk pengabdian (ngayah) tanpa menetapkan harga tetap, melainkan berdasarkan kesulitan pembuatan. (*) 
Photo
Photo
Editor : I Dewa Gede Rastana
#Pande #Pande Besi #Piodalan #mpu keris #keris #Tumpek Landep #Culik api #tajam