Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah dan Asal Usul Nama Desa Mas, Pusat Pemahat Kayu di Bali yang Telah Mendunia Sejak 1930-an: Ada Kaitannya dengan Kisah Maharsi Agastya

I Putu Suyatra • Selasa, 20 Agustus 2024 | 19:41 WIB

Desa Mas, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali.
Desa Mas, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali.
   

BALIEXPRESS.ID - Desa Mas, yang terletak di Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, telah menjadi ikon pariwisata yang terkenal di kalangan wisatawan mancanegara dan domestik sejak tahun 1930-an.

Desa ini dikenal sebagai pusat seni pahat kayu (wood carving) di Pulau Bali, dengan mayoritas penduduknya menggantungkan hidup sebagai pemahat kayu.

Selain itu, mereka juga mengelola lahan pertanian sawah dan ladang yang subur.

Desa Wisata Mas tidak hanya menawarkan keahlian seni ukir yang mendunia, tetapi juga menghadirkan keindahan alam persawahan yang asri.

Desa ini menjadi cerminan dari konsep kehidupan "Tri Hita Karana," yang mengajarkan pentingnya keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan alam.

Dengan kombinasi kerajinan tangan, seni budaya, dan keindahan alam yang memukau, Desa Mas menjadi destinasi yang wajib dikunjungi bagi siapa pun yang ingin merasakan nuansa autentik Bali.

Lalu seperti apa sejarah dan asal usul nama Desa Mas tersebut? 

Dikutip dari website Desa Mas disebutkan, dalam naskah kuno yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, terdapat kisah menarik tentang Maharsi Agastya pada tahun 1250 Saka.

Dikisahkan, Maharsi Agastya memiliki dua istri yakni Ida Istri Wyati dan Ida Istri Maya.

Ketika istri keduanya, Ida Istri Maya, tengah mengandung tujuh bulan, terjadi peralihan zaman dari masa Kali menuju Kerta.

Perubahan ini dirasakan sangat kuat di kediaman Maharsi, sehingga timbul keinginan kuat dalam diri Maharsi Agastya untuk kembali ke tanah Jawa bersama istri keduanya yang segera melahirkan.

Perjalanan panjang ini membawa Maharsi Agastya dan istrinya menuju arah barat, melewati lembah ilalang yang terletak di sebelah barat Desa Dharma Anyar dan Desa Tangkulak.

Di tengah perjalanan, karena kelelahan dan rasa sakit yang dialami istrinya, Maharsi Agastya memutuskan untuk berhenti sejenak.

Di tempat inilah, Ida Istri Maya melahirkan seorang bayi laki-laki yang sudah mengenakan ganitri dan menggenggam bajra.

Namun, bayi tersebut merasa kepanasan di dataran itu, sehingga Maharsi melanjutkan perjalanan ke selatan.

Mereka tiba di dataran ilalang lain, dan saat bayi menangis, Maharsi menancapkan tongkatnya ke tanah.

Tongkat itu kemudian tumbuh menjadi pohon yang dikenal sebagai Taru Ungu.

Pohon ini akhirnya berkembang besar, berbunga, dan bijinya bersari emas.

Dalam sabda terakhirnya, Maharsi Agastya berpesan kepada istrinya tentang dataran suci itu.

Dahulu, tempat ini dikenal sebagai Tegal Tajun, tempat Bhatara Mahaguru mencapai kelepasan pada tahun 1250 Saka.

Maharsi meramalkan bahwa dataran ini akan dikenal sebagai Desa Mas di masa depan.

Keajaiban tempat ini begitu luar biasa sehingga bahkan pohon mati yang ditanam di sini akan tumbuh kembali dan menghasilkan biji yang bersari emas.

Batang pohon tersebut menjadi simbol nyawa dan kesejahteraan bagi para penghuni Desa Mas.

Kisah sakral ini tidak hanya memberikan gambaran tentang perjalanan spiritual Maharsi Agastya tetapi juga asal-usul Desa Mas yang kini dikenal dengan keajaiban dan kesuburannya.

Legenda ini menjadi warisan berharga bagi masyarakat Bali, yang percaya bahwa Desa Mas adalah tempat yang diberkati dengan kekuatan mistis yang menjaga kesejahteraan dan kemakmuran mereka. ***

 
Editor : I Putu Suyatra
#bali #ubud #gianyar #desa mas #pahat kayu #sejarah #pertanian #wisata