Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

TAK BANYAK YANG TAHU! Gadis Cantik dengan Kecantikan Pembawa Bencana Jadi Asal Usul Nama Desa Beraban, Lokasi Pura Tanah Lot Bali

I Putu Suyatra • Jumat, 23 Agustus 2024 | 05:05 WIB
Parade Gebogan yang diselenggarakan dalam setiap event di Tanah Lot menjadi Daya Tarik utama wisatawan.
Parade Gebogan yang diselenggarakan dalam setiap event di Tanah Lot menjadi Daya Tarik utama wisatawan.

BALIEXPRESS.ID - Nama Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, tidak setenar Pura Tanah Lot. 

Padahal, Pura Tanah Lot yang mendunia dan menjadi salah satu andalan pariwisata Bali ini berada di Desa Beraban. 

Yang menarik dari Desa Beraban adalah, sejarah dan nama Desa Beraban itu ternyata berawal dari kecantikan yang mengundang bencana. 

Dikutip dari website Desa Beraban, sejarah desa ini tercantum pada kulit lontar yang bertuliskan Empu Pranadnyana Siwa 2.

Selain itu, asal usul Desa Beraban ini diperoleh dari sumber-sumber yang dapat dipercaya, termasuk cerita rakyat dan prasasti berupa lontar tua yang masih tersimpan di keluarga Desa Beraban, tepatnya di Geria Batu Buah. 

Lontar Empu Pranadnyana Siwa 2 tersebut mencatatkan tahun Icaka 1116, yang menandai awal cerita tentang permusyawarahan para Empu di Toh Langkir (Gunung Agung).

Diceritakan pula tentang masa keemasan Dinasti Dalem di Gelgel, pergeseran pemukiman di Desa Beraban, dan kedatangan Dang Hyang Dwijendra di Pura Tanah Lot.

Asal usul nama Desa Beraban sendiri terkait erat dengan peristiwa perpindahan pemukiman penduduk yang semula berada di sepanjang pantai menuju ke daerah yang lebih ke tengah.

Pemukiman di pesisir pantai bermula sejak kedatangan Dalem Kresna Kepakisan ke Bali pada tahun 1380.

Beliau diiringi oleh para Arya, para Rsi, dan pengikut lainnya. Salah satu tempat yang dianggap suci adalah Sila Ngungang, yang kini dikenal sebagai Batungaus, di sebelah timur Pura Tanah Lot.

Beberapa pengikutnya menetap dan membangun pemukiman di sepanjang pantai ke arah barat.

Nama-nama pemukiman tersebut disesuaikan dengan kondisi alam dan lingkungan, seperti Batu Ngemped, Batu Gang, dan lainnya.

Di dalam lontar Empu Pradnyana Siwa, diceritakan pula tentang seorang gadis cantik yang lahir dari "Pilahingwatu" bernama Parieng Waringin.

Kecantikannya mengundang bencana ketika Ki Dawang, seorang pelarian dari Kunir Lidah (sekarang disebut Nyitdah), mencoba menggoda gadis tersebut, yang akhirnya menimbulkan kegaduhan di seluruh pemukiman.

Kejadian ini dikenal sebagai "Keberebehan Dening Kala." Untuk menenangkan situasi, para Rsi atau Bagawanta mendirikan Pura Prahahyangan yang sekarang disebut Pura Kali Pisang, yang terletak di Pangkung Tibah, sebelah barat Desa Beraban.

Dari kata "Berebehan" inilah nama Desa Beraban muncul.

Pada masa pemerintahan Dalem, khususnya Dalem Baturenggong, struktur politik dan kenegaraan Keraton Gelgel lebih mendekati sistem Negara Kesatuan.

Penguasa daerah di Bali bertanggung jawab langsung kepada Gelgel.

Dengan restu dari Gelgel, Ki Bendesa Beraban diangkat sebagai penguasa Desa Beraban, didampingi oleh para Rsi atau Bagawanta.

Pada saat itulah Dang Hyang Dwijendra datang ke Desa Beraban dan melakukan penyucian diri di "Gili Bio," yang sekarang dikenal sebagai Pura Tanah Lot.

Sebelum meninggalkan Desa Beraban, Dang Hyang Dwijendra menghadiahkan sebuah keris pusaka bernama "Ki Baru Gajah" kepada Ki Bendesa Beraban.

Keris ini kemudian terbukti ampuh ketika Ki Bendesa Beraban mengalahkan Ibhuta Raja Kala Bebaung di Baliling (Buleleng).

Sebagai imbalan, Ki Bendesa Beraban menuntut janji kepada Ida Dalem, yang akhirnya menyerahkan permaisurinya yang sedang hamil tua, dengan syarat agar tidak dicampuri sebelum kandungan tersebut lahir.

Putra Dalem lahir di Nyitdah dan diberi nama Satrya Pungakan Dalem.

Setelah beberapa tahun, keris tersebut berpindah tangan ke Arya dan kini disimpan di Puri Kediri.

Pada tahun 1686, ketika Kerajaan Dalem pindah dari Gelgel ke Klungkung (Puri Semara Pura), politik dan sistem kenegaraan berubah mendekati sistem konfederasi, dengan Klungkung tidak lagi sebagai penguasa politik tertinggi.

Saat itu pula, Kerajaan Mengwi mencapai puncak kejayaannya dan sempat menghancurkan Desa Beraban dalam ekspansinya.

Setelah runtuhnya Mengwi, terjadi lagi perpindahan pemukiman penduduk.

Perubahan ini menjadi tonggak awal pembenahan struktur Desa Beraban, dengan lahirnya beberapa banjar atau dusun.

Seiring waktu, Desa Beraban mulai berbenah diri dan mengaktifkan masing-masing banjar di wilayahnya.

Nama-nama banjar tersebut berkaitan erat dengan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi, termasuk kisah seorang gadis cantik bernama Parieng Waringin yang membawa bencana.

Struktur desa ini bahkan diibaratkan sebagai tubuh si Parieng Waringin, dengan banjar-banjar yang mewakili bagian-bagian tubuhnya.

Desa Beraban terus berkembang, mengikuti perubahan zaman dan era pembangunan, namun tetap mempertahankan identitas dan sejarahnya yang kaya akan nilai budaya dan tradisi. ***

 
Editor : I Putu Suyatra
#bali #bencana #asal usul #gadis cantik #pura tanah lot #sejarah #tabanan