Menelusuri Misteri Desa Nongan: Asal Usul Nama, Sejarah, dan Legenda Bali dan Kaitannya dengan Keturunan Tionghoa Lie Sing Wat
I Putu Suyatra• Sabtu, 24 Agustus 2024 | 21:06 WIB
Perayaan Imlek komunitas Tionghoa di Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali.
BALIEXPRESS.ID - Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali, terletak di ketinggian 450–500 meter di atas permukaan laut.
Dengan lokasi itu, Desa Nongan menawarkan suasana pedesaan yang asri dan sejuk. Dari sini, panorama megah Gunung Agung yang menjulang tinggi di utara menjadi pemandangan yang memukau.
Perjalanan dari Denpasar ke desa ini memerlukan waktu sekitar 90 menit, sejauh 60 kilometer.
Namun, pesona Desa Nongan tidak hanya terletak pada keindahan alamnya.
Dikutp dari website Desa Nongan, desa ini menyimpan sejarah panjang dan penuh misteri yang menarik untuk diungkap.
Menurut babad dan prasasti kuno, Nongan adalah tempat yang sarat dengan cerita tentang para raja, peperangan, dan tokoh-tokoh legendaris.
Asal Usul Nama Nongan: Antara Legenda dan Sejarah
Asal mula nama "Nongan" memiliki banyak versi. Salah satu cerita menyebutkan bahwa nama ini berasal dari kata "Neng" yang berarti tinggal atau kosong, mencerminkan wilayah yang dulunya tak berpenghuni.
Versi lain mengaitkan Nongan dengan kata "Naungan" yang berarti mendapat perlindungan, yang kemudian berubah menjadi "Nongan".
Ada juga kisah yang menghubungkan Desa Nongan dengan legenda Mayadenawa, penguasa Gunung Tohlangkir (Gunung Agung).
Konon, setelah peperangan sengit melawan Dewa Indra, Mayadenawa melarikan diri ke wilayah yang kini dikenal sebagai Nongan, tempat yang dulu sepi dan kosong. Untuk mengenang suasana tersebut, nama "Nongan" pun dipilih.
Peninggalan Bersejarah: Prasasti dan Silsilah Raja
Prasasti Pande Besi Gujaga yang dicetuskan oleh Raja Gelgel pada tahun 1405 Masehi mengungkapkan bahwa wilayah Nongan telah dihuni sejak lama.
Di sini, terdapat penglingsir atau pemimpin adat bernama I Bendesha Adat Bujaga yang berkuasa di wilayah tersebut.
Sebelum tahun 1779, Nongan sudah memiliki seorang raja, I Gusti Nyoman Rai, yang diperintahkan oleh I Gusti Nengah Sibetan untuk menguasai desa ini.
Jejak sejarah ini terbukti dari peninggalan prasasti di Gandawari Bale Pelik di Merajan Raja Nongan.
Keterkaitan dengan Masyarakat Tionghoa
Desa Nongan juga memiliki hubungan dengan keturunan Tionghoa. Pada tahun 1824, warga keturunan Tionghoa dari Lie Sing Wat diperintahkan oleh Raja Karangasem untuk membantu Raja Nongan menjaga wilayah tersebut.
Keturunan Lie Sing Wat kemudian berkembang menjadi masyarakat Tionghoa di Desa Lampu dan Kembang Sari, Kabupaten Bangli.
Keunikan Desa Nongan: Gotong Royong dan Kehidupan Sosial
Selain sejarahnya yang kaya, Desa Nongan juga dikenal dengan kehidupan sosial yang erat dan penuh gotong royong.
Masyarakatnya bergantung pada sektor pertanian, terutama Salak Bali, kelapa, padi, dan umbi-umbian.
Di sektor industri, masyarakat menjalankan usaha di bidang jajanan tradisional dan jasa.
Hubungan erat antarwarga terlihat dalam kegiatan sehari-hari seperti olahraga bersama, gotong royong, dan saling membantu saat ada yang membutuhkan.
Kehidupan yang harmonis dan penuh kebersamaan ini menjadikan Desa Nongan sebagai tempat yang tidak hanya menarik dari segi sejarah, tetapi juga dari sisi kehidupan sosialnya.
Desa Nongan, Perpaduan Sejarah, Legenda, dan Kehidupan Sosial
Desa Nongan bukan hanya sekadar desa di lereng Gunung Agung. Di balik keindahan alamnya, terdapat sejarah panjang dan legenda yang menjadikannya kaya akan budaya dan tradisi.
Keunikan sejarah dan kehidupan sosialnya membuat Nongan menjadi desa yang penuh daya tarik dan layak untuk dijelajahi lebih dalam. ***