Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menguak Misteri Sejarah Transmigrasi Bali di Desa Warnasari: Mitos, dan Kisah Perjuangan di Balik Hutan Belantara

I Putu Suyatra • Minggu, 25 Agustus 2024 | 15:47 WIB
Desa Warnasari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali.
Desa Warnasari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali.

BALIEXPRESS.ID - Desa Warnasari, sebuah desa dengan sejarah yang kaya dan misteri yang masih menyelimuti hingga kini di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali.

Bagaimana mungkin sebuah desa yang kini menjadi tempat tinggal banyak warga Bali berasal dari hutan belantara yang penuh dengan kisah mistis dan perjuangan?

Sejarah mencatat, Desa Warnasari dulu adalah hutan lebat yang menjadi tempat berburu binatang buas, seperti dikutip dari website Desa Warnasari.

Namun, apa yang membuat desa ini begitu istimewa adalah sulitnya melacak awal mula keberadaannya karena minimnya bukti sejarah yang tersisa.

Prasasti, babad, dan artefak yang ditemukan memberikan petunjuk, tetapi kebenaran sejarah desa ini tetap terselubung dalam kabut waktu.

Kisah dimulai pada tahun 1934, ketika beberapa warga Desa Batu Agung mencoba merabas hutan untuk dijadikan pemukiman.

Sayangnya, usaha ini gagal karena serangan penyakit yang mematikan.

Menurut cerita yang berkembang, kegagalan ini disebabkan karena mereka tidak meminta izin terlebih dahulu kepada penghuni gaib hutan.

Atas saran seorang paranormal, para pendatang kembali mencoba merabas hutan, kali ini dengan mendirikan Tugu (sanggah) sebagai tempat pemujaan di atas bukit.

Mereka berharap dengan memohon perlindungan dan keselamatan kepada Tuhan, upaya mereka akan diberkati.

Dan benar saja, di tanah yang sama ditemukan artefak kuno seperti lempeng emas, keris, dan tombak yang menjadi bukti perjalanan laskar raja Pecangakan pada zaman Bali Kuno.

Pada tahun 1939, seorang penggawa dari Jembrana menawarkan program transmigrasi lokal.

Tak lama setelah desa-desa tua seperti Dauh Waru, Batu Agung, dan Pendem berdiri, sekitar tahun 1941 hingga 1947, kelompok-kelompok dari Desa Dauh Waru mulai membuka hutan di sekitar Banjar Palalinggah.

Mereka mendirikan sebuah tugu sebagai tanda awal pembukaan hutan, yang kemudian dikenal sebagai Pura Kawitan.

Gelombang berikutnya datang dari berbagai daerah di Bali, seperti Bangli, Karangasem, dan Buleleng, terutama setelah letusan Gunung Agung pada tahun 1963.

Mereka terus merabas hutan hingga terbentuk Banjar Warnasari Kelod, Banjar Warnasari Kaja, dan Pucaksari.

Nama Warnasari sendiri mengandung makna yang mendalam.

Ada yang mengatakan bahwa "Warna" melambangkan keragaman penduduk desa ini yang berasal dari berbagai penjuru Bali, sedangkan "Sari" berarti merta atau penghidupan, menggambarkan tujuan para pendatang untuk mencari kehidupan baru.

Ada pula yang menafsirkan "Wana" berarti hutan, dan "Sari" berarti bunga, menggambarkan keberagaman flora yang ditemukan saat membuka hutan.

Dari berbagai penuturan dan hasil pengkajian, Desa Warnasari merupakan cerminan keragaman sosial budaya dan adat istiadat yang berakar dari berbagai kabupaten di Bali.

Keberagaman inilah yang menjadikan Warnasari sebagai desa yang unik dan kaya akan nilai-nilai budaya.

Desa Warnasari bukan sekadar tempat, tetapi juga sebuah kisah perjuangan, kepercayaan, dan keberanian yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Hingga kini, desa ini menyimpan banyak cerita yang belum terungkap, menunggu untuk ditemukan oleh mereka yang berani menggali lebih dalam. *** 

 

 
Editor : I Putu Suyatra
#bali #Desa Warnasari #melaya #sejarah #transmigrasi #jembrana