Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengungkap Sejarah Desa Guwang: Dari Girang hingga Guwang, Perubahan Nama yang Mengandung Makna Mendalam

I Putu Suyatra • Minggu, 25 Agustus 2024 | 17:45 WIB
Hidden Canyon menjadi salah satu daya tarik Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali.
Hidden Canyon menjadi salah satu daya tarik Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali.

BALIEXPRESS.ID - Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, salah satu desa bersejarah di Bali, menyimpan cerita panjang yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Berdasarkan lontar prasasti dan catatan sejarah dari Jero Anyar Guwang serta Pura Payogan Kahyangan Agung di Desa Ketewel, seperti dikutip dari website Desa Guwang, pembentukan Desa Guwang berkaitan erat dengan desa-desa di sekitarnya seperti Desa Ketewel, Desa Jerem, Desa Rangkan, dan Desa Sukawati.

Sejarah mencatat bahwa Desa Guwang, bersama Desa Rangkan dan Desa Sukawati, dulunya berada di bawah satu pemerintahan yang sama.

Hal ini didukung oleh temuan peninggalan seperti bangunan, peralatan upacara agama, dan patung yang menunjukkan adanya kesamaan budaya di antara desa-desa tersebut.

Menurut catatan, desa-desa ini sudah ada sejak abad ke-7 atau ke-8, jauh sebelum Ida Dalem Cili Sri Kresna Kepakisan memerintah Bali.

Awalnya dikenal sebagai Desa Girang, wilayah ini berada di bawah pemerintahan tiga bersaudara keturunan Arya Kenceng: I Gusti Wangaya di Desa Alas Jerem, I Gusti Ketut Jawa di Desa Alas Girang, dan I Gusti Tegalayu di Desa Alas Angker.

Ketiga arya ini sebelumnya tinggal di Badung namun pemerintahan mereka tidak bertahan lama karena kurangnya perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat.

Setelah periode pemerintahan ketiga arya, Desa Girang, Desa Alas Jerem, dan Desa Timbul dikepalai oleh I Gusti Maruta, seorang arya yang juga tidak bertahan lama.

Pemerintahan I Gusti Maruta berakhir tragis ketika ia dibunuh oleh penduduk karena kesalahan moralnya di Desa Alas Jerem, sesuai dengan perintah Dalem Barenggong.

Cikal bakal Desa Guwang berasal dari keturunan Satria Dalem, cucu dari Dalem Jambe (Ida I Dewa Agung Jambe).

Ida I Dewa Agung Anom Sukawati, pemimpin Desa Sukawati, memiliki empat putra yang berbakat dalam berbagai bidang: Ida I Dewa Agung Karna yang ahli kebatinan dan seni, Ida I Dewa Agung Jambe yang beryoga di Desa Alas Girang, Ida I Dewa Mayun yang ahli perang di Desa Peliatan, dan Ida I Dewa Agung Ketut yang menggantikan ayahnya sebagai Raja Sukawati.

Dengan kerjasama antara keturunan Satria Dalem dan dukungan dari kakak-kakaknya, kerajaan Timbul (Sukawati) semakin kuat.

Ketika Cokorda Nagi, putra ketiga dari Ida I Dewa Agung Jambe, lebih memilih untuk mengembara, kekosongan di Desa Girang diisi oleh Ida Cokorda Raka Putu Tabanan, keturunan Satria Dalem yang sakti.

Perubahan nama dari Desa Girang menjadi Desa Guwang mencerminkan perubahan bahasa Astronesia.

'Girang' yang berarti 'suka' atau 'senang', diubah menjadi 'Guwang'.

Dalam bahasa Bali, 'Gu' berarti 'guna dhika' atau kebijaksanaan, dan 'Wang' berarti 'orang'.

Jadi, 'Gu' dan 'Wang' bersama-sama berarti 'orang bijaksana'. Nama Guwang menggambarkan kepemimpinan bijaksana yang diharapkan oleh masyarakat saat itu.

Dengan semua perubahan dan peristiwa sejarah yang membentuk Desa Guwang, desa ini terus menjadi simbol dari kekayaan budaya dan spiritualitas Bali, dengan nama yang melambangkan kebijaksanaan dan kepemimpinan yang adil. *** 

 

 
JUARA: Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo saat menyerahkan penghargaan.
JUARA: Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo saat menyerahkan penghargaan.
Editor : I Putu Suyatra
#bali #gianyar #desa guwang #sejarah #sukawati