Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menguak Sejarah Unik Bali di Desa Penglumbaran: Asal Usu Namanya Ternyata Ada Kaitannya dengan Kerbau dan Yadnya di Pura Kehen, Bangli

I Putu Suyatra • Senin, 26 Agustus 2024 | 19:14 WIB

Salah satu kegiatan di Desa Penglumbaran, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, Bali.
Salah satu kegiatan di Desa Penglumbaran, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, Bali.

BALIEXPRESS.ID - Desa Penglumbaran, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, Bali, sebuah nama yang hingga kini masih menyimpan misteri asal-usulnya, memiliki cerita yang menarik jika ditelusuri lebih dalam.

Secara leksikal, kata "Penglumbaran" diduga berasal dari kata "umbar" atau "mengumbar," yang berarti memberikan kebebasan di suatu tempat, seperti mengembalakan ternak.

Dari sinilah muncul interpretasi bahwa Desa Penglumbaran awalnya mungkin merujuk pada suatu daerah yang cocok untuk pengembalaan ternak atau pemeliharaan ternak.

Namun, sejarah pemberian nama Desa Penglumbaran tidak berhenti pada penafsiran leksikal semata.

Dikutip dari website Desa Penglumbaran, berdasarkan sumber "Pepakem Bangli," nama Penglumbaran awalnya digunakan untuk menamai sebuah area pengembalaan kerbau.

Kerbau-kerbau yang digembalakan di sana adalah sisa dari ternak yang digunakan untuk upacara di Pura Kehen, Bangli.

Area pengembalaan ini memiliki batas utara hingga SD I Tiga, dengan sengkedan (pangkedan) yang membentang dari barat ke timur untuk mencegah kerbau bergerak ke utara.

Di sebelah selatan, batas wilayahnya adalah Pura Dalem Penglumbaran Kawan, dengan pagar yang dibuat untuk mencegah kerbau melewati batas selatan.

Pada masa itu, Penglumbaran masih merupakan satu kesatuan yang terdiri dari Penglumbaran Kawan, Penglumbaran Kangin, dan Penglumbaran Anyar (Desa Tiga).

Daerah ini sepenuhnya dimiliki oleh Puri Kilian Bangli.

Salah satu bukti sejarah yang masih ada hingga kini adalah Pura Penungsungan di tepi selatan Jalan Dusun Tiga Kangin, yang dulunya digunakan untuk memuja Dewi Ludra, agar ternak yang dipelihara dapat hidup dan berkembang biak dengan baik.

Tradisi penggembalaan kerbau di Penglumbaran dimulai sejak pemerintahan Raja Bangli pertama, I Dewa Gede Den Bencingah.

Menurut sejarah Bali yang diterbitkan oleh Departemen Agama Hindu Provinsi Bali, kerajaan Bangli diperkirakan berdiri pada tahun 1686 Masehi (abad ke-17) setelah runtuhnya Kerajaan Gelgel.

Namun, praktik penggembalaan ini berakhir pada masa pemerintahan I Dewa Gede Taman, ketika cara-cara baru untuk memperoleh kerbau bagi upacara mulai diterapkan.

Pemberian nama Penglumbaran dan perkembangan desa ini memiliki sejarah yang kompleks, terutama setelah pembagian wilayah oleh Raja Bangli, I Dewa Gede Taman.

Desa ini kini terdiri dari 8 Banjar Adat, meskipun secara administratif hanya terdapat 7 Desa/Banjar Adat.

Desa Penglumbaran yang sekarang dikenal berasal dari Penglumbaran Kawan, yang juga merupakan asal dari kepala desa pertama.

Berikut ini adalah daftar 5 kepala desa yang pernah menjabat di Desa Penglumbaran sejak tahun 1946:

  1. Ida Kakiang Gunung
  2. Ida Aji Lempung
  3. Ida Aji Gunung
  4. Ida Bagus Benceng
  5. I Wayan Rantun

Meskipun sudah banyak informasi yang digali, tahun masa pemerintahan Raja-raja Bangli hingga kini belum memiliki bukti sejarah yang autentik.

Asal Usul Dusun dan Banjar di Desa Penglumbaran

  1. Dusun/Banjar Penglumbaran Kawan
    Para leluhur Dusun Penglumbaran Kawan awalnya hanya berjumlah enam orang yang merupakan abdi setia Kerajaan Bangli. Sebagai tanda jasa, Raja Bangli (Dewa Ayu Den Bencungah) memberikan mereka lahan seluas 11 hektar di Penglumbaran Kawan, dengan tugas utama memelihara ternak kerbau.

  2. Dusun/Banjar Tiga Kawan
    Berdasarkan cerita yang dituturkan oleh I Wayan Margi, penduduk Dusun Tiga Kawan berasal dari Desa Penglipuran. Awalnya, wilayah ini masih berupa hutan lebat yang kemudian disarankan oleh Mekel Tiga untuk dijadikan pemukiman, sebelum Gunung Batur meletus sekitar tahun 1971.

  3. Dusun/Banjar Serai, Kembangmerta, dan Temen
    Ketiga dusun ini memiliki nenek moyang yang berasal dari Desa Tanggahan Peken, Sulahan. Awalnya, masyarakat yang tinggal di Serai berjumlah tujuh kepala keluarga, termasuk Mekel Tanggahan Peken. Nama Dusun Serai berasal dari satu kepala keluarga yang merupakan abdi Puri Kilian Bangli, yang diberikan tempat tinggal di wilayah ini.

  4. Dusun/Banjar Seribatu
    Dusun Seribatu awalnya bernama Batu Sari, yang diganti menjadi Seribatu oleh penjajah Belanda. Nama ini muncul ketika Jro Gede Alitan, seorang pemimpin adat sakti dari Banjar Lebah, menetap di wilayah ini setelah mendapat perintah dari Raja Bangli. Desa ini memiliki banyak pura sebagai tanda batas wilayahnya, dan adat istiadatnya sama dengan Desa Adat Batur.

  5. Dusun/Banjar Mancingan
    Dusun Mancingan memiliki sejarah yang terkait dengan pertempuran antara Kerajaan Bangli dan Kerajaan Gianyar. I Made Rendeh, pemimpin dari Dusun Mancingan Gianyar, melarikan diri ke Bangli dan diberi tempat tinggal oleh Raja Bangli. Sebagai kenangan akan leluhurnya, daerah tersebut kini disebut Mancingan.

  6. Dusun/Banjar Maletgusti
    Dusun Maletgusti berasal dari wilayah yang sama dengan Malet Gede, Malet Kutemesir, dan Malet Delod di Desa Manukaya. Nama "Malet" berasal dari "Air Malet," dengan bukti adanya lingga yang bergambarkan dua telapak kaki di Pura Penataran Malet Gede. Sejarah leluhur Dusun Maletgusti terkait dengan utusan dari Puri Pemecutan, Denpasar, yang ditugaskan menjadi Patih di Taman Bali.

Desa Penglumbaran, dengan sejarahnya yang kaya dan kompleks, masih menyimpan banyak kisah yang belum terungkap sepenuhnya.

Dari penggembalaan kerbau hingga pertempuran kerajaan, desa ini menjadi saksi bisu perjalanan waktu yang panjang.

Melalui pelestarian tradisi dan penelusuran sejarah, Penglumbaran akan terus menjadi bagian penting dari warisan budaya Bali yang berharga. ***

Editor : I Putu Suyatra
#kerbau #bali #asal usul #susut #bangli #sejarah #pura kehen #Penglumbaran