Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengungkap Sejarah Desa Muncan: Dari Mata Air Muncrat hingga Gelar Desa Manca

I Putu Suyatra • Minggu, 1 September 2024 | 19:17 WIB
Desa Muncan, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali
Desa Muncan, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali

BALIEXPRESS.ID - Desa Muncan, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali, yang dikenal dengan keindahan mata airnya, memiliki sejarah yang kaya dan menarik.

Nama Desa Muncan sendiri mencuri perhatian dari brosur yang tersebar saat Karya Manca Walikrama Pura Besakih pada April 1960.

Nama-nama tempat seperti Desa Kanyuruhan, Baledan, Yeh Patal, Yeh Lenggung, dan Gunung Toh Langkir tertera dalam brosur tersebut, dan diperkirakan diambil dari Prasasti Jaya Pangus atau Raja Purana Besakih.

Dikutip dari website Desa Muncan disebutkan, transformasi bahasa membuat nama Muncan terlahir dari nama-nama seperti Sebetan menjadi Sibetan, Manteb menjadi Muntab, dan Mancan menjadi Muncan.

Namun, sejarah Desa Muncan tidak hanya berhenti pada perubahan nama.

Legenda lokal menceritakan tentang seorang Brahmana bernama Ida Gede Padang Rata yang menetap di sekitar Mata Air Yeh Babah, dekat dengan Mata Air Petung yang juga vital untuk pertanian di desa tersebut.

Sumber mata air ini, terhindar dari letusan Gunung Agung, memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk irigasi maupun sebagai sumber air bersih yang mengalir hingga ke desa Sangkakan Gunung dan Tangkup.

Di barat Desa Muncan, terdapat Mata Air Kelebut yang konon dulunya memancarkan air dengan ketinggian yang menakjubkan, memberikan nama “Muncan” yang berarti “muncrat”.

Geografi Desa Muncan menambah keunikan ceritanya, terletak di kaki Gunung Agung dan dikelilingi oleh aliran Sungai Tukad Barak dan Yeh Unda di timur, serta desa Pejeng dan Tukad Yeh Telaga Waja di barat.

Ketinggian Gunung Agung yang megah dan pertemuan sungai di selatan menambah keindahan lanskap desa ini.

Seiring berjalannya waktu, Desa Muncan pernah mendapatkan gelar Desa Manca, yang menunjukkan wilayah kekuasaan yang lebih kecil dari kecamatan.

Namun, seiring dengan perkembangan desa, gelar tersebut dipindahkan ke desa Sidemen.

Dalam aspek kependudukan, menurut cerita rakyat, Desa Muncan menjadi tempat pengungsi dari lereng Gunung Agung, yang kini dikenal sebagai Desa Pala Tuwuh.

Sejak 1920, seorang Pendanda bernama Pedanda Gede Manduang melakukan pembaharuan dalam aspek keagamaan di Geria Gunung Biau, menciptakan kesamaan dalam kebiasaan penduduk.

Pada masa pemerintahan Ida I Gusti Anglurah Sidemen, keturunannya mendirikan Pura Linjong dan memimpin pengembangan tata kehidupan beragama di Desa Muncan.

Pura-pura seperti Pura Panti dan Pura Penataran dibangun, dan setelah 1879, I Gusti Nyoman Kebon membuat Jero yang kini dikenal sebagai I Gusti Nengah Sibetan.

Beliau dan keturunannya menetap di Desa Muncan dan mengadakan musyawarah untuk menata desa, berpedoman pada Piteket “Empu Kuturan” dari Pura Besakih, serta memuja Dewa Nawa Sanga.

Salah satu aspek menarik adalah Kulkul Kayu Gede yang memiliki ukuran 4 meter, digunakan dalam upacara penting seperti Usaba Gede, tahun baru Caka, dan saat-saat genting.

Kulkul ini tidak hanya menjadi simbol pemulihan Sang Hyang Iswara tetapi juga merupakan lambang kekuatan dan kekeluargaan Desa Muncan.

Sejarah Desa Muncan, dari mata air yang muncrat hingga perjalanan menuju Gelar Desa Manca, menggambarkan kekayaan budaya dan keagamaan yang membentuk identitasnya hingga saat ini. *** 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #asal usul #sejarah #karangasem #selat #muncan