BALIEXPRESS.ID - Pulau Dewata --julukan Pulau Bali, menyimpan sejarah panjang yang penuh warna, di mana kerajaan-kerajaan kuno berdiri kokoh, saling menguasai, dan terkadang tunduk pada kekuatan lain.
Salah satu kisah menarik datang dari Desa Sibang, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, yang pada masa lalu merupakan bagian dari kerajaan besar Mengwi.
Kerajaan Mengwi dan Kekuasaan yang Berubah
Pada abad ke-14, dikutip dari website Desa Sibanggede, Bali mencapai masa keemasan di bawah kepemimpinan Dalem Çri Batur Enggong, yang berhasil membebaskan diri dari kekuasaan Majapahit di Jawa.
Gelgel menjadi pusat pemerintahan, namun kejayaan ini tak bertahan lama.
Pada tahun 1651, Keraton Gelgel hancur akibat perebutan kekuasaan yang dipimpin oleh Kiayi Agung Maruti, Patih Agung pada saat itu.
Perebutan ini menyebabkan Bali terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil, dengan Mengwi sebagai salah satu yang paling berpengaruh.
Perjuangan Mengwi di Bawah Cokorda Sakti Blambangan
Mengwi, di bawah kepemimpinan Cokorda Sakti Blambangan, berhasil memperluas wilayahnya hingga mencakup Jembrana di barat, Blambangan di Jawa Timur, dan daerah-daerah penting lainnya.
Pada masa ini, Desa Sibang di sisi timur aliran sungai Ayung mulai dikenal, dengan wilayahnya yang dijuluki "Saibang" karena dihiasi oleh tanaman Pucuk Baang (kembang sepatu merah) yang membuat daerah ini selalu terlihat merah menyala dari kejauhan.
Namun, intrik politik tak pernah jauh dari pusat kekuasaan.
Ketika Cokorda Sakti Blambangan mangkat, putranya, Cokorda Agung Made Banya, mengambil alih tahta.
Saat sedang melakukan inspeksi ke Blambangan, pengawasan kerajaan di Mengwi diserahkan sementara kepada saudaranya, I Gusti Agung Made Kamasan.
Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Made Kamasan untuk merebut kekuasaan, namun gagal ketika Cokorda Agung Made Banya kembali.
Pemberontakan dan Peperangan yang Mengubah Sejarah
I Gusti Agung Made Kamasan tak patah semangat. Didukung oleh para pengikut setianya, ia melancarkan serangan untuk merebut kembali kekuasaan di Mengwi.
Setelah berhasil menaklukkan desa-desa seperti Sempidi, Lukluk, dan Angungan, ia kemudian mendirikan puri di Tegal dan memulai serangan terhadap Sibang Serijati yang dipimpin oleh Pasek Karang Buncing.
Meskipun perlawanan sengit diberikan oleh Karang Buncing, kekuatan pasukan Made Kamasan akhirnya berhasil merebut kembali Sibang Serijati, menjadikan daerah ini sebagai pusat kekuasaannya.
Keruntuhan Mengwi dan Pembagian Wilayah Sibang
Sayangnya, kejayaan Mengwi perlahan memudar. Kerajaan Mengwi akhirnya ditaklukkan oleh kerajaan Badung, yang kemudian juga mengalami kekalahan dalam perang Puputan melawan Belanda pada tahun 1908.
Setelah kemerdekaan Indonesia, Sibang terbagi menjadi dua desa: Desa Sibangkaja dan Desa Sibanggede.
Penutup: Warisan dan Pengaruh Sejarah Mengwi di Sibang
Kisah Sibang mencerminkan dinamika kekuasaan dan intrik politik yang mewarnai sejarah Bali.
Dari kejayaan Mengwi hingga kejatuhannya, Desa Sibang tetap menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang sejarah Bali yang penuh lika-liku.
Warisan ini masih terasa hingga kini, menjadikan Sibang sebagai bagian penting dari sejarah dan budaya Pulau Dewata. ***
Editor : I Putu Suyatra