BALIEXPRESS.ID - Desa Bongkasa di Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung ternyata masih memiliki hubungan sejarah dengan Kerajaan Mengwi.
Desa yang berada di sebelah desa dari Nyoman Sukena yang memelihara landak jawa ini pun merupakan desa yang sangat subur.
Pemberian nama desa ini bersal dari sinar merah yang juga berkaitan dengan geguritan pupuh Ginada Bebungkilan.
Baca Juga: Gempa Bermagnitudo 4,4 SR dan 2,1 SR Guncang Bali; Ini Titik Pusatnya
Penamaan Desa Bongkasa oleh Jero Ketut Tangsub dari wilayah Manuaba, Gianyar.
Sejarah desa ini pun telah tercantum dalam website resminya.
Diceritakan pada masa Kerajaan Mengwi, pada tahun 1600 masehi, istri dari Raja mengalami sakit.
Baca Juga: Wujudkan Kemenangan, Relawan Suyadinata Bentuk Tim Hingga Tingkat Banjar
Saat itu sang Raja pun berupaya semaksimal mungkin untuk menyembuhkan istri tercintanya.
Raja Mengwi pun mengundang para tabib, dukun, pandita dan rsi dari luar kerajaan untuk menyembuhkan permaisuri.
Namun setelah banyak yang berdatangan ke Kerajaan Mengwi belum ada yang dapat menyembuhkan sakit dari permaisuri raja.
Sehingga sang istri raja hanya dapat tergolek lemas di istana.
Kabar sakit yang diderita permaisuri ini pun sampai ke daerah Manuaba, Gianyar.
Saat itu orang tua dari Jero Ketut Tangsub meminta anaknya tersebut untuk datang ke Kerajaan Mengwi.
Karena mendapatkan perintah orang tuanya, Jero Ketut Tangsung langsung berangkat dengan membawa sebuah tas yang berwarna-warni.
Tas tersebut berisi sirih, kapur, pinang, tembakau dan tempat penumbuknya.
Selain untuk camilan di jalan, bahan ini juga digunakan untuk sarana pengobatan.
Sesampainua di depan Kerajaan Mengwi, Jero Ketut Tangsub bertanya kepada pedagang.
Namun perkataannya menyinggung pedagang dan melaporkan kepada patih kerajaan.
Pertanyaan yang dilontarkan, berapakah dapat ongkos orang yang keluar masuk puri itu ?
Hal ini disampaikan karena ia melihat banyaknya orang keluar masuk Kerajaan Mengwi untuk mengobati permaisuri.
Setelah itu, Jero Ketut Tangsub dibawa ke Kerajaan oleh para patih.
Ia diminta keterangan atas perkataanya, setelah mendapat penjelasan para patih memerintahkan Jero Ketut Tangsub untjn mengobati permaisuri.
Jika menolak maka dia akan dibunuh oleh para patih tersebut.
Dengan hati yang gembira, Jero Ketut Tangsub mengikuti para patih ke tempat peristirahatan permaisuri.
Sesampainya di sana, ia mengeluarkan isi tas untuk sarana japa mantra.
Bahkan tas yang dibawanya itu juga dijadikan sarana pengobatan.
Dengan kekuatan batinnya, Jero Ketut Tangsub mulai memohon kepada Tuhan agar memberikan kesehatan kepada permaisuri.
Setelah itu, ia juga memohon izin kepada Raja Mengwi memercikkan tirta atau air suci ke seluruh badan permaisuri.
Ajaibnya setelah dipercikkan air itu, sang permaisuri dapat terbangun dan merasa telah sembuh.
Atas jasanya tersebut, Sang Raja memberikan hadiah kepada Jero Ketut Tangsub.
Ia meminta tanah seluas 10 Ha yang langsung disanggupi dan diberikan kebebasan untuk memilih lokasinya.
Jero Ketut Tangsub kemudian berjalan menuju sisi timur batas wilayah kekuasaan Kerajaan Mengwi.
Dalam perjalanannya bersama I Gede Geredegan yang diutus oleh raja, melihat suatu daerah ketinggian.
Setibanya ditempat itu dilihatnya suatu pertanda seberkas sinar merah keemasan.
Ia duduk dan sambil membuat sebuah geguritan pupuh ginada bebungklingan yang disurat pada sehelai daun lontar yang telah dibawannya :
Ada kidung anyar teka,
Mijil saking rangde langit
Kawi muda kapupungan, Sira lajua mintar kidung
Iseng-isengan manyurat, Anggen nyarwi
Ban ibuk larane liwat.
Lantas ia menuju ke sinar merah keemasan tersebut, setelah itu mengupas isi pupuh yang dibuatnya.
Sehingga sinar tersebut diartikan sebagai Rangda Langit yaitu sinar merah keputih-putihan yang muncul dari langit.
Dalam Bahasa Bali mengandung arti Bang Akasa, sehingga disebutlah daerah ini Bangkasa.
Lama kelamaan nama desa tersebut dikenal sebagai Bongkasa. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga