Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Berawal Dari Rencana Perang dari Kerajaan Mengwi, Sejarah Penamaan Desa Baha Dari Bara Api

Putu Resa Kertawedangga • Senin, 16 September 2024 | 01:46 WIB

Jalur tracking di Desa Baha, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.
Jalur tracking di Desa Baha, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.

BALIEXPRESS.ID - Nama Desa Baha yang berada di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung ternyata berasal dari rencana perang perluasan wilayah kerajaan.

Dalam sejarah, Kerajaan Mengwi ingin memperluas wilayah, bahkan nama setiap banjar pun berasal dari kisah peperangan.

Dalam upaya itu, ada bara api besar yang juga menjadikan dasar pembuatan nama desa.

Baca Juga: Pegolf Unggulan Bali Meva Herlina Gagal Sumbang Emas di PON Aceh-Sumut

Dari website Desa Baha, nama desa ini muncul dalam ekspansi Kerajaan Mengwi di tahun caka 1621 atau sekitar 325 tahun yang lalu.

Saat itu Raja Mengwi dengan gelas Cokorde Dimade berniat menyerang wilayah Ayunan.

Beliau pun menabuh genderang perang untuk melawan pasukan dari kesatria Arya Ayunan.

Baca Juga: Digital Banking Dinilai Optimal, BSI Raih Penghargaan Best Digital Bank

Sang Raja bersama pasukannya bergerak menunju ke arah timur laut di lebatnya hutan.

Namun di tengah perjalanan, Cokorde Dimade melihat kepulan asap dan bara api yang sampai membuat langit legam.

Ia mengira hal itu adalah perbuatan pasukan Arya Ayunan dalam menghalangi perjalanan pasukan Mengwi.

Baca Juga: Penamaan Desa Penarungan Tidak Memiliki Sejarah Kerajaan Mengwi, Ada Kaitan dengan Klungkung

Tak habis akal, sang Raja langsung meminta pasukannya untuk masuk ke dalam hutan.

Hutan itu pun kemudian diberi nama Alas Baha karena adanya bara api yang sangat besar.

Anehnya setelah mendapatkan kesepakatan, kobaran api ini pun lenyap tanpa sisa.

Dengan keyakinan di tempat mereka berkumpul itu diberi nama Alas Harum.

Bahkan hingga kini di lokasi itu ada sebuah Pura yang berbama Pura Alas Arum.

Meski nama desa telah ditemukan di tulisan ini, dalam kisahnya Raja Mengwi masih melanjutkan perjalanan ke arah timur.

Kemudian hutan yang lebat pun terus dirabas dengan tujuan membuka jalan.

Sang Raja bersabda, siapapun di antara rakyatku yang kelak tinggal di bekas hutan ini mereka harus menyebut tempat ini sebagai Desa Penyabetan.

Ini karena tempat ini dibangun hanya dengan mempergunakan sabetan.

Kemudian nama ini digunakan untuk salah satu banjar, yaitu Banjar Penyabetan.

Kemudian Cokorde Dimade memberikan tugas untuk seorang prajurit untuk memimpin pekerjaan tahap dua.

Dia pun diberikan gelar Arya Kedua, yang kini juga digunakan sebagai nama banjar, Banjar Kedua.

Diberi wilayah kekuasaan, Arya Kedua bersama anak buahnya girang bukan kepalang.

Bahkan mereka bersorak-sorak, hingga suasana menjadi geger.

Pada lokasi itu pun kemudian disebut Gegaran, kini menjadi Banjar Gegaran.

Namun hingga akhir perjalanan perluasan wilayah, Raja Mengwi ternyata mengurungkan niatnya untuk memulai perang.

Setelah memikirkan, ia membulatkan tekat untuk membatalkan penyerbuan ke Mambal.

Sebab saat itu Arya Ayunan dibantu oleh Arya Mambal.

Batalnya penyerangan ini bukan karena takut akan Mambal.

Melainkan dalam perjalanan penyerbuan pasukan terhalang air bah karena hujan sangat lebat secara terus menerus.

Rencana membekuk Arya Ayunan di tangguhkan, akibat kepenet atau terhalang oleh air sungai.

Kini sungai tersebut disebut tukad penet, juga sebagai batas Desa Baha di sebelah timur. 

Sebuah perang dahsyat untuk menguasai dan memusnahkan sesama raja terhindarkan dan Raja Mengwi kembali ke Istana.

Selain nama-nama tersebut ada beberapa banjar lagi yang berada di desa Baha. Seperti Bedil, Busana Kaja, Busana Kelod dan Cengkok.

Kemudian ada dua desa adat, yaitu Desa Adat Baha dan Desa Adat Cengkok. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#baha #sejarah #kerajaan mengwi #perang #api