Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Swaswi, Film Dokumenter Puitik Produksi Mahima Akan Diputar di Thailand

Dian Suryantini • Kamis, 7 November 2024 | 23:47 WIB

Screening film yang berjudul Swaswi produksi Yayasan Mahima Indonesia di Singaraja Literary Festifal 2024.
Screening film yang berjudul Swaswi produksi Yayasan Mahima Indonesia di Singaraja Literary Festifal 2024.

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Canda tawa anak-anak di sela sawah menjadi salah satu adegan dalam film berjudul Swaswi. Film ini diproduksi tahun 2024 oleh Yayasan Mahima Indonesia yang disutradarai oleh Made Adnyana ‘Ole’. Berdurasi sekitar 25 menit, film itu menggunakan pendekatan yang unik, yaitu memadukan antara puisi dan sinema untuk menyampaikan narasinya. Konsep itu pun menghadirkan pengalaman yang tidak biasa bagi penontonnya.

Berbeda dari film dokumenter konvensional, "Swaswi" menghadirkan puisi sebagai narasi utama. Setiap bait kata dalam puisi seakan menjadi nyawa yang menghidupkan visual tentang padi, alam, dan kehidupan para petani di Bali. Pendekatan puitis ini menambah keintiman dan kedalaman emosional dalam melihat hubungan masyarakat Bali dengan alam dan tradisi agraris mereka yang kaya nilai budaya.

Dengan tema yang sarat makna, "Swaswi" bukan hanya sekedar rekaman realitas pertanian Bali hari ini. Film ini mengajak penonton merenungi perubahan yang terjadi di Bali, baik dari sisi alam maupun tradisi, yang sering kali terabaikan di tengah modernisasi. Film ini memberikan perspektif baru dalam memahami budaya pertanian di Bali, serta menghadirkan pertanyaan besar tentang keberlanjutan dan masa depan padi Bali dalam perubahan zaman.

Sebagai sebuah karya puitis, "Swaswi" berhasil menantang batas-batas genre dokumenter dengan menggabungkan seni sastra dan film, sehingga memberikan warna baru dalam dunia perfilman.

“Kami mencoba menarasikan padi Bali secara puitik lewat film ini. Menarasikan subak serta seperangkat upacaranya yang bersumber dari lontar Darma Pemaculan,” ujar Ole, Kamis (7/11) sore.

Lontar Darma Pemaculan sendiri lebih banyak membahas mengenai upacara atau ritual dalam pertanian. Baik dari sarana upacaranya hingga mantra-mantra yang diucapkan dalam proses penanaman padi hingga panen.

Selain Darma Pemaculan, ada pula lontar lain seperti lontar Aji Pari yang berkaitan satu sama lain. Lontar ini juga menjadi salah satu yang dihormati dalam bidang pertanian. Lontar ini mengandung ajaran tradisional tentang proses menanam, merawat, hingga memanen padi, lengkap dengan berbagai mantra dan upacara yang menghormati tanaman padi sebagai sumber kehidupan utama.

Dalam penjelasannya, pembaca lontar Bali, I Gede Agus Darma Putra menyebut, Lontar Aji Pari memberikan gambaran alegoris bahwa bibit padi yang ada di Bali kemungkinan berasal dari Jawa, khususnya pada masa Raja Airlangga atau sebelumnya. Narasi ini menggambarkan Dewi Sri, dewi kemakmuran, yang datang dari Jawa Timur sebagai simbol kesuburan dan keberlanjutan pangan.

Ajaran yang terdapat dalam Lontar Aji Pari ini diterapkan dalam organisasi subak, sistem irigasi tradisional Bali yang diperkirakan sudah ada sejak abad kesembilan. Melalui Subak, terdapat beragam upacara yang dilakukan pada setiap tahap perkembangan padi, mulai dari menanam hingga panen.

“Hal ini mencerminkan bagaimana masyarakat Bali menghargai tanaman padi layaknya manusia yang melalui berbagai fase kehidupan,” terangnya.

Dalam catatan arsip di Gedong Kirtya Singaraja, tak hanya Aji Pari, berbagai lontar lain seperti Lontar Pesesawahan, dan Sri Purana Tatwa juga berisi petunjuk serta ritual pertanian. Mereka mengajarkan cara memilih benih yang baik, melaksanakan upacara di sawah untuk menghindarkan tanaman dari hama, hingga berdoa demi keberlimpahan hasil panen. Upacara seperti nangluk merana dan pecaruan merupakan bagian dari tradisi yang dilakukan agar padi tumbuh subur tanpa gangguan, sehingga kehidupan petani dan pemilik sawah dapat makmur.

Lontar Aji Pari serta lontar-lontar pertanian lainnya menjadi bukti bahwa masyarakat Bali memiliki pandangan yang holistik dan spiritual terhadap proses bercocok tanam. Selain memenuhi kebutuhan pangan, ajaran dalam lontar ini juga menjaga keseimbangan alam dan spiritualitas.

Berdasarkan narasi itulah, film Swaswi yang diproduseri oleh Kadek Sonia Piscayanti, sekaligus istri dari sutradara Made Adnyana ‘Ole’, dilirik tim Asia Pasific Writers & Translators. Film ini diminta untuk diputar atau discreening pada even yang akan diselenggarakan pada 22-24 November 2024 di Chiang Mai, Thailand.

“Pada Agustus 2024 filmnya kami putar di Singaraja Literary Festival dan dilirik untuk bisa ditayangkan di Thailand. Mohon doa restunya,” ujar Sonia.

Film Swaswi ini merupakan film dokumenter puitik pertama yang diproduksi Yayasan Mahima Indonesia. Dalam penggarapannya, Yayasan Mahima Indonesia didukung oleh PT. PLN (Persero) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Bantuan seperangkat alat (infrastruktur) yang mendukung program literasi digital itu diberikan kepada Komunitas Mahima (Yayasan Mahima Indonesia) atas dasar banyak pertimbangan. Mahima, sebagai salah satu komunitas yang berkomitmen dalam bidang literasi, sastra, jurnalistik, seni, dan budaya secara umum, dianggap layak menerima bantuan tersebut.

Mahima juga sedang merencanakan membuat bioskop mini untuk memutar film edukasi yang akan diproduksi langsung oleh Komunitas Mahima. Ini kabar yang baik. Mengingat, ekosistem perfilman di Singaraja belum begitu digarap dengan serius.

“Ini bantuan pertama yang kami terima dari BUMN. Setelah mendapat bantuan ini, kami jadi lebih banyak memproduksi karya, seperti musikalisasi puisi, podcast, audiobook, film, dll” ujar Kadek Sonia Piscayanti, yang juga Ketua Komunitas Mahima.

Sementara itu, Senior Manager Komunikasi dan Umum PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Bali, Hamidi Hamid menyampaikan, bantuan yang diberikan merupakan program sosial yang berkaitan dengan narasi digitalisasi. Hamid berharap, ke depan, Komunitas Mahima semakin maju dan menjadi salah satu komunitas yang akan tersebut berkolaborasi---secara berkelanjutan---dengan PLN.

“Saya sudah mencari dan menggali banyak hal tentang kiprah Komunitas Mahima. Saya tahu karya-karyanya. Di teater ada Rwa, yang dipentaskan di Taman Ismail Marzuki, ada juga yang mengangkat Nyoman Rai Srimben, dan Perempuan Tanpa Nama,” ujar Hamid.

Langkah Mahima sebagai sebuah komunitas yang fokus pada bidang seni, budaya, sastra, jurnalistik hingga sinema juga mendapat sokongan dari Dinas Kebudayaan, Dinas Komunikasi, Informasi, Persandian dan Statistik serta Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Buleleng. ***

Editor : Dian Suryantini
#Singaraja Literary Festival #film #Dokumenter #singaraja #Mahima