BALIEXPRESS.ID – Desa Lalanglinggah, yang terletak di Kabupaten Tabanan, Bali, memiliki sejarah panjang yang sebagian besar masih terbungkus mitos dan cerita rakyat.
Minimnya prasasti atau babad tertulis membuat asal-usul desa ini sulit dipastikan. Namun, penuturan para penglingsir desa dan informasi turun-temurun memberikan gambaran menarik tentang perjalanan waktu desa ini.
Asal Nama dan Mitologi Pura Gading Wani
Dilansir dari website resmi Desa Lalanglinggah, nama Desa Lalanglinggah diyakini berasal dari Pura Gading Wani, yang menjadi tonggak sejarah desa. Berdasarkan mitos, perjalanan Danghyang Dwijendra di Bali memiliki keterkaitan erat dengan Pura Gading Wani.
Dalam cerita yang diwariskan, salah satu kunyahan sirih Danghyang Dwijendra tumbuh menjadi pohon besar yang hingga kini dikenal sebagai Pohon Kunyit, berdiri kokoh di sekitar pura.
Di sebelah barat pura terdapat Tukad Balian, yang dipercaya memiliki khasiat menyembuhkan penyakit. Cerita menyebutkan bahwa Danghyang Dwijendra menancapkan tongkatnya di bagian hulu sungai, lalu memerintahkan warga yang sakit untuk melakukan pembersihan diri di hilir. Alhasil, warga pun sembuh seketika. Tukad Balian ini juga memiliki sebelas anak sungai, yang dianggap sakral untuk penyucian diri.
Transformasi Desa dari Masa ke Masa
Sejarah menyebutkan bahwa pada abad ke-16, wilayah yang kini dikenal sebagai Lalanglinggah masih berupa hutan lebat dengan hamparan alang-alang yang luas. Di bawah kekuasaan Kerajaan Tabanan, desa ini mulai dihuni sebagai pos penjagaan perbatasan dengan Jembrana.
Penduduknya adalah hasil urbanisasi dari wilayah-wilayah sekitar, seperti Kerambitan, Selemadeg, dan Bajera. Mereka diberikan lahan garapan seluas 3 hektare per kepala keluarga.
Nama Desa Lalanglinggah mulai digunakan secara resmi setelah terbentuknya struktur kepemimpinan pada awal abad ke-20. Ajin Tantra, seorang tokoh dari Dusun Selabih, tercatat sebagai Bendesa pertama yang memimpin desa ini pada periode 1917–1935.
Pemekaran dan Modernisasi Desa
Seiring berjalannya waktu, Desa Lalanglinggah mengalami pemekaran wilayah. Pada tahun 2007, desa ini terbagi menjadi Desa Lalanglinggah dan Desa Selabih. Struktur administrasi juga mengalami perubahan, termasuk penambahan beberapa banjar dinas seperti Pengasahan dan Kutuh.
Pemekaran ini menandai modernisasi desa yang semakin kompleks, dengan 11 banjar dinas yang ada saat ini. Kepemimpinan terakhir tercatat dipegang oleh I Nyoman Parwata Aryanto pada periode 2013–2019.
Menjaga Warisan Sejarah
Meski telah mengalami perubahan signifikan, Desa Lalanglinggah tetap menjaga kekayaan sejarah dan budaya yang diwariskan. Pura Gading Wani dan Tukad Balian menjadi simbol penting desa yang mengingatkan pada perjalanan spiritual Danghyang Dwi Djendra. Cerita rakyat yang masih hidup hingga kini menjadi jembatan penghubung antara masa lalu dan masa depan.
"Sejarah desa ini adalah identitas kami. Meski sebagian besar hanya berupa cerita lisan, upaya pelestarian terus dilakukan agar generasi mendatang dapat mengenal dan menghargai asal-usul mereka," ujar salah satu tokoh desa.
Dengan warisan sejarah dan budaya yang begitu kaya, Desa Lalanglinggah tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang Bali sebagai pulau yang sarat nilai spiritual dan tradisi. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana