Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

9 Sifat Utama Orang yang Terobsesi dengan Like di Media Sosial: Apakah Ini Bentuk Ekspresi atau Validasi Diri?

I Putu Suyatra • Minggu, 22 Desember 2024 | 15:24 WIB
Ilustrasi orang yang butuh validasi di sosial media. (Freepik)
Ilustrasi orang yang butuh validasi di sosial media. (Freepik)

BALIEXPRESS.ID - Di era digital, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Platform ini mempermudah kita berbagi cerita, foto, hingga pemikiran kepada dunia.

Namun, bagi sebagian orang, media sosial bukan sekadar tempat mengekspresikan diri, melainkan ladang pencarian pengakuan.

Like dan Komentar: Bentuk Validasi atau Cermin Diri?

Siapa yang tak senang melihat unggahannya dipenuhi like? Namun, ketika keinginan ini berubah menjadi kebutuhan mendalam, apa yang sebenarnya terjadi?

Mengapa ada orang yang rela mengubah kehidupannya demi tampil sempurna di dunia maya?

Menurut psikolog, obsesi terhadap jumlah like kerap mencerminkan kebutuhan emosional dan pola pikir tertentu.

Dilansir dari Geediting.com, berikut sembilan sifat utama yang dimiliki orang yang terobsesi dengan pengakuan di media sosial:

1. Selalu Mencari Validasi

Bagi sebagian orang, like atau komentar adalah tolok ukur diterima atau tidaknya mereka dalam lingkungan.

Apresiasi di dunia maya ini sering kali menjadi sumber kepuasan, meskipun sifatnya hanya sementara.

2. Terjebak dalam FOMO (Fear of Missing Out)

Tekanan untuk mengikuti tren dan selalu relevan membuat mereka terus-menerus mengunggah konten, meski tak benar-benar menikmatinya.

Sayangnya, perilaku ini justru mengorbankan kesejahteraan mental.

3. Cenderung Narsistik

Mereka yang memiliki sifat narsistik sering menjadikan media sosial sebagai panggung untuk menonjolkan diri.

Setiap like dianggap sebagai bukti superioritas, meski kenyataannya tak selalu sesuai dengan kehidupan nyata mereka.

4. Sangat Peka terhadap Kritik

Ironisnya, orang yang mendambakan banyak like justru sangat rentan terhadap komentar negatif.

Mereka cenderung menghapus unggahan yang kurang mendapat perhatian atau berusaha keras memperbaiki citra diri.

5. Harga Diri yang Rendah

Orang dengan harga diri rendah sering merasa bahwa keberhargaan mereka bergantung pada validasi dari dunia maya.

Like atau komentar positif menjadi semacam "obat" yang membantu mereka merasa lebih baik, meski hanya sesaat.

6. Merasa Kesepian

Media sosial sering menjadi pelarian bagi mereka yang merasa kesepian.

Sayangnya, perhatian di dunia maya jarang mampu menggantikan hubungan di dunia nyata, sehingga mereka tetap merasa kosong.

7. Takut Ditolak

Ketakutan akan penolakan membuat mereka berhati-hati dalam setiap unggahan.

Mereka cenderung mengatur foto, caption, hingga waktu posting demi memastikan konten mereka disukai banyak orang.

8. Perfeksionis

Obsesi terhadap kesempurnaan membuat mereka rela menghabiskan banyak waktu untuk menyempurnakan setiap unggahan.

Namun, hal ini sering kali menciptakan tekanan yang justru merugikan diri sendiri.

9. Ketergantungan pada Validasi Eksternal

Ketika kebahagiaan bergantung pada pengakuan orang lain, media sosial berubah dari alat ekspresi diri menjadi sumber tekanan.

Pelajaran di Balik Obsesi Media Sosial

Kebutuhan untuk diterima adalah hal wajar. Namun, jika validasi eksternal menjadi prioritas, kita kehilangan kesempatan untuk menemukan kebahagiaan sejati dari dalam diri sendiri.

Media sosial semestinya menjadi sarana ekspresi, bukan alat penentu nilai diri.

Bagaimana dengan Anda? Apakah media sosial menjadi sarana ekspresi atau justru sumber tekanan? *** 

 

 
Editor : I Putu Suyatra
#like #sifat #psikolog #media sosial