BALIEXPRESS.ID – Perawakannya kecil. Badannya kurus, jauh dari kata kekar apalagi berotot. Jalannya pun perlahan tetapi mantap.
Sore itu, Rabu (8/1) selepas beribadah ia bercerita. Dari gaya bertuturnya, pemuda Pejarakan bernama Abdul Karim ini merupakan sosok yang bersahaja dan suka humor.
Baca Juga: Kepastian Bagi Tenaga Honorer Buleleng: Optimalisasi Tenaga R2 dan R3 Tunggu Waktu
Abdul Karim, yang sedari kecil tinggal di Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng itu, mulai merasakan panggilan untuk berkontribusi sejak masa kuliahnya di Malang.
Di kota ini, ia terhubung dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), sebuah organisasi yang menjadi sayap Nahdlatul Ulama (NU).
Setelah menyelesaikan studi, ia kembali ke kampung halamannya pada tahun 2012 dengan semangat membara untuk menghidupkan kembali organisasi Gerakan Pemuda Ansor yang sempat vakum di kampungnya itu.
Baca Juga: Kapolsek Cinangka dan Dua Anggotanya Dimutasi, Buntut Kasus Penembakan Bos Rental Mobil
“Ketika pulang kampung, saya melihat ansor di desa-desa sekitar kecamatan seperti mati suri. Saya bersama teman-teman mencoba membangkitkan semangat organisasi ini,” ujar Abdul Karim.
Usaha itu membawanya menjadi Ketua Ranting GP Ansor di desanya pada 2014, dan pada 2015 ia dipercaya menjadi Ketua GP Ansor tingkat kecamatan.
Tidak berhenti di situ, dedikasi dan kepemimpinannya membuatnya terpilih sebagai Ketua GP Ansor Kabupaten Buleleng pada 2019, posisi yang diembannya hingga hari ini.
Bagi pemuda 37 tahun ini, Ansor bukan sekadar organisasi keagamaan.
“Kami ingin Ansor menjadi wadah yang tidak hanya fokus pada isu-isu agama, tetapi juga menyentuh aspek sosial,” jelasnya.
Baca Juga: Viral! Bus Transjakarta Tabrak Pengemudi Mobil, Bukan Minta Maaf Malah Kabur
Salah satu momen penting yang ia kenang adalah tahun 2017, saat masyarakat lokal mengeluhkan pembangunan minimarket waralaba yang dianggap merugikan pedagang tradisional.
Bersama rekan-rekannya, ia membentuk Asosiasi Pedagang Lokal (APL) dan memperjuangkan aturan jarak minimal pembangunan minimarket dari pasar tradisional hingga ke tingkat DPRD Kabupaten.
Langkah ini mempertegas peran Ansor sebagai suara masyarakat kecil, menjadikan organisasi ini relevan tidak hanya untuk umat Islam tetapi juga bagi komunitas yang lebih luas.
Sebagai pemimpin Ansor di wilayah dengan mayoritas penduduk Hindu, Abdul Karim menghadapi tantangan unik.
Namun, ia justru melihat ini sebagai peluang untuk memperkuat harmoni antar umat beragama.
Ia menginisiasi berbagai kegiatan bersama komunitas Hindu, seperti melibatkan Banser dalam pengamanan upacara keagamaan Hindu atau keterlibatan pecalang pada umat Hindu dalam perayaan takbiran.
Baca Juga: Viral! Bus Transjakarta Tabrak Pengemudi Mobil, Bukan Minta Maaf Malah Kabur
“Kami ingin melanjutkan pondasi keharmonisan yang sudah dibangun oleh para pendahulu. Narasi kebersamaan ini penting untuk melawan bibit-bibit fanatisme yang mulai muncul,” tuturnya.
Tantangan besar datang pada era isu 212. Ketika sebagian besar umat Islam di Indonesia terlibat dalam aksi tersebut, Abdul Karim dan Ansor Buleleng memilih jalur berbeda.
Mereka menolak bergabung dengan gerakan itu, yang dianggap mengancam keharmonisan sosial.
“Kami lebih memilih menjaga stabilitas di daerah kami. Banyak yang salah paham, bahkan dari internal NU sendiri. Tapi bagi kami, menjaga harmoni adalah prioritas,” tegasnya.
Keputusan itu tak hanya menuai kritik dari luar, tetapi juga mengundang tekanan dari komunitas Muslim sendiri. Namun, Abdul Karim tetap berdiri teguh pada prinsipnya.
Baca Juga: Viral! Pedagang Pantai Kuta Berlomba Tangkap Ribuan Ikan Lemuru yang Terdampar di Pantai
Sebagai minoritas Muslim di Bali, Abdul Karim menyadari pentingnya menjaga nilai-nilai toleransi.
Ansor Buleleng di bawah kepemimpinannya fokus pada dakwah yang tidak hanya memperkuat akidah umat, tetapi juga menjaga hubungan baik dengan komunitas lain.
Salah satu upayanya adalah mendampingi desa-desa untuk mencegah masuknya paham-paham radikal.
“Kami ingin Ansor menjadi benteng utama melawan radikalisme, dengan tetap menjaga hubungan harmonis dengan saudara-saudara kita yang berbeda keyakinan,” ungkap Abdul Karim.
Kehidupan Abdul Karim sebagai Ketua GP Ansor Buleleng tak lepas dari dinamika sosial.
Di satu sisi, ia merasakan dukungan besar dari masyarakat, tapi di sisi lain, keluarganya kadang khawatir dengan tanggung jawab besar yang diembannya. Neneknya, almarhum Maswiyah, yang pernah hidup di era kelam 1965, kerap menunjukkan rasa cemas.
“Beliau sering bertanya, apakah saya sudah pulang ketika saya telat pulang dari acara Ansor. Ada trauma yang masih membekas dari masa lalu,” kenangnya dengan lirih.
Namun, Abdul Karim tidak pernah menyerah. Dukungan dari keluarga dan masyarakat memberinya energi untuk terus berjuang. Abdul Karim memiliki visi besar untuk Ansor Buleleng.
“Kami ingin Ansor menjadi motor utama dalam membangun keharmonisan sosial. Selain itu, kami juga fokus pada kaderisasi untuk memastikan masa depan Ansor tetap kuat,” katanya.
Baca Juga: Viral! Pedagang Pantai Kuta Berlomba Tangkap Ribuan Ikan Lemuru yang Terdampar di Pantai
Dengan langkah mantap, Abdul Karim terus menggulirkan roda organisasi ini, menjadikan Ansor tidak hanya sebagai penjaga nilai-nilai agama tetapi juga sebagai pilar harmoni di Buleleng. Dari tangan pemimpin muda ini, masa depan yang penuh kebersamaan dan toleransi terasa semakin dekat. (dhi)
Biodata :
Nama : Abdul Karim Abraham
Usia : 37 tahun
Tempat/Tgl Lahir : 9 April 1988
Alamatnya : Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng
Pekerjaan : Ketua GP Ansor Kabupaten Buleleng
Kontributor di situs NUonline
Hobi : Menulis
Orangtua
Ayah : Abdurrahman
Ibu : Asnawiyah
Keluarga
Istri : Adibah Susilowati
Anak 1 : Najwa Maharani Abraham
Anak 2 : Cordova Kertagama Abraham
Anak 3 : Nayya Maharani Abraham.
Pendidikan
SDN 6 Pejarakan (1994-2000)
SMP-SMA di Pondok Pesantren Salafiah Syafiiyah, Situbondo (2000-2006)
S1 Fisip Universitas Negeri Malang (2006-2012)
Editor : Wiwin Meliana