BALIEXPRESS.ID- Menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian (Kadiskominfosan) Kabupaten Bangli tak membuat I Wayan Dirga Yusa melupakan pengalaman berharga saat dirinya masih menjabat sebagai Camat Kintamani.
Dirga Yusa menjadi orang nomor satu di Kintamani selama 8 tahun mulai 2012 hingga 2020. Paling lama dibandingkan yang lain.
Dirga Yusa dikenal sangat dekat dengan masyarakat di Kintamani. Hubungannya dengan warga lebih mirip teman atau saudara ketimbang pejabat dengan rakyat.
Saking dekatnya, muncul guyonan yang menyebutnya sebagai “Bupati Kintamani” pada saat itu.
Bagi Dirga Yusa, menjabat sebagai Camat Kintamani adalah sebuah keberuntungan.
Dia bisa belajar banyak hal sebagai seorang pemimpin. Betapa tidak, Kintamani merupakan wilayah terluas di Kabupaten Bangli.
“Dari sisi geografis, wilayah Kecamatan Kintamani itu kan 72 persen dari wilayah Bangli,” ungkap Dirga Yusa.
Demikian pula jumlah penduduknya jauh lebih banyak dibandingkan tiga kecamatan lain di Kabupaten Bangli, seperti Kecamatan Susut, Tembuku, dan Bangli. Jumlah penduduk Kintamani sekitar 49,7 persen dari penduduk Kabupaten Bangli.
Selama menjabat sebagai camat, pria kelahiran 28 Oktober 1975 ini telah melalui berbagai suka dan duka.
Namun yang paling diingat dan berkesan adalah saat menghadiri hingga 21 undangan acara dalam satu hari.
“Itu paling berkesan,” ujar pejabat asal Desa Demulih, Kecamatan Susut ini lalu terkekeh.
Banyaknya undangan membuat Dirga Yusa harus memulai perjalanan dari pukul 08.00 Wita hingga pukul 04.00 Wita tanpa henti.
Ia sengaja mengajak dua sopir, menyadari bahwa perjalanan panjang tersebut akan sangat melelahkan bagi sopir pribadinya.
Selain jumlah undangan yang banyak, lokasi acara juga tersebar di sejumlah desa, mulai dari Kintamani bagian timur hingga barat.
“Di Kintamani kan desanya tidak nyambung, model tulang ikan, ada garis besarnya, ada masuk-masuk,” ungkap Dirga Yusa pada Kamis (16/1/2025).
Acara yang dihadiri Dirga Yusa saat itu beragam, seperti upacara Ngaben dan pernikahan.
Lulusan Magister Universitas Jember ini juga menyatakan bahwa ia merasa sulit untuk tidak memenuhi undangan tersebut, karena sudah menganggap masyarakat seperti saudara sendiri.
Saat menghadiri undangan, suasananya tidak selalu formal dan waktunya pun cukup fleksibel.
“Saya bisa hadir dini hari, saya telpon yang punya acara, bilang. Tidak perlu persiapan, apapun yang disuguhkan oke,” terang bapak dua anak yang sempat menjadi PNS sekitar 10 tahun di Pemkab Gianyar ini.
Hingga saat ini, hubungan Dirga Yusa dengan masyarakat Kintamani tetap terjalin dengan baik.
Ia masih sering diundang dalam berbagai acara dan bahkan menjadi tempat curhat bagi beberapa orang terkait persoalan di Kintamani.
“Datang dari menghadiri undangan di Kintamani itu seperti berbunga-bunga, seperti sempat pulang kampung,” tandas pejabat yang hobi olahraga bulu tangkis sejak masih duduk di bangku SD ini. (*)
Editor : I Made Mertawan