Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jejak Inovasi Prof. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Dari Penghapusan Pasung hingga FemTech untuk Kesehatan Mental

Rika Riyanti • Senin, 3 Februari 2025 | 18:29 WIB

DEDIKASI: Prof. Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Sked, SpKJ Subsp K (K), MARS
DEDIKASI: Prof. Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Sked, SpKJ Subsp K (K), MARS

 

 

BALIEXPRESS.ID - Prof. Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Sked, SpKJ Subsp K (K), MARS, adalah tokoh terkemuka dalam bidang psikiatri komunitas dan budaya di Indonesia.

Pada awal 2025, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, menjadikannya guru besar termuda di Indonesia dalam bidang psikiatri sekaligus guru besar pertama dalam subdisiplin Psikiatri Komunitas.

Saat ini, ia menjabat sebagai Kepala Divisi Psikiatri Budaya di Departemen Psikiatri, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, serta Ketua Seksi Psikiatri Budaya pada Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI). 

Lahir di Denpasar, 4 Maret 1976, Cokorda Bagus Jaya Lesmana berasal dari keluarga akademisi dan dokter yang berpengaruh di Bali.

Baca Juga: Imbas Dugaan Pungli WN China, Pejabat Imigrasi di Bandara Soetta Dicopot Massal

Ayahnya, Prof. Dr. dr. Tjokorda Alit Kamar Adnyana, SpFK, serta ibunya, Prof. Dr. dr. Luh Ketut Suryani, SpKJ(K), merupakan figur penting dalam dunia medis.

Sejak kecil, ia menempuh pendidikan di Denpasar, mulai dari SD Saraswati 1 Denpasar, SMP Negeri 3 Denpasar, hingga SMA Negeri 2 Denpasar.

Minatnya di bidang kedokteran membawanya melanjutkan studi di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, tempat ia menyelesaikan pendidikan dokter umum (1994-2002).

Ia kemudian mengambil spesialisasi di bidang psikiatri di Universitas Udayana (2002-2005) dan melanjutkan subspesialisasi Psikiatri Komunitas di Kolegium Psikiatri Indonesia (2014).

Baca Juga: Oknum Polisi Peras Remaja Kini Ditahan, Begini Penjelasan Kapolrestabes Semarang

Untuk memperkuat pemahamannya dalam manajemen layanan kesehatan, ia meraih gelar Magister Administrasi Rumah Sakit dari Universitas Indonesia (2016-2018).

Sebelumnya, ia juga menempuh pendidikan doktoral di bidang Biomedik di Universitas Udayana (2008-2012).

Sejak tahun 2005, ia aktif dalam kegiatan kesehatan mental bersama Suryani Institute for Mental Health (SIMH).

Salah satu inisiatif awalnya adalah melakukan studi dan penemuan kasus orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kabupaten Karangasem, Bali.

Penelitian ini menemukan 895 orang dengan penyakit mental kronis, di mana 35 di antaranya mengalami pemasungan selama 5 hingga 30 tahun.

Temuan ini membuka mata bahwa sistem kesehatan mental di Indonesia masih sangat bergantung pada layanan berbasis rumah sakit, sementara banyak pasien dengan gangguan kronis justru lebih membutuhkan pendekatan berbasis komunitas.

Baca Juga: Viral Karyawan Diduga Hina Profesi Honorer, PT Timah Beri Tindakan Tegas

Dari hasil studi tersebut, ia bersama timnya merintis pendekatan baru dalam menangani ODGJ, terutama mereka yang telah lama dipasung atau terisolasi.

Alih-alih hanya mengandalkan rumah sakit jiwa, mereka membangun sistem kesehatan mental yang lebih terintegrasi dengan komunitas.

Ini mencakup edukasi masyarakat, pendampingan keluarga, serta pemberian layanan psikiatri berbasis rumah tangga.

Keberhasilan program ini sangat signifikan. Lebih dari 300 pasien per tahun berhasil direhabilitasi, dan lebih dari 90 orang dibebaskan dari pasung.

Baca Juga: Polemik Visual Dewa Siwa di Beach Club Bali, Arya Wedakarna Segera Panggil Manajemen, Siap Beri Teguran

Program ini juga memperlihatkan bagaimana literasi kesehatan mental di Bali semakin meningkat, dengan berkurangnya praktik pemasungan di berbagai wilayah.

Cokorda Bagus Jaya Lesmana memahami bahwa pendekatan konvensional dalam psikiatri perlu diubah agar lebih sesuai dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat.

Ia memperkenalkan konsep mind-body-spirit sociocultural process, sebuah pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek medis, sosial, dan spiritual dalam perawatan kesehatan mental.

Dalam upayanya mereformasi pendidikan dokter spesialis psikiatri, ia mengembangkan program unggulan Psikiatri Budaya di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

Baca Juga: Sekaa Teruna Eka Budhi Selenggarakan Lomba Ceki, 123 Kupon Ludes Terjual

Inovasi ini menjadikan Universitas Udayana sebagai pusat pendidikan subspesialis psikiatri budaya di Indonesia.

Dengan pendekatan ini, mahasiswa psikiatri tidak hanya belajar tentang diagnosis dan terapi medis, tetapi juga memahami aspek budaya yang mempengaruhi kesehatan mental pasien.

Pendekatan ini mendapat pengakuan dari Kolegium Psikiatri Indonesia, yang akhirnya membuka peluang bagi Universitas Udayana untuk menjadi pusat pendidikan subspesialis psikiatri budaya di masa depan.

Selain itu, ia juga mengembangkan terapi berbasis budaya dan spiritual, seperti Spiritual Hypnosis Assisted Therapy (SHAT), yang menggunakan prinsip proto-personality untuk membantu pasien merekonstruksi kembali memori traumatik, bahkan hingga pengalaman dalam kandungan.

Baca Juga: Profil Anggota DPRD Klungkung I Nengah Ary Priadnya, Amalkan Ideologi Bung Karno

Sebagai akademisi, Cokorda Bagus Jaya Lesmana aktif dalam studi kolaboratif dengan berbagai universitas ternama dunia, seperti University of Edinburgh (Inggris), University of Sydney (Australia), University of California (Davis, AS), dan Leiden University (Belanda).

Ia juga merupakan alumni International Visitor Leadership Program (IVLP) tahun 2021 yang diselenggarakan oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.

Berbagai penghargaan telah diraihnya, di antaranya diantaranya Bronze Medal Journalistic Photo Print, Salon Photo Indonesia XXXII (2011), Best Oral Communication, Biological Psychiatry and Psychopharmacology Division of IPA (2013), Young Investigator Travel Award, Australasian Schizophrenia Conference (2013), International Fellow, American Psychiatric Association (2015), Satya Lancana Karya Satya 10 tahun dari Presiden Republik Indonesia (2018), hingga terbaru Satya Lancana Karya Satya 20 tahun dari Presiden Republik Indonesia (2024).

Jika ditanya apakah kariernya merupakan hasil mengikuti jejak ibunya atau pilihan pribadinya, Cokorda Bagus Jaya Lesmana menjawab bahwa ini adalah kombinasi keduanya.

Baca Juga: Potensi Badai Tropis Terjadi di Perairan Tabanan, Nelayan Diimbau Libur Melaut

Tumbuh di keluarga yang dekat dengan dunia psikiatri memberinya wawasan mendalam tentang kompleksitas kesehatan mental sejak kecil.

Namun, pilihannya untuk mendalami bidang ini lebih dari sekadar mengikuti jejak orang tua.

Ia melihat secara langsung bagaimana ibunya, Prof. Luh Ketut Suryani, tidak hanya menjadi seorang dokter, tetapi juga seorang pembela bagi mereka yang tidak memiliki akses ke layanan kesehatan mental.

Inspirasi ini mendorongnya untuk memilih jalannya sendiri—bukan hanya sebagai psikiater, tetapi sebagai inovator yang ingin mengubah cara layanan kesehatan mental diberikan di Indonesia.

Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis di Badung Belum Terlaksana, Pemkab Tunggu Arahan BGN

Saat ini, ia sedang mengerjakan proyek Breaking Barriers: Advancing FemTech Design for Mental Health Support to Women in Rural Regions di bawah KONEKSI Research Collaborative Grant – Digital Transformation.

Proyek dua tahun ini merupakan kolaborasi antara University of Sydney dan Universitas Udayana untuk meningkatkan dukungan kesehatan mental perempuan di pedesaan Bali melalui pengembangan prototipe FemTech yang sensitif secara budaya.

Proyek ini melibatkan komunitas lokal, profesional kesehatan, dan lembaga pemerintah untuk memastikan keberlanjutan serta dampak jangka panjang.

Fokus utamanya adalah mengatasi stigma kesehatan mental, meningkatkan akses terhadap sumber daya, dan memberdayakan perempuan agar menjadi bagian aktif dalam perawatan kesehatan mental mereka.

Baca Juga: Wabup Suiasa Hadiri Pelantikan Pengurus PKVHI Cabang Badung Periode 2024-2029

Melalui konsep transformasi layanan psikiatri dari model rumah sakit ke pendekatan berbasis komunitas, Cokorda Bagus Jaya Lesmana berharap dapat menciptakan sistem kesehatan mental yang lebih inklusif dan efektif.

Ia percaya bahwa kesehatan mental bukan hanya tanggung jawab tenaga medis, tetapi merupakan kewajiban bersama antara pemerintah, akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

Dedikasi dan inovasi yang ia lakukan menjadikannya sebagai salah satu pelopor utama dalam transformasi layanan kesehatan mental di Indonesia.

Dan perjuangannya masih terus berlanjut, demi menciptakan masa depan di mana setiap individu, tanpa terkecuali, memiliki akses terhadap kesehatan mental yang lebih baik.(***)

Editor : Rika Riyanti
#bali #psikiatri #kesehatan mental #Universitas udayana #pasung