BALIEXPRESS.ID – Seni telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup I Dewa Gede Alit Saputra, seorang seniman asal Klungkung yang lahir pada 8 Juni 1968.
Lulus dari Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Warmadewa pada tahun 1992, ia langsung menapaki jalan pengabdian di dunia seni dengan mendirikan Sanggar Kayonan di Semarapura Kelod, Klungkung, pada 8 Juni 1992, hanya beberapa bulan setelah menyelesaikan kuliah.
Keputusan ayah empat orang anak itu untuk mendirikan sanggar seni tidak datang begitu saja. Ia terinspirasi oleh kebutuhan desa adat akan kesenian sebagai bagian dari upacara Ngusaba Sasih Kapat.
"Kesenian menjadi bagian penting dalam tradisi, namun biaya untuk nanggap atau mengupah kesenian cukup tinggi. Dari situ, saya merasa perlu melakukan sesuatu," ungkap pria berzodiak Gemini tersebut.
Banyak yang mengira bahwa dirinya adalah lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar karena dedikasinya yang begitu tinggi dalam dunia seni. Namun, anggapan itu keliru. "Saya bukan alumni ISI Denpasar, tapi apa yang saya lakukan mungkin lebih dari mereka yang menempuh pendidikan disana," ujarnya.
Menurutnya, berkesenian tidak harus melalui jalur akademik formal seperti Kokar atau ISI Denpasar. Yang terpenting adalah niat, ketekunan, usaha, serta kemampuan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memajukan seni dan budaya.
Baginya, hampir tak ada hari tanpa memikirkan seni. Ia merasa telah mengambil bagian, meskipun kecil, dalam upaya pelestarian dan pengembangan kesenian. "Saya hanya ingin seni terus hidup dan berkembang, memberikan manfaat bagi masyarakat, dan tetap menjadi bagian dari tradisi kita," pungkas anak kelima dari tujuh bersaudara tersebut.
Hal itu ia buktikan dengan dedikasinya yang dilibatkan menjadi tim penulis warisan budaya tak benda bersama dengan tim peneliti dari Universitas Udayana. Dan beberapa kali ditugaskan menulis beberapa mata budaya di seluruh kecamatan di kabupaten Klungkung menjadi dokumen nasional.
Selain itu hingga saat ini dirinya masih menjadi tim ahli cagar budaya Kabupaten Klungkung. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana