BALIEXPRESS.ID – Kera-kera sibuk timbul tenggelam dari jurang Dusun Buyan, Desa Pancasari, Buleleng, Bali. Di tepi jurang seorang perempuan paro baya duduk dengan tenang. Ia adalah Wayan Maliasih.
Berbekal tas belanja dan topi pantai yang sedikit lebar, ia dengan setia menanti wisatawan yang datang.
Ya, wisatawan yang datang biasanya akan membeli makanan untuk kera. Wayan Maliasihlah yang menjualnya.
Ia berjualan di tepi jurang itu sudah 30 tahun lamanya. Awalnya ia membuka pondok kecil di Seberang jurang.
Namun, seiring waktu, pondok itu ditertibkan dengan alasan keamanan. Jadilah ia berjualan hanya dengan membawa tas belanja yang di dalamnya penuh buah-buahan untuk kera-kera.
“Sudah dari dulu kegiatan saya cuma ini saja. Sampai biaya anak sekolah juga saya dapat dari hasil jualan ini,” kata dia saat ditemui, Kamis (27/2) siang.
Maliasih tidak sendiri. Beberapa temannya juga turut menjajakan makanan kera yang dijual untuk wisatawan.
Tetapi, jarak mereka berjualan tidak terlalu dekat. Mereka seakan telah memiliki pos tersendiri.
Selama 30 tahun ia berjualan di pinggir jurang itu, Maliasih baru kali ini mengalami peristiwa mengejutkan.
Di tempat itu – di pinggir jurang, ia menemukan mayat. Jelas ia terkejut dan jantungnya berdegup kencang.
Mayat itu merupakan laki-laki – korban pembunuhan.
Saat itu, Wayan Maliasih sedang berjualan. Sekitar pukul 14.00 wita ia mendengar suara gerombolan kera yang tidak biasa.
Suaranya cenderung berteriak dan dahan pohon bergoyang sedikit keras. Beberapa ada yang melompat ke trotoar lalu kembali lagi ke dahan pohon di tepi jurang.
Maliasih yang selalu penasaran dengan tingkah kera-kera itu mencoba mencari tahu sumber penyebabnya.
Saat ia melongok ke tepi jurang, ia terkejut melihat sosok yang tersangkut di bawah pohon dan dikerumuni kera.
“Kera-kera di sini biasa seperti itu. Kalau ada yang aneh pasti ribut. Biasanya kalau sudah ribut begitu ada ular. Mereka pasti mengejar. Tapi kalau ini, mereka berkumpul di satu titik. Tidak berpindah. Ternyata ada mayat,” kata dia.
Maliasih menyebut kera-kera di sekitar lokasi cukup pintar.
Mereka seakan mengetahui dengan jelas bentuk manusia dan benda lainnya. Tanda yang mereka berikan jika terjadi sesuatu adalah dengan berteriak.
“Jangan mayat seperti itu, helm aja sekarang lempar ke sana (jurang) mereka pasti ribut. Dikira kepala manusia. Mereka ngerti,” tutur Maliasih.
Sambil melihat mayat yang tersangkut, kakinya gemetar. Ia mencoba menenangkan diri dengan berpindah tempat.
Lantas ia meminta kepada rekannya yang bertugas sebagai tukang parkir untuk melaporkan kejadian itu ke Polsek Sukasada Pos Pancasari.
“Padahal saat itu saya melihat dua orang polisi lewat. Tapi tidak saya setop. Saya takut dan masih gemetar waktu itu,” ungkap Maliasih.
Pengalaman penemuan mayat ini menjadi peristiwa yang akan selalu ia ingat.
Banyak peristiwa aneh yang ia dengar dari para wisatawan yang datang, namun kali ini ia sendiri yang menjadi saksinya.
“Kalau saya sih tidak melihat, tapi kalau wisatawan yang punya penglihatan khusus, katanya kera-kera di sini adalah orang yang warna warni dan batu besar yang di pinggir jalan itu adalah istana. Saya hanya berdoa semoga diberikan keselamatan saja,” tuturnya. ***
Editor : I Putu Suyatra