Sosok Ni Made Astini Orang di Balik Sanggar Pradnya Swari: Tempat Anak Disabilitas Berkarya Melalui Tari Bali
IGA Kusuma Yoni• Jumat, 14 Maret 2025 | 02:32 WIB
Ni Made Astini (kiri)
BALIEXPRESS.ID - Di balik gemerlap seni tari Bali, ada sosok inspiratif yang tanpa pamrih mengabdikan dirinya untuk melestarikan budaya sekaligus mengangkat potensi anak-anak berkebutuhan khusus. Dialah Ni Made Astini, pendiri Sanggar Pradnya Swari yang berlokasi di Jalan Pulau Irian, Menega, Kelurahan Dauhwaru, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana, Bali.
Astini meyakini bahwa setiap anak, termasuk anak disabilitas, memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk menjadi pelestari seni budaya.
Sejak tahun 2018, ia melatih 20 anak disabilitas secara gratis hingga mereka mampu tampil percaya diri di panggung.
“Anak-anak disabilitas ini punya bakat luar biasa, tetapi sering kali bakat mereka terkubur karena keterbatasan kesempatan dan faktor ekonomi. Lewat sanggar ini, saya ingin mereka punya ruang untuk menari dan menunjukkan kemampuan mereka ke publik,” ungkap Astini.
Dedikasi Melatih Tanpa Batas
Astini, lulusan Jurusan Seni Tari SMKN 3 Sukawati (Kokar Bali) tahun 2004, mendirikan sanggar pada 2011 karena prihatin dengan minimnya minat generasi muda terhadap tari tradisional Bali.
Ia melihat semakin sedikit penari siap tampil untuk acara budaya seperti PKB (Pesta Kesenian Bali), sehingga tergerak untuk menciptakan wadah pembinaan seni.
Menariknya, Sanggar Pradnya Swari membuka pintu lebar-lebar untuk semua anak, tanpa memandang kondisi fisik maupun latar belakang ekonomi.
Anak disabilitas yang dilatih pun beragam, mulai dari tunarungu, tunadaksa, hingga tunagrahita.
Selain itu, Astini juga melatih anak-anak dari keluarga kurang mampu tanpa memungut biaya sepeser pun.
Semua ini sejalan dengan tiga moto sanggar yang menjadi landasan utama: Seni untuk Hidup, Seni untuk Bhakti, dan Seni untuk Sosial.
Membuka Pintu Peluang dan Harapan
Melalui Sanggar Pradnya Swari, Astini membuktikan bahwa seni bisa menjadi alat pemberdayaan.
Anak-anak yang sebelumnya tak memiliki akses ke pendidikan seni kini bisa tampil di berbagai acara budaya, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya.
Saat ini, sanggar yang dikelolanya telah membina 32 anak, dan Astini berharap semakin banyak pihak yang peduli dan mau mendukung keberlanjutan program ini.
“Menari bukan hanya tentang melestarikan budaya, tetapi juga menjadi bentuk ekspresi diri. Saya ingin anak-anak ini merasa berdaya, percaya diri, dan tahu bahwa mereka berharga,” tutupnya penuh haru.
Dengan semangat yang tak kenal lelah, Ni Made Astini terus menari bersama harapan dan mimpi anak-anaknya, mengukir jejak indah dalam pelestarian budaya Bali. ***