BALIEXPRESS.ID - Siapa sangka, solusi alami bisa jauh lebih efektif daripada pestisida dalam membasmi hama tikus? Made Jonita, atau yang akrab disapa Dek Enjoy, seorang petani di Banjar Pagi, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, berhasil mengatasi serangan tikus yang mengancam hasil panen dengan cara yang unik: melepasliarkan burung hantu Tyto Alba!
Melalui Komunitas Uma Wali, sejak tahun 2015 ia telah menerapkan metode Rubuha (Rumah Burung Hantu) di areal Subak Ganggangan seluas 25 hektar.
Hasilnya? Gagal panen akibat serangan tikus berkurang hingga 80%!
Kenapa Memilih Burung Hantu?
Bukan tanpa alasan Dek Enjoy memilih predator alami ini.
Sebelumnya, petani di Subak Ganggangan pernah mengalami serangan hama tikus yang begitu parah, menyebabkan banyak petani gagal panen total.
Kondisi ini mendorongnya untuk mencari solusi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
"Kami coba melepas burung hantu agar tikus dapat dikendalikan secara alami. Sejak itu, gagal panen berkurang drastis. Sekarang, sawah kami hampir tidak pernah mengalami gagal panen lagi," ungkapnya.
Cara Kerja Rubuha: Burung Hantu Jadi ‘Pasukan’ Pembasmi Tikus
Untuk menjaga burung hantu tetap berburu di sekitar persawahan, Dek Enjoy dan tim membangun 14 Rubuha di beberapa titik strategis.
Rubuha ini terbuat dari tiang besi dengan rumah kayu yang dirancang agar burung hantu betah tinggal dan berkembang biak.
Menariknya, Rubuha hanya dihuni oleh burung hantu betina untuk bertelur dan merawat anaknya, sedangkan burung hantu jantan tidur di pepohonan sekitar.
Dengan sistem ini, populasi burung hantu terus terjaga, dan petani tidak perlu lagi bergantung pada pestisida yang bisa merusak ekosistem.
Kendala dan Harapan ke Depan
Meski metode ini sangat efektif, tidak semua Rubuha masih berfungsi dengan baik. Beberapa mengalami kerusakan dan belum diperbaiki.
Namun, Dek Enjoy tetap optimis dan berharap lebih banyak petani bisa menerapkan metode serupa.
"Kalau semakin banyak petani yang beralih ke metode ini, kita bisa menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus meningkatkan hasil panen," pungkasnya.
Baca Juga: Timnas Indonesia Dibantai Australia 1-5! Ranking FIFA Terancam, Malaysia Siap Salip?
Dengan keberhasilan ini, apakah metode burung hantu akan menjadi solusi utama dalam pertanian berkelanjutan di Tabanan? Patut ditiru! ***
Editor : I Putu Suyatra