Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengenal Masjid Al-Hamzah: Saksi Bisu Toleransi Abad ke-14 di Tabanan, Jejak Unik Puang Ordi dari Bugis Bone!

IGA Kusuma Yoni • Selasa, 1 April 2025 | 01:19 WIB

Masjid Al-Hamzah yang berlokasi di Banjar Soka Kanginan, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan menjadi saksi perjalanan kerukunan dan toleransi Umat Islam dan Hindu di Kabupaten Tabanan
Masjid Al-Hamzah yang berlokasi di Banjar Soka Kanginan, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan menjadi saksi perjalanan kerukunan dan toleransi Umat Islam dan Hindu di Kabupaten Tabanan

BALIEXPRESS.ID - Di tengah hamparan sawah hijau Desa Senganan, Kabupaten Tabanan, Bali, berdiri kokoh Masjid Al-Hamzah.

Bangunan bersejarah ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan saksi bisu toleransi antarumat beragama yang telah terjalin sejak abad ke-14, pada masa Kerajaan Tabanan.

Masjid Al-Hamzah, yang dulunya dikenal sebagai langgar, menyimpan kisah unik tentang jejak seorang tokoh Muslim bernama Puang Ordi, yang berasal dari Bugis Bone, Sulawesi Selatan.

Baca Juga: Geger Hari Raya Nyepi di Bali: Nekat Naik Motor, Oknum Warga Diciduk Pecalang! Permohonan Maaf Viral!

Kedatangannya ke Tabanan sebagai pedagang, justru membawa warna baru dalam sejarah kerukunan umat beragama di Pulau Dewata.

Wayan Muhammad Mukhsin (51), tokoh Muslim Desa Senganan, menuturkan bahwa Puang Ordi dipercaya Kerajaan Tabanan untuk menjaga hasil bumi masyarakat.

Kepercayaan ini mengantarkannya menetap di Desa Senganan, menikahi wanita Bali, dan melahirkan keturunan yang kini mencapai generasi ke-13.

"Puang Ordi adalah tokoh Muslim pertama di Desa Senganan. Keturunannya, Puang Al-Hamzah, menjadi nama masjid ini," ungkap Wayan Muhammad.

Baca Juga: Misteri Hilangnya Kakek Sudirga di Tabanan: Tim SAR Sisir Sungai dan Pura Dalem!

Masjid Al-Hamzah awalnya berdiri di perbatasan Desa Bolangan dan Soka, sebelum akhirnya pindah ke lokasi saat ini pada tahun 1960.

Bangunannya pun mengalami transformasi dari langgar sederhana berdinding gedek dan beratap ilalang, menjadi masjid permanen yang megah.

Keunikan Masjid Al-Hamzah tak hanya terletak pada sejarahnya, tetapi juga pada proses pembangunannya.

Umat Hindu Desa Senganan turut andil dalam pembangunan masjid, bahu-membahu bersama umat Muslim.

"Mereka dibagi menjadi lima regu, ikut meratakan tanah, hingga membangun masjid ini," cerita Wayan Muhammad.

Selain masjid, jejak peradaban Islam di Desa Senganan juga terlihat dari keberadaan dua lokasi pemakaman.

Salah satunya adalah tempat peristirahatan terakhir Puang Ordi dan keturunannya.

"Toleransi menjadi kunci utama kami. Saat acara ogoh-ogoh, pemuda Muslim ikut berpartisipasi. Begitu pula sebaliknya," ujar Wayan Muhammad, yang juga Wakil Takmir Masjid Al-Hamzah.

Kerukunan ini, lanjutnya, merupakan prinsip perjuangan Puang Ordi yang terus dijaga hingga kini.

Baca Juga: Wulan Guritno dan Ariel NOAH: Kode Cinta Tersembunyi? Kehadiran Sang Vokalis di Gala Premier Bikin Heboh!

Banyak mualaf dari kalangan Puri Marga, Desa Abiantuwung Kediri, dan daerah Soka, yang menjadi bagian dari komunitas Muslim Desa Senganan.

Masjid Al-Hamzah bukan sekadar bangunan bersejarah, tetapi juga simbol toleransi dan kerukunan umat beragama di Tabanan.

Kisahnya menjadi pengingat bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi terjalinnya persaudaraan dan gotong royong. *** 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#toleransi #bali #hindu #sejarah #masjid #Bugis #tabanan