Bukan Sekadar Ibu Bupati! Intip Pesona Bunda Rai Tabanan: Ngayah Memukau, Bukti Cinta Budaya yang Menginspirasi!
IGA Kusuma Yoni• Jumat, 2 Mei 2025 | 01:36 WIB
Ny. Rai Wahyuni Sanjaya saat ngaturang ayah menabuh dan megambel di Pura Agung Besakih
BALIEXPRESS.ID - Di balik kokohnya kepemimpinan Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, berdiri seorang perempuan tangguh dan inspiratif: Ny. Rai Wahyuni Sanjaya, atau yang lebih dikenal dengan sapaan hangat Bunda Rai.
Tak hanya setia mendampingi sang suami dalam menjalankan roda pemerintahan, Bunda Rai juga memancarkan pesona sebagai teladan dalam melestarikan nilai-nilai budaya dan spiritual Bali.
Salah satu wujudnya adalah melalui kegiatan ngayah, sebuah pengabdian tulus ikhlas yang telah mendarah daging dalam kehidupannya.
Bagi Bunda Rai, ngayah bukan sekadar tradisi, melainkan ruh spiritual yang menjiwai setiap kegiatan adat dan keagamaan.
Kehadirannya selalu dinanti dalam berbagai upacara, tak terkecuali saat pelaksanaan Bhakti Penganyar Karya Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih.
"Ngayah bukan hanya bentuk dukungan spiritual, tetapi juga perwujudan dari sradha bhakti (keyakinan dan pengabdian) kita terhadap yadnya suci (persembahan suci), baik dalam bentuk piodalan (upacara hari jadi pura) maupun karya lainnya," tutur Bunda Rai dengan penuh keyakinan.
Baginya, ngayah adalah jembatan emas yang mempererat tali persaudaraan antarwarga dan memperkuat rasa kebersamaan dalam spiritualitas.
Namun, ada satu sisi menarik dari ngayah yang dijalani Bunda Rai yang mungkin belum banyak diketahui.
Dengan anggun mengenakan busana adat Bali lengkap, Bunda Rai tak ragu untuk ikut nabuh (memainkan gamelan) dan menari Rejang bersama para anggota PKK Kabupaten Tabanan!
Penampilannya yang memukau bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga memberikan inspirasi yang mendalam.
Ia membuktikan bahwa seni budaya dan peran aktif perempuan memiliki kontribusi yang sangat besar dalam menjaga dan melestarikan kearifan lokal Bali yang adiluhung.
Keterlibatan langsung Bunda Rai dalam ngayah ini menjadi bukti nyata sinergi yang indah antara pelestarian seni budaya dan pemberdayaan perempuan di Bali.
Ia dengan tegas menyatakan bahwa ngayah bukan sekadar kewajiban adat semata, melainkan juga merupakan manifestasi cinta yang mendalam terhadap budaya dan simbol persatuan yang kokoh dalam masyarakat Bali.
“Melalui ngayah, kami tidak hanya melestarikan tradisi yang diwariskan leluhur, tetapi juga memperkuat spiritualitas dan solidaritas sosial antar sesama. Saya merasa bangga bisa menari dan megambel bersama ibu-ibu PKK Tabanan. Ini adalah bentuk nyata pengabdian dan kecintaan terhadap adat serta budaya yang kita miliki,” ungkap Bunda Rai dengan semangat yang membara.
Dengan keteladanannya, Bunda Rai tak lupa mengajak seluruh masyarakat, terutama generasi muda dan kaum perempuan Bali, untuk terus menghidupkan dan melestarikan tradisi ngayah.
Ia berharap kegiatan luhur ini akan terus hidup dan diwariskan sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Bali yang kaya, luhur, dan adi luhung.
Sosok Bunda Rai benar-benar membuktikan bahwa menjadi seorang istri kepala daerah tidak menghalanginya untuk tetap aktif berkontribusi dalam pelestarian budaya dan memberikan inspirasi bagi banyak orang. ***