BALIEXPRESS.ID-Komang Ksamawan, seorang guru kelahiran 1968, tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan membuat produk olahan jahe merah.
Pria asal Banjar Kawanan, Desa Sawan, Buleleng ini sehari-hari mengajar Bahasa Indonesia di SMP Negeri 4 Kubutambahan.
Baca Juga: Viral! Bule dan Warga Lokal Terlibat Perdebatan Panas di Pantai Kuta Diduga Karena Persaingan Bisnis
Namun, sebuah pengalaman pahit yang ia alami bertahun-tahun lalu justru menuntunnya untuk mencoba hal baru yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Semua bermula pada tahun 2013, ketika Komang bergabung dengan kelompok petani jahe bersama puluhan warga lainnya. Mereka menaruh harapan besar setelah dijanjikan harga beli jahe merah yang menguntungkan oleh seorang pengepul.
“Kami membeli bibit dan mulai menanam jahe merah dengan semangat. Semua tampaknya berjalan lancar, namun masalah datang saat panen tiba,” kenangnya.
Namun, janji tinggal janji. Saat panen tiba, tak ada pengepul yang datang menampung.
“Kami rugi besar. Saya pribadi rugi sekitar ratusan kilo jahe. Saya membawa jahe ke pasar dan hanya bisa menjualnya dengan harga Rp8.000 per kilo, jauh dari harga yang dijanjikan,” ujarnya.
Baca Juga: Gunung Semeru Erupsi Dua Kali, Kolom Abu Capai 1 Kilometer di Atas Puncak
Peristiwa itu membuat Komang akhirnya menyerah pada jahe merah dan kembali fokus mengajar. Tapi kisah jahe belum sepenuhnya berakhir.
Tiga tahun kemudian, pada 2016, seorang teman datang membawa jahe. Dari situlah memori lama kembali muncul dan perlahan menumbuhkan ide baru.
“Seorang teman datang membawa jahe dan saya teringat janji lama. Saya membeli jahe tersebut dan mulai berpikir, kenapa tidak mencoba lagi untuk mengolah jahe ini menjadi sesuatu yang berguna?” ceritanya.
Ia pun mulai bereksperimen membuat serbuk jahe secara sederhana di dapur rumahnya.
Serbuk jahe buatannya berhasil mendapatkan respon sejumlah orang yang telah mencobanya. Terutama karena kemampuannya memberikan sensasi hangat dan manfaat kesehatan yang terasa.
“Awalnya saya hanya memberikan kepada teman dan tamu. Saya sajikan dan mencampurnya di minuman seperti kopi dan teh. Mereka suka, dan saya mulai berpikir, kenapa tidak mencoba menjualnya,” ujarnya.
Namun ide itu tidak langsung ia wujudkan. Ia butuh waktu untuk mencari informasi tentang cara pengolahan yang tepat. Baru pada akhir 2019, ia benar-benar mulai memproduksi dan menjual.
Penjualan pertamanya dilakukan di awal 2020, saat pandemi Covid-19 melanda. Banyak warga sekitar mengalami batuk, pilek, hingga demam. Serbuk jahe buatannya jadi pilihan alami untuk membantu pemulihan.
Setelah beberapa bulan berjalan, seorang teman mengingatkan Komang agar berhati-hati, terutama karena produk herbal perlu izin resmi. Ia pun mulai mengurus berbagai legalitas, dari Nomor Induk Berusaha (NIB) hingga izin edar.
“Prosesnya tidak mudah, tapi dengan pendampingan dari BPOM, akhirnya saya bisa mendapatkan izin edar di 2023. Ini adalah langkah besar bagi UMKM saya,” katanya.
Nama produk yang ia daftarkan ke BPOM adalah “Abian Jahe”, sebuah identitas merek yang kini terus ia bangun perlahan.
Meski sudah legal, Komang masih menghadapi kendala besar di bidang pemasaran. Ia belum sepenuhnya menguasai strategi digital.
“Saya memang memiliki keterbatasan dalam pemasaran online. Saya masih belajar menggunakan media sosial untuk memasarkan produk saya,” tuturnya.
Baca Juga: Tak Terima Ditagih Utang, Pria Ini Malah Cekik dan Acungkan Celurit Petugas Bank
Karena itu, ia lebih mengandalkan pemasaran langsung. Saat hari libur dari mengajar, ia berkeliling membawa produk sendiri.
“Saya mulai memasarkan produk ini di desa Sawan ini, lalu tiap libur saya berkeliling, kadang sampai ke Kintamani saya memasarkannya. Semua saya lakukan sendiri,” ungkapnya.
Selain aktif mengembangkan usahanya, Komang juga merupakan koordinator Yayasan Bantuan Anak Indonesia. Lewat jaringan tersebut, produknya mulai dikenal lebih luas, bahkan menembus pasar luar negeri.
“Melalui jaringan ini, produk saya sampai ke Perancis. Sungguh luar biasa melihat bagaimana orang-orang dari luar negeri bisa menikmati hasil karya kita. Itu adalah pencapaian besar,” ungkap Komang.
Produk tersebut juga diminati oleh para donatur dari luar negeri sebut saja Jerman, Australia, dan masih banyak lagi.
Di Bali, Abian Jahe juga dipasarkan di beberapa daerah. Sebut saja langgananya yang berasal dari Tabanan juga kerap mengorder Abian Jahe untuk dijual kembali ditokonya.
Lebih dari sekadar keuntungan pribadi, Komang berharap produk Abian Jahe dapat membawa dampak bagi para petani lokal.
“Saya ingin memberi peluang kepada para petani untuk menjual jahe mereka dengan harga yang layak. Selain itu, saya juga membagikan pengetahuan tentang cara mengolah jahe menjadi produk yang lebih bernilai,” ujarnya.
Kini Komang tengah bersiap untuk mengikuti pelatihan dan mentoring ekspor UMKM yang dilaksanakan oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian RI
Ke depan, ia ingin memperluas usahanya agar bisa menciptakan lapangan kerja dan memperkuat ekonomi desa.
“Saya ingin Abian Jahe menjadi simbol produk yang bukan hanya enak, tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan,” harapnya.
Bagi Komang, kegagalan bukan akhir dari perjalanan. Ia percaya setiap jatuh bangun adalah bagian dari proses menuju keberhasilan.
“Kegagalan itu bagian dari proses. Jangan pernah berhenti berusaha dan selalu belajar dari pengalaman. Setiap kegagalan membawa kita satu langkah lebih dekat ke kesuksesan,” pesan Komang.
Editor : Wiwin Meliana