Kenapa Kelor Dijuluki 'Mutiara Hijau' yang Menjanjikan?
Bukan tanpa alasan Sumerta Dana menjuluki kelor demikian. Ia melihat kelor punya potensi ekonomi yang tak kalah besar dari rumput laut.
Permintaan kelor dunia saat ini, menurutnya, jauh melampaui kapasitas produksi dalam negeri Indonesia.
"Hal ini karena daun kelor memiliki kandungan flavonoid yang tinggi, kandungan vitamin A pada kelor juga cukup tinggi, bahkan diakuinya bisa 10 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan vitamin A pada wortel per sajian," jelas Sumerta Dana.
Kandungan nutrisi super inilah yang membuat kelor sangat diminati dalam industri makanan sehat, baik dalam bentuk olahan maupun segar.
Sayangnya, potensi ini belum digarap maksimal di Bali, khususnya di Kabupaten Tabanan.
Ekspor Kelor Indonesia Mendunia, Bali Kapan Menyusul?
Anda mungkin terkejut mengetahui bahwa produksi kelor Indonesia sudah menjadi komoditas ekspor yang sangat menjanjikan.
Pasar Eropa dan Australia sangat membutuhkan kelor olahan, baik dalam bentuk kapsul maupun bubuk. Namun, ada fakta mengejutkan:
"Saat ini Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan kelor dunia. Sebagai perbandingan, Nusa Tenggara Timur (NTT) saja baru bisa menyuplai 20 ton dari total kebutuhan 100 ton per bulan," ungkap Sumerta Dana.
Angka ini menunjukkan betapa besarnya celah pasar yang bisa diisi. Inilah yang mendorong Sumerta Dana menyambut baik langkah penanaman 5 ribu bibit kelor oleh Desa Buahan.
Ia berharap, Desa Buahan bisa menjadi pemasok bahan baku olahan kelor secara bertahap, sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi desa.
Mewujudkan Desa Mandiri Pangan Berbasis Kelor di Tabanan
Visi Sumerta Dana tak main-main. Ia ingin program penanaman kelor ini dirancang secara berkelanjutan, dengan harapan Desa Buahan bisa menjadi sentra pengolahan daun kelor di Kabupaten Tabanan.
Mulai dari penanaman, pemetikan, pengeringan, hingga pengolahan menjadi berbagai produk pangan dan minuman berbasis kelor.
"Dengan potensi besar tersebut, tanaman kelor diharapkan mampu menjadi ikon baru Desa Buahan dan mendorong terciptanya desa yang sehat, mandiri secara pangan, serta berdaya saing dalam pengembangan produk lokal," tambahnya.
Mungkinkah kelor akan menjadi "emas hijau" baru bagi Bali, khususnya Tabanan?
Akankah jejak Wayan Sumerta Dana Arta diikuti oleh lebih banyak pengusaha lokal, mengubah potensi ini menjadi kesejahteraan nyata bagi masyarakat? Hanya waktu yang akan menjawabnya. ***