Pilu di Selat Bali: Rencana Liburan Berujung Tragedi, Istri dan Anak Balita Buruh Bangunan Jadi Korban Meninggal KMP Tunu Pratama Jaya
I Putu Suyatra• Jumat, 4 Juli 2025 | 14:08 WIB
EVAKUASI: Ambulance yang membawa korban KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di perairan Selat Bali. (Eko Sulestyono untuk Radar Buleleng)
BALIEXPRESS.ID – Hati siapa yang tak hancur? Imam Bakrie, seorang buruh bangunan asal Banyuwangi, hanya bisa terduduk lemas di depan Ruang Jenazah RSU Negara.
Air matanya tak terbendung, saat kenyataan pahit menghantam: istri dan putra semata wayangnya menjadi korban tewas dalam tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali, Rabu (2/7/2025) dini hari.
Fitri Apri Lestari (32) dan putranya, Adnan Akil Mustofa (3), ditemukan tak bernyawa di perairan Jembrana, Bali, pada Kamis (3/7/2025).
Keduanya berencana menyusul Imam untuk liburan sekolah ke Denpasar, sebuah perjalanan yang seharusnya membawa kebahagiaan.
"Nyusul ke Denpasar, mau liburan," ungkap Imam lirih, matanya sembab.
Ia menyarankan istri dan anaknya menggunakan jasa travel, demi kenyamanan perjalanan mereka.
Tak disangka, kendaraan travel yang ditumpangi masuk ke dalam KMP Tunu Pratama Jaya, kapal naas yang kini tergeletak di dasar laut.
Firasat yang Tak Tercium: Komunikasi Terakhir di Atas Kapal
Imam mengaku tak memiliki firasat buruk sedikit pun. Bahkan, komunikasi dengan sang istri berjalan lancar sebelum tragedi itu terjadi.
"Sebelum berangkat komunikasi. Sampai pas naik kapal, sempat kirim foto anak di kapal. Setelah itu sudah putus komunikasi," kenang Imam, menahan isak.
Kabar duka itu diterima Imam dari pemilik travel, sekitar pukul 03.30 dini hari.
Hati kecilnya langsung remuk, membayangkan orang-orang terkasihnya terombang-ambing di tengah kegelapan.
Saat ini, jenazah Fitri dan Adnan telah dibawa ke rumah duka, siap untuk dikebumikan di kampung halaman mereka di Banyuwogi.
Sebuah kisah pilu yang menambah daftar panjang korban tragedi kemanusiaan.
Misteri Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya: Pencarian Korban Terus Berlanjut
Hingga berita ini diturunkan, tim SAR Gabungan telah berhasil mengevakuasi 29 penumpang dalam kondisi selamat.
Namun, duka menyelimuti dengan ditemukannya 6 korban meninggal dunia, termasuk Fitri dan Adnan.
Ironisnya, 30 penumpang lainnya masih dinyatakan hilang, menyisakan tanya dan harapan tipis bagi keluarga yang menanti.
KMP Tunu Pratama Jaya, yang berangkat dari Pelabuhan Ketapang Banyuwangi pada Rabu malam (2/7/2025) pukul 22.56 WIB, dilaporkan mengalami gangguan mesin di tengah perjalanan sekitar pukul 23.20 WIB.
Kru kapal sempat meminta bantuan melalui radio, namun tak lama kemudian kapal mengalami blackout, miring, lalu terbalik dan tenggelam.
Kapal nahas ini mengangkut total 65 orang, terdiri dari 53 penumpang dan 12 kru, serta memuat 22 kendaraan, termasuk 14 truk tronton.
Dugaan awal menyebutkan kapal dihantam ombak pasang sehingga mengalami kebocoran pada ruang mesin.
Tragedi ini menjadi pengingat pahit akan bahaya di lautan, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban dan menyisakan pekerjaan besar bagi tim penyelamat.
Akankah semua korban berhasil ditemukan? Atau misteri hilangnya 30 penumpang akan menjadi cerita tanpa akhir? ***