Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Profil Rucina Ballinger, Perempuan Amerika Hidupkan Humor Bali Lewat Gedebong Goyang, Kerap Konsultasi dengan Dalang

Dian Suryantini • Selasa, 30 September 2025 | 15:37 WIB

 

Rucina Ballinger.
Rucina Ballinger.

BALIEXPRESS.ID – Rucina Ballinger, seorang warga negara Amerika yang telah lama menetap di Bali begitu mencintai Bali.

Bahkan ia mempelajari bahasa dan budaya Bali. Saat suaminya masih ada, ia menetap di kawasan Ubud, Gianyar. 

Rucina tinggal berpuluh-puluh tahun di Ubud hingga anak-anaknya dewasa.

Setelah suaminya meninggal, Rucina lantas hijrah ke Buleleng. Tepatnya di desa Les, Kecamatan Tejakula.

Berpindah dari Ubud ke Buleleng, Rucina merasa wajib mempelajari kultur serta budaya di Bali Utara itu.

Ia juga belajar bahasa Buleleng yang cenderung dikenal keras namun akrab.

Rucina yang kini berusia 60 tahun itu datang ke Bali pertama kalinya pada tahun 1974.

Ia datang dengan tujuan mempelajari tari Bali. Ia sempat kembali ke Amerika dan kembali lagi pada tahun 1985.

Rucina yang telah 8 tahun tinggal di Buleleng sangat merasakan perbedaan budaya.

Terutama soal bahasa. Terkadang ia kesulitan mencerna setiap kata walau telah lama di Bali.

“Bahasa di Ubud dan Buleleng sangat beda. Buleleng cenderung keras, tapi enak. Lumayan gampang untuk dipelajari. Logatnya juga. Kalau di daerah lain logatnya sedikit susah. Tapi bahasanya tidak sekeras Buleleng,” terang Rucina dengan aksennya yang khas.

Selain menyukai kesenian, Rucina juga suka humor. Di keluarganya ia kerap membuat lelucon yang senantiasa membuat rumahnya ramai.

Ia lantas berinisiatif untuk membuat sebuah grup untuk membuat konten banyolan yang dapat menghibur.

Dengan beranggotakan 5 orang, terbentuklah sebuah grup lawak yang dinamai Gedebong Goyang.

“Kelompok saya itu diberi nama Gedebong. Besar, tidak punya body, lurus, dalamnya putih, berair. Lalu saat itu ada artis dangdut Inul Daratista sedang naik daun. Lalu saya kasih nama Gedebong Goyang. Dengar nama itu, orang ketawa. Karena gedebong gak bisa goyang kan. Jadi itu sudah lucu. Terus saya tanya teman-teman bule saya siapa yang mau ikut. Jadi ada teman-teman saya yang mau ikut yang bisa bahasa Bali,” dia.

Mengawali konten lawaknya, kelompok Rucina memulainya dengan mengubah lirik lagu.

Video pertamanya adalah Megegonjakan ciptaan Dewa Majur yang dikomedikan tahun 2013.

Kemudian lagu itu diubah kembali pada tahun 2020 sesuai dengan situasi Covid-19.

“Kemudian kami mulai dengan guyonan lagu. Liriknya kami ubah. Sambil goyang-goyang sedikit,” imbuhnya.

Anggota grup yang dulunya 5 orang kini tersisa 2 orang saja. Sebab yang lainnya sudah tidak bisa fokus untuk berkarya lantaran telah berkeluarga.

Meskipun hanya berdua, tidak menyurutkan semangat duo gedebong goyang ini untuk melawak. Mereka tetap produktif.

Sebelum pembuatan konten, Rucina dan rekannya menyiapkan naskah dengan matang. Riset-riset kecil dilakukan agar lawak yang dihasilkan tidak kosong. “Sebelum buat konten itu saya selalu riset dulu. Kami bikin kerangka script. Apakah ini cocok atau tidak dengan budaya di daerah itu. Saya juga sering tanya sama almarhum suami yang kebetulan dari Mengwi,” terangnya.

Untuk mematangkan materi guyonan yang akan disampaikan, Rucina sangat serius.

Bahkan ia sering berkonsultasi dengan dalang. Hal itu dilakukan agar guyonan yang dihasilkan tidak kering dan sekedar kata-kata lucu.

“Kalau dengan dalang itu saya juga belajar grammar Bahasa Bali. Benar gak pengucapannya seperti itu,” kata dia.

Video-video lawak dari Gedebong Goyang selalu viral. Konten tersebut banyak disukai oleh kalangan anak muda hingga dewasa.

Isu-isu yang disampaikan lebih banyak sindiran soal kebijakan pemerintah lewat konten lawak.

Disamping kerap menyindir kebijakan pemerintah, konten dari Gedebong Goyang itu juga menyoroti kehidupan sosial. 

Rucina yang kerap bertugas sebagai penulis naskah mesti mencari padanan kata yang pas, ringan serta mudah dicerna oleh masyarakat, sehingga pesan yang diinginkan sampai ke masyarakat.

“Saya juga pernah buat video kritik tentang endek yang merupakan kebijakan Gubernur Bali. Kami buat itu kan menurut saya itu terkesan memaksakan. Tidak semua orang mampu beli endek yang harganya lumayan. Dan juga guyonan saya sesuaikan dengan levelnya. Kalau tidak mengerti dengan guyonan saya, berarti pesannya tidak akan masuk. Tapi ketika orang mengerti guyonan saya, maka pesan dan maksudnya sampai,” tutup perempuan yang masih belum fasih berbahasa Bali ini. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #Rucina Ballinger #Gedebong Goyang