BALIEXPRESS.ID – Di tengah maraknya kuliner modern, cita rasa tradisional tetap punya tempat tersendiri di hati masyarakat. Salah satunya adalah Babi Guling Legend milik keluarga Men Tompel di Banjar Buluh, Desa Guwang, Sukawati.
Usaha legendaris ini sudah berdiri sejak zaman Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) dan masih bertahan hingga kini, dikelola oleh generasi ketiga.
Pemilik Babi Guling Men Tompel, Men Sukari, 55, bercerita bahwa nama “Men Tompel” diambil dari ibunya yang memiliki tompel, sebuah kebiasaan penamaan khas zaman dulu yang sederhana namun melekat hingga kini. “Dari zaman PKI sudah jualan, pertama oleh Dadong Singrug, ibu dari men tompel, terus dilanjutkan oleh ibu saya, dan sekarang saya sama anak-anak,” tutur Sukari.
Setiap hari, Men Tompel mengolah sekitar 25 kilogram nasi babi guling, dengan bumbu khas bumbu merah, tomat, dan rempah-rempah bumbu bali lengkap. Menu andalannya adalah babi guling campur sambal tomat goreng dan jeroan, disajikan bersama lawar merah dan putih lawar merah berisi darah, sementara lawar putih tidak berisi darah.
Satu ekor babi guling di tempat ini bisa mencapai berat 75 - 80 kilogram, dan selalu ludes terjual. “Dulu jualnya waktu odalan di pura, rame banget. Sekarang juga masih ramai, tapi tergantung hari. Kalau sepi, ya buka sampai siang aja,” katanya.
Warung ini buka mulai pukul 07.00 pagi sampai habis. Harga satu porsi lengkap dibanderol Rp30 ribu termasuk minum, sedangkan untuk bungkus harganya Rp15–20 ribu.
Kini, usaha ini dijalankan bersama iparnya, Men Made, 40, serta adiknya, Ketut Suarsa, yang meneruskan tradisi kuliner keluarga. “Kami tetap jaga resep lama, biar rasanya tidak berubah dari dulu sampai sekarang,” ujar Sukari.
Sukari menambahkan jika pelanggan juga banyak dari luar Gianyar. Bahkan
banyak juga pejabat seperti anggota dewan dan pengusaha yang menikmati kuliner olehan daging babi tersebut.
Warung Babi Guling Men Tompel bukan sekadar tempat makan tetapi juga saksi hidup keteguhan keluarga yang mempertahankan warisan rasa Bali dari masa ke masa. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana