BALIEXPRESS.ID- Banjar Piling, Kecamatan Penebel, Tabanan merupakan salah satu banjar di Bali dengan komunitas umat Kristen sejak puluhan tahun.
Sejarah keberadaan Kristen di Piling bermula sekitar tahun 1936 silam. Gereja Immanuel Piling menjadi tempat ibadahnya.
Panitia pembangunan Gereja Immanuel Piling, I Wayan Suka Artha merupakan generasi keempat dari leluhurnya.
Ia menceritakan bahwa pada tahun 1936, seorang tenaga cangkul asal Desa Bongan, Tabanan, bekerja di lahan milik keluarganya.
Tenaga cangkul tersebut diketahui kerap membaca Alkitab, sehingga menimbulkan rasa penasaran dari pemilik lahan yang merupakan buyutnya.
“Berangkat dari rasa ingin tahu tersebut, salah satu anggota keluarga kami kemudian diarahkan untuk mempelajari ajaran Kristen di Abianbase, Badung,” jelas Suka Artha.
Setelah menjalani proses pembelajaran selama sekitar enam bulan dan merasa cocok dengan ajaran yang dipelajari, keluarga tersebut akhirnya memutuskan memeluk agama Kristen.
Seiring berjalannya waktu, ajaran tersebut berkembang dan diwariskan secara turun-temurun hingga ke anak cucu.
Perkembangan umat Kristen di Banjar Piling kemudian ditandai dengan berdirinya gereja Kristen pertama di Banjar Piling Kanginan pada tahun 1938.
Selanjutnya, pada tahun 2010, gereja tersebut resmi dipindahkan ke Banjar Piling Tengah dengan lokasi yang lebih luas dan representatif, yang kini dikenal sebagai Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) Immanuel Piling.
Saat ini, jemaat GKPB Immanuel Piling sekitar 50 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 200 orang.
Para jemaat berasal dari Banjar Piling Kangin, Piling Tengah, Piling Kawan, serta sejumlah desa adat di luar Desa Mengesta, seperti Desa Serason dan Desa Poh Gending. (*)
Editor : I Made Mertawan