BALIEXPRESS.ID- I Made Danu, warga Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, menerima penghargaan Anugerah Bali Swacita Nugraha 2026.
Penghargaan ini berkat inovasinya dalam menciptakan Abu Teko, yakni alat untuk membuat terracotta.
Ketika ditemui di Tabanan, Selasa (18/8/2026), Danu menjelaskan Abu Teko ini tercipta dari beragam permasalahan yang dihadapi oleh para perajin tanah liat di Desa Pejaten, seperti semakin langkanya bahan baku dan mahalnya biaya produksi.
Baca Juga: Tepati Nazar, Siswa SMPN 5 Kubu Jalan Kaki 7 Km Sambil Bawa Piala Gerak Jalan
Desa Pejaten sejak dahulu dikenal sebagai sentra perajin tanah liat di Bali.
Produk utamanya adalah genteng dan batu bata merah dengan merk Pejaten yang diproduksi secara tradisional.
“Namun seiring perkembangan zaman, kami menghadapi beragam tantangan, salah satunya adalah kelangkaan bahan baku yakni tanah liat dan mahalnya biaya produksi. Untuk itu, saya sebagai pengrajin berusaha untuk mencari solusi dari permasalahan ini,” jelasnya.
Abu Teko ini menjadi solusi ekonomis yang dia temukan saat para perajin genteng sudah beralih ke kerajinan terracotta.
Saat beralih ini, persoalan yang dihadapi ternyata sama yakni bahan baku yang kurang dan mahalnya mesin cetak terracotta.
Baca Juga: HUT ke-81 RI di Sukawati Semarak, Desa Kemenuh Jadi Tuan Rumah
Penggunaan mesin cetak menurut Danu sangat diperlukan karena dinamika tren pasar yang menuntut variasi motif yang terus berubah.
Di sisi lain, penggunaan mesin cetak modern tidak hanya mahal dan tidak efisien, tetapi juga menghasilkan cetakan yang kaku, kehilangan sentuhan kearifan lokal budaya Bali yang menjadi roh kerajinan tersebut.
“Pengunaan abu teko (abu dari sisa pembakaran) ini merupakan inovasi sederhana yang ramah kantong tapi kaya akan nilai seni, karena bisa dibentuk berbagai motif khas Bali,” lanjutnya.
Inovasi Abu Teko dirancang dari pemanfaatan bahan-bahan limbah yang tidak terpakai yang dirancang menjadi seperangkat alat bantu produksi yang fleksibel, mencakup alat cetak, pemadat, potong, ukir, hingga alat penghalus.
Proses pengembangannya melalui beberapa tahapan, mulai dari penentuan desain, pengerjaan alat, hingga uji coba dan aplikasi langsung di tangan para perajin.
Inovasi ini terbukti layak secara teknis, ramah lingkungan, serta sangat efisien secara ekonomi.
"Abu Teko ini dibuat agar fleksibel, perajin bisa memunculkan wirausaha baru tanpa modal besar, karena alatnya sederhana, murah, dan mudah didapat," tambah Danu.
Berkat Abu Teko, perajin Pejaten kini mampu menghasilkan ragam motif terracotta khas Bali dengan detail tinggi seperti, motif Semar dewi, Saraswati, Karang Boma, hingga Petani. Selain menekan biaya produksi dan meningkatkan produktivitas secara signifikan, kearifan lokal Bali dalam seni ukir terracotta dapat terus dilestarikan secara mandiri.
“Dengan adanya inovasi ini, kamu mampu menghidupkan kembali denyut ekonomi dan seni di Desa Pejaten akhirnya mendapat pengakuan tertinggi dari Pemerintah Provinsi Bali,” tambahnya. (*)
Editor : I Made Mertawan