BALIEXPRESS.ID- Usia tidak menjadi alasan bagi Ida Bagus Ngurah Wijaya untuk berhenti menjelajah.
Setelah mengawali perjalanan dengan sepeda motor di Indonesia pada usia 69 tahun, petualangannya berkembang hingga melintasi 79 negara dengan total jarak sekitar 190 ribu kilometer.
Perjalanan panjang tersebut kini dituangkan dalam dua buku, yakni “Menembus Horizon” dan “World Solo Ride: Dari Bali, Membawa Merah Putih Menjelajah Dunia”.
Baca Juga: 5 Tahun Holding Ultra Mikro: Integrasi BRI, Pegadaian dan PNM Berhasil Dorong Jutaan UMKM Naik Kelas
Kedua buku tersebut diluncurkan di Istana Taman Jepun, Kota Denpasar pada Jumat (11/9/2026).
Berkendara seorang diri dengan sepeda motor berpelat nomor DK serta membawa Bendera Merah Putih dalam perjalanan lintas negara dan benua menjadi pembeda utama dalam petualangan Ngurah Wijaya, bukan sekadar jumlah negara yang didatanginya.
Ngurah Wijaya baru memulai perjalanan ke luar negeri ketika usianya telah mencapai 73 tahun.
Baca Juga: Mancing Berujung Duka, Pria Jember Ditemukan Tak Bernyawa di Denpasar
Sejumlah medan ekstrem turut dilaluinya, termasuk gurun Namibia dan jalur-jalur menantang di Norwegia.
Perjalanan solo itu tentu tidak selalu berlangsung mudah. Ia pernah menghadapi ban pecah, kehabisan bahan bakar hingga berbagai gangguan selama berada di perjalanan.
Untuk menyesuaikan kondisi medan, jarak dan musim, tiga jenis sepeda motor disiapkannya untuk perjalanan panjang tersebut.
“Perjalanan dengan motor ini bisa lancar karena motivasi, keberanian dan persiapan yang baik. Itu modal utamanya. Memang perlu biaya (uang),” ungkapnya.
Di balik sosok petualang tersebut, Ngurah Wijaya memiliki perjalanan panjang di dunia hospitality dan pariwisata Bali.
Ia merupakan generasi kedua keluarga yang mengembangkan Segara Village Hotel, Sanur, salah satu hotel keluarga yang telah menjadi bagian dari perjalanan pariwisata Bali.
Pengalamannya di bidang perhotelan tidak hanya diperoleh di Bali. Sejak muda, Ngurah Wijaya menjelajah beberapa negara, di antarnya Prancis dan Swiss.
Sekembalinya ke Pulau Dewata, pengalaman tersebut diterapkan dalam mengembangkan usaha keluarga.
Segara Village Hotel kemudian dikelola dengan pendekatan yang lebih profesional tanpa meninggalkan karakter, budaya dan nilai kekeluargaan Bali yang menjadi bagian dari identitas hotel tersebut.
Aktivitas Ngurah Wijaya kemudian meluas ke sektor pariwisata Bali. Ia terlibat dalam Bali Tourism Board (BTB) dan pernah menjabat sebagai Chairman Bali Tourism Board. Ia juga dipercaya sebagai Konsul Kehormatan Swedia dan Finlandia di Bali.
Keterlibatannya dalam pariwisata semakin terlihat ketika Bali menghadapi masa sulit setelah Bom Bali I dan II.
Saat kunjungan wisatawan menurun dan citra Bali di dunia internasional ikut terdampak, Ngurah Wijaya menyampaikan optimisme mengenai pemulihan pariwisata Bali.
Dua Buku, Dua Cerita
Pengalaman hidup tersebut menjadi bagian dari buku “Menembus Horizon”. Buku ini tidak hanya menceritakan perjalanan sebagai pengusaha pariwisata, tetapi juga mengangkat kehidupan pribadi, keluarga, pendidikan, pengalaman di luar negeri hingga pergaulannya selama puluhan tahun.
Kisah perkembangan Sanur dan perjalanan Segara Village Hotel juga menjadi bagian dari buku tersebut.
Sementara buku “World Solo Ride: Dari Bali, Membawa Merah Putih Menjelajah Dunia” lebih banyak membawa pembaca mengikuti perjalanan Ngurah Wijaya di atas sepeda motor.
Buku ini merekam perjalanan lintas negara yang dilakukannya seorang diri setelah sebelumnya menuntaskan perjalanan keliling Indonesia.
Pelat nomor DK yang tetap terpasang di sepeda motornya menjadi identitas yang dibawa dalam perjalanan tersebut.
Bendera Merah Putih juga selalu menyertainya ketika melintasi berbagai negara dengan kondisi jalan, cuaca dan budaya yang berbeda.
Perjalanan itu bukan sekadar persoalan jarak tempuh. Berbagai pengalaman selama berada di negeri orang, pertemuan dengan masyarakat dari latar belakang berbeda serta situasi tak terduga menjadi bagian dari cerita yang dibawa pulang.
Dua buku tersebut akhirnya mempertemukan dua sisi kehidupan Ngurah Wijaya. Menembus Horizon merekam perjalanan pribadi dan kiprahnya di dunia hospitality serta pariwisata, sedangkan World Solo Ride mengabadikan keberaniannya menjelajah dunia dengan sepeda motor pada usia yang tidak lagi muda. (*)
Editor : I Made Mertawan