BALIEXPRESS.ID – Mengapa perempuan berselingkuh? Pertanyaan ini kerap muncul ketika seseorang mengetahui pasangannya menjalin hubungan dengan orang lain.
Perselingkuhan merupakan persoalan kompleks dalam hubungan romantis. Penyebabnya tidak selalu sederhana, termasuk ketika perempuan menjadi pihak yang melakukan perselingkuhan.
Ada anggapan bahwa perempuan cenderung lebih setia atau perselingkuhan perempuan selalu berkaitan dengan perasaan cinta. Namun, dari sudut pandang psikologi hubungan, alasan perempuan berselingkuh dapat sangat beragam.
Kondisi emosional, kualitas hubungan, kebutuhan akan perhatian, kehidupan seksual, kesempatan bertemu orang baru hingga karakter individu dapat berperan.
Penting dipahami, berbagai faktor tersebut bukan pembenaran terhadap perselingkuhan. Masalah dalam hubungan dapat membantu menjelaskan mengapa perselingkuhan terjadi, tetapi keputusan untuk berselingkuh tetap merupakan tanggung jawab individu.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (3/10), berikut sejumlah alasan yang kerap dibahas dalam psikologi hubungan.
1. Kebutuhan Emosional Tidak Terpenuhi
Salah satu alasan perempuan berselingkuh yang sering dibahas adalah ketidakpuasan emosional dalam hubungan.
Hubungan romantis bukan hanya soal tinggal bersama, memenuhi kebutuhan rumah tangga, atau menjalankan peran sebagai pasangan. Banyak orang juga membutuhkan perhatian, penghargaan, komunikasi, rasa dipahami, dan kedekatan emosional.
Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dalam waktu lama, seseorang dapat mengalami keterputusan emosional atau emotional disconnection.
Seorang perempuan mungkin merasa pasangannya tidak lagi mendengarkan ceritanya, menganggap perasaannya berlebihan, jarang memberikan perhatian, atau tidak lagi tertarik mengenal dirinya.
Bahkan, seseorang bisa merasa kesepian meskipun setiap hari berada di samping pasangan.
Dalam kondisi hubungan yang sudah rentan, perhatian dari orang lain dapat terasa sangat berarti. Hubungan tersebut mungkin awalnya hanya berupa percakapan biasa, tetapi kemudian berkembang menjadi kedekatan emosional.
Perselingkuhan pun tidak selalu bermula dari ketertarikan seksual. Dalam sejumlah kasus, kedekatan justru diawali kebutuhan sederhana untuk merasa didengar dan dipahami.
2. Masalah Hubungan yang Tidak Pernah Diselesaikan
Setiap pasangan pasti menghadapi konflik. Perbedaan pendapat tidak otomatis berarti sebuah hubungan gagal.
Masalah dapat muncul ketika konflik terus berulang tanpa penyelesaian.
Pertengkaran yang sama terjadi berkali-kali, komunikasi tidak kunjung membaik, salah satu pihak menghindari pembicaraan serius, kepercayaan rusak, atau hubungan dipenuhi kritik dapat membuat kepuasan dalam hubungan menurun.
Lambat laun, hubungan yang dahulu terasa dekat bisa berubah menjadi rutinitas.
Percakapan romantis berkurang, interaksi semakin dingin, kegiatan bersama makin jarang, sementara pertengkaran justru meningkat.
Dalam kondisi seperti itu, orang ketiga terkadang hadir ketika hubungan utama sedang rapuh.
Hubungan baru dapat terasa menyenangkan karena belum memiliki sejarah konflik, masalah rumah tangga, tanggung jawab bersama, atau luka lama.
Namun, rasa nyaman tersebut belum tentu berarti orang ketiga lebih cocok. Kebaruan sebuah hubungan terkadang membuat seseorang membandingkannya dengan hubungan lama yang sedang berada dalam kondisi terburuk.
3. Mencari Validasi dan Pengakuan Diri
Alasan perempuan berselingkuh berikutnya dapat berkaitan dengan kebutuhan mendapatkan validasi.
Validasi adalah pengalaman ketika seseorang merasa dirinya berharga, menarik, diinginkan, atau berarti bagi orang lain.
Kebutuhan tersebut sebenarnya manusiawi. Persoalan dapat muncul ketika harga diri terlalu bergantung pada pengakuan dari luar.
Misalnya, seseorang mulai merasa tidak menarik setelah bertahun-tahun menjalani hubungan. Ketika pasangan tidak lagi memberikan pujian atau menunjukkan ketertarikan seperti dulu, perhatian dari orang lain bisa memberikan dorongan emosional yang kuat.
Pujian sederhana dapat membuat seseorang kembali merasa diperhatikan dan diinginkan.
Dalam konteks ini, perselingkuhan tidak selalu berarti seseorang menemukan pasangan yang lebih baik. Bisa saja yang dicari adalah perasaan bahwa dirinya masih menarik dan berharga.
Namun, validasi dari orang lain cenderung hanya memberikan kepuasan sementara. Jika akar masalahnya adalah harga diri yang rapuh, berganti pasangan belum tentu menyelesaikan persoalan psikologis tersebut.
4. Tidak Puas dalam Kehidupan Seksual
Kehidupan seksual juga dapat menjadi salah satu faktor dalam hubungan.
Setiap pasangan memiliki kebutuhan yang berbeda, baik dalam hal frekuensi hubungan seksual, libido, bentuk keintiman, sentuhan maupun keterbukaan dalam membicarakan kebutuhan seksual.
Jika perbedaan tersebut berlangsung lama tanpa komunikasi yang sehat, frustrasi dapat muncul.
Meski demikian, ketidakpuasan seksual tidak otomatis menyebabkan perselingkuhan. Banyak pasangan menghadapi masalah seksual tetapi memilih membicarakannya, mencari solusi bersama, atau mendapatkan bantuan profesional.
Perselingkuhan hanyalah salah satu kemungkinan respons, bukan konsekuensi yang pasti.
Masalah seksual juga sering berkaitan dengan kondisi emosional. Bagi sebagian orang, seks tidak sekadar aktivitas fisik, tetapi juga berkaitan dengan perasaan dicintai, dihargai, diinginkan, dan dekat dengan pasangan.
Ketika komunikasi dan keintiman semakin berkurang, perhatian dari orang ketiga dapat terasa semakin menarik.
5. Kesempatan dan Ketertarikan terhadap Hal Baru
Faktor lain yang sering dilupakan adalah kesempatan.
Tidak semua perselingkuhan terjadi karena seseorang sangat tidak bahagia dalam hubungan. Dalam beberapa situasi, kesempatan bertemu orang baru dapat memainkan peran.
Orang baru bisa ditemui di tempat kerja, komunitas, media sosial, lingkungan pertemanan, perjalanan, kegiatan profesional maupun lingkungan sosial lainnya.
Interaksi yang awalnya biasa dapat berkembang ketika intensitas komunikasi semakin tinggi.
Hubungan jangka panjang juga memiliki rutinitas, sedangkan orang baru menghadirkan pengalaman berbeda. Ada percakapan baru, perhatian baru, rasa penasaran dan sensasi yang belum dirasakan sebelumnya.
Kebaruan tersebut dapat membuat sebuah hubungan terasa lebih menarik.
Namun, ketertarikan terhadap pengalaman baru bukan hanya dialami perempuan. Pria maupun perempuan sama-sama dapat mengalaminya.
Karena itu, alasan perempuan berselingkuh tidak tepat jika hanya dijelaskan sebagai akibat kurangnya perhatian pasangan.
Faktor Lain yang Bisa Memengaruhi Perselingkuhan
Lima alasan di atas bukanlah penjelasan yang berlaku untuk semua perempuan. Ada sejumlah faktor lain yang juga dapat berhubungan dengan perilaku perselingkuhan.
Pola keterikatan. Cara seseorang membangun kedekatan emosional dapat memengaruhi cara menghadapi konflik, kebutuhan emosional dan komitmen dalam hubungan.
Impulsivitas. Orang yang cenderung bertindak berdasarkan dorongan sesaat dapat lebih sulit mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang ketika menghadapi kesempatan untuk berselingkuh.
Batasan hubungan yang tidak jelas. Pasangan yang tidak pernah membicarakan batas hubungan dapat memiliki pandangan berbeda mengenai apa yang dianggap sebagai perselingkuhan.
Pengalaman hubungan sebelumnya. Pengalaman buruk dalam hubungan masa lalu dapat memengaruhi cara seseorang menjalani hubungan baru, meskipun masa lalu tidak otomatis menentukan perilaku seseorang.
Dinamika kekuasaan. Hubungan yang sangat tidak seimbang, misalnya ketika salah satu pasangan terlalu mengontrol kehidupan pihak lainnya, dapat memperburuk kualitas hubungan.
Apakah Perempuan Berselingkuh karena Sudah Tidak Mencintai Pasangannya?
Tidak selalu.
Perselingkuhan tidak bisa dijadikan bukti sederhana bahwa seseorang sudah tidak mencintai pasangannya.
Seseorang bisa saja masih memiliki perasaan terhadap pasangan, tetapi pada saat yang sama merasa kesepian, tertarik kepada orang lain atau mengambil keputusan yang merusak hubungan.
Emosi manusia juga dapat saling bertentangan. Seseorang bisa merasa terikat sekaligus tertarik kepada orang lain, atau merasa bersalah tetapi tetap mengulangi perilakunya.
Karena itu, perselingkuhan tidak selalu berarti cinta telah hilang.
Perselingkuhan Tidak Selalu Berarti Hubungan Buruk
Hubungan yang bermasalah memang dapat menjadi salah satu faktor risiko, tetapi bukan satu-satunya penyebab perselingkuhan.
Karakter pribadi, kesempatan, kemampuan mengendalikan impuls, kebutuhan psikologis, nilai yang dianut dan cara seseorang menghadapi godaan juga dapat berperan.
Sebaliknya, hubungan yang terlihat harmonis dari luar juga tidak menjamin perselingkuhan tidak akan terjadi.
Apa yang Perlu Ditanyakan Saat Perselingkuhan Terjadi?
Ketika mengetahui pasangan berselingkuh, seseorang sering bertanya, “Apa yang kurang dari saya?”
Pertanyaan tersebut dapat membuat korban perselingkuhan menyalahkan dirinya sendiri. Padahal, perselingkuhan pasangan tidak otomatis berarti seseorang kurang cantik, kurang menarik, kurang perhatian atau kurang baik.
Untuk memahami persoalan secara lebih sehat, beberapa pertanyaan yang dapat dipertimbangkan antara lain:
-
Bagaimana kondisi hubungan sebelum perselingkuhan terjadi?
-
Apakah kebutuhan emosional pernah dibicarakan?
-
Bagaimana pasangan menyelesaikan konflik?
-
Apakah batas hubungan dilanggar secara bertahap?
-
Apakah perselingkuhan hanya terjadi sekali atau sudah menjadi pola?
-
Apakah pihak yang berselingkuh bersedia bertanggung jawab?
-
Apakah kedua pihak masih ingin memperbaiki hubungan?
Pertanyaan tersebut dapat membantu melihat perselingkuhan secara lebih menyeluruh, bukan sekadar mencari satu penyebab.
Kesimpulan
Alasan perempuan berselingkuh tidak dapat dijelaskan dengan satu faktor.
Dalam psikologi hubungan, sejumlah faktor yang sering dibahas meliputi kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi, masalah hubungan yang tidak terselesaikan, kebutuhan akan validasi, ketidakpuasan seksual, serta kesempatan dan ketertarikan terhadap pengalaman baru.
Namun, faktor-faktor tersebut bukan pembenaran untuk berselingkuh.
Perselingkuhan merupakan perilaku kompleks yang dapat dipengaruhi hubungan, karakter individu, lingkungan, kesempatan dan keputusan pribadi.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar rasa cinta. Komunikasi, kejujuran, batasan yang jelas, rasa aman, penghargaan dan kemauan menyelesaikan masalah menjadi bagian penting agar hubungan tetap kuat.
Editor : I Putu SuyatraSumber : Jawa Pos