
BALIEXPRESS.ID – Dua warga berdiri berhadapan di atas panggung persegi yang dikelilingi hamparan sawah. Cambuk di tangan mereka diayunkan secara bergantian. Suara cambuk yang mengenai tubuh pun terdengar di tengah keramaian warga.
Namun, duel dalam tradisi Tiban tersebut bukan untuk mencari pemenang ataupun saling menyakiti. Bagi warga Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, Tiban menjadi cara untuk menjaga warisan budaya Jawa agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Tradisi Tiban digelar warga sejak Kamis (24/9) hingga Minggu (4/10). Setiap sesi mempertemukan dua peserta yang saling mencambuk secara bergantian. Masing-masing peserta mendapat jatah tiga kali cambukan.
Warga dari berbagai kelompok usia ikut ambil bagian. Anak-anak hingga orang dewasa hadir dan terlibat dalam tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut.
Tiban Bukan Sekadar Ritual Meminta Hujan
Meski digelar pada musim kemarau, Tiban di Desa Tamanagung kali ini tidak secara khusus ditujukan sebagai ritual meminta hujan.
Warga lebih menempatkannya sebagai bagian dari upaya nguri-nguri budaya Jawa sekaligus mengenalkan tradisi leluhur kepada generasi muda.
Kepala Desa Tamanagung Suharto mengatakan, Tiban merupakan salah satu budaya Jawa yang telah dikenal sejak zaman nenek moyang. Menurutnya, tradisi tersebut perlu terus dikenalkan agar tidak hilang tergerus perkembangan zaman.
“Tujuan utamanya untuk melestarikan budaya. Memang dahulu nenek moyang menggelar tradisi ini ketika musim kemarau dan Alhamdulillah, ketika selesai digelar, hujan turun,” ujarnya.
Cerita mengenai hujan yang turun setelah pelaksanaan Tiban menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat. Namun, Suharto menegaskan, pelaksanaan Tiban tahun ini tidak semata-mata ditujukan untuk mendatangkan hujan.
Nilai utama yang ingin dipertahankan adalah keberadaan tradisi itu sendiri.
Karena itu, panggung Tiban tidak hanya diisi peserta dewasa. Anak-anak juga diberi ruang untuk melihat, mengenal, dan ikut merasakan langsung tradisi yang diwariskan para leluhur.
Keterlibatan lintas generasi dinilai penting agar Tiban tidak sekadar menjadi cerita masa lalu, tetapi tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Peserta Tiban Datang dari Sejumlah Daerah
Menjelang hari terakhir, tradisi Tiban di Tamanagung semakin ramai. Sejumlah pegiat Tiban dari wilayah lain di Banyuwangi turut datang untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Peserta maupun penggiat berasal dari Kecamatan Purwoharjo, Tegaldlimo, dan Bangorejo. Pada hari terakhir, Minggu (4/10), pegiat Tiban dari Blitar dan Tulungagung juga turut hadir.
Kehadiran peserta dari luar daerah membuat panggung Tiban Tamanagung tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya masyarakat setempat. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi titik pertemuan para penggiat tradisi dari berbagai daerah.
“Pesertanya dari warga sini (Desa Tamanagung) dan sekitarnya, termasuk penggiat Tiban dari Kecamatan Purwoharjo, Tegaldlimo, dan Bangorejo. Khusus untuk hari terakhir ada peserta dari Tulungagung dan Blitar,” ujar Suharto.
Menurut Suharto, Tiban juga memiliki fungsi sosial. Pertemuan warga dalam satu kegiatan menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi tanpa membedakan kelompok maupun usia.
Tradisi Tiban Ikut Gerakkan UMKM
Keramaian Tiban tidak hanya terasa di atas panggung. Kedatangan warga dan peserta dari berbagai daerah turut membuka ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk beraktivitas.
Bagi Pemerintah Desa Tamanagung, pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan beriringan. Tiban bukan hanya dipertahankan sebagai warisan leluhur, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi warga.
Di tengah derasnya perubahan budaya dan maraknya hiburan modern, panggung Tiban menjadi pengingat bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat di tengah masyarakat.
Cambuk memang beradu. Namun, tujuan akhirnya bukan luka ataupun kemenangan. Bagi warga Tamanagung, yang jauh lebih penting adalah menjaga tradisi agar tetap dikenal, dimainkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Editor : I Putu Suyatra
Sumber : Radar Banyuwangi