BALI EXPRESS, PETANG - Prosesi pemakaman almarhum Desak Putu Kari di Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kamis (28/12) cukup unik. Itu karena memadukan budaya Bali dan Tionghoa. Jenazah almarhum awalnya diberikan prosesi secara Hindu. Jenazah almarhum juga diiring menggunakan bade atau joli menuju kuburan Tionghoa. Namun setibanya di kuburan Tionghoa, jenazahnya tak dibakar, melainkan dikubur. Pun dalam proses penguburannya dilakukan dengan cara militer. Konon, sebelum meninggal almarhum sempat meminta agar dikubur saja. Seperti apa?
Upacara pemakaman almarhum Desak Putu Kari sudah dimulai sejak pagi. Pada pukul 11.55 iringan jenazah datang dari rumah duka, Jl. Nangka, Denpasar dengan menggunakan mobil ambulans Kodim 1611/Badung. Setibanya di perempatan Desa Carangsari, jenazah almarhum diturunkan, langsung diusung oleh Regu Pengusung Jenazah dari TNI. Jenazah diusung hingga di depan Puri Carangsari. Setelah dilakukan upacara mapamit di puri, yang dipimpin oleh Ida Pedanda Griya Gede Manuaba Carangsari, jenazah langsung dinaikan ke atas bade atau joli. Bade tersebut kemudian diiring menuju kuburan Tionghoa TPU Sari Semadhi, Desa Carangsari dengan jarak sekitar 1,5 km.
Sekitar pukul 13.30, jenazah sudah tiba di tempat pemakaman. Kepada jenazah yang telah diturunkan dari bede, dilaksanakannya prosesi apel Persada Oleh Veteran Kemerdekaan RI dan Pemuda Panca Marga. Selaku Inspektur Upacara, Ketua LVRI Provinsi Bali, I Gst Bagus Saputra. Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan riwayat singkat almarhum, Pembacaan Apel Persada dan memberian penghormatan terakhir sambil menurunkan jenasah almarhum ke liang hahat. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Inspektur Upacara dan sambutan dari perwakilan keluarga. Usai upacara Apel Persada prosesi dilanjutkan dengan pemakaman secara Agama Buddha.
Dalam upacara tersebut tampak hadir Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta , Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati alias Cok Ace, Panglingsir Puri Ageng Mengwi, AA Gde Agung, Dandim 1611/Badung Letkol Arh Ahmad Sumarna. Terlihat pula jajaran kepolisian dan segenap tokoh dan kalangan LVRI se-Provinsi Bali, dan Pemuda Panca Marga (PPM). Tak ketinggalan ribuan masyarakat juga ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.
Cucu ke-8 almarhum Desak Putu Kari, I Gusti Ngurah Agung Daniel Yudha mengatakan kepada Bali Express (Jawa Pos Group), prosesi upacara pemakaman almarhum memang unik. Hal itu tak lepas dengan sejarah hidup almarhum. Dijelaskannya, dari perkawinan almarhum dengan Pahlawan Nasional, Brigjen Anumerta I Gusti Ngurah Rai, beliau melahirkan tiga orang anak. Sementara perkawinannya dengan almarhum Made Setiabudi, seorang Tionghoa, beliau dikaruniai empat orang anak.
Dengan demikian timbul kesepakatan prosesi dilakukan dengan memadukan dua budaya plus cara militer, mengingat almarhum juga merupakan bagian dari sejarah kemerdekaan RI. “Nah, jadi prosesi beliau ini merupakan perpaduan yang unik, antara Bali di Puri dan Tionghoa. Demikian pula dari unsur pemerintah, TNI, Polri, Pemuda Panca Marga, termasuk masyarakat. Semuanya berpartisipasi atau ngayah,” tegasnya yang juga merupakan Ketua PPM Provinsi Bali.
Meski begitu, kata dia, keberadaan almarhum sangat dihormati masyarakat. Oleh karena itu, secara de facto, masyarakat masih tetap menganggap almarhum merupakan bagian dari Puri Carangsari. “Apalagi beliau merupakan bagian langsung dari sejarah bersama Pahlawan I Gusti Ngurah Rai. Beliau sempat mengalami langsung penderitaan saat menjadi tawanan,” terangnya.
Seperti diketahui, almarhum Desak Putu Kari berpulang pada Minggu, (10/12) di Wings RSUP Sanglah. Di samping sudah lanjut usia, yakni 93 tahun, ia menghembuskan nafas terakhir lantaran didiagnosa mengidap penyakit pneumonia atau paru-paru basah. Jenazah almarhum pun sempat disemayamkan di Hotel Bali Mulia, Jalan Nangka, Denpasar.
Editor : I Putu Suyatra