BALI EXPRESS, DENPASAR - Media jurnalisme warga, Balebengong kembali menggelar acara spesial, di Taman Baca Kesiman, Jalan Sedap Malam-Denpasar, Minggu malam lalu (5/11). Kala itu, Panitia Anugerah Jurnalisme Warga, memberikan penghargaan kepada para pemenang tulisan dalam rangkaian acara bertajuk Malam Anugerah Jurnalisme Warga 2017. Temanya, ‘Bhinneka Tunggal Media’, merayakan keberagaman melalui media jurnalisme warga.
Di sela kemeriahan acara tersebut, para tamu undangan yang tergabung dalam komunitas, pelajar, dan lain sebagainya pun terhibur dengan beragam rangkaian acara. Tidak hanya mengumumkan para penerima Anugerah Jurnalisme Warga 2017, malam apresiasi juga diisi dengan kegiatan lain, yaitu makan bersama ala Bali atau magibung. Selanjutnya ada diskusi tentang keberagaman ekspresi dan melindungi privasi, pertunjukan teater, serta diakhiri dengan pentas musik.
Nah, pementasan musik yang selalu ditunggu-tunggu di akhir acara tersebut adalah persembahan dari penampilan group musik ternama, yaitu Nosstres. Kemeriahan acara pun terlihat kala ketiga anak muda, diantaranya Angga (Gitar/Vokal), Kupit (Gitar/Vokal) dan Cok Bagus (Kajon/Harmonika/Pianika) ‘unjuk gigi’ mendendangkan lagu-lagu khasnya. Penampilan band trio Bali, Nosstress itu juga sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para warganet melalui tagar #TanyaNosstress. Karena, Band yang aktif dalam kegiatan aktivisme sosial ini baru mengeluarkan album baru bertajuk ‘Ini Bukan Nosstress’.
Tidak lupa pula, Nosstress membawakan beberapa lagu baru dari album baru tersebut, yang katanya memiliki karakter serta ciri khas tersendiri dari album-album sebelumnya. Angga, salah satu personil mengatakan, album terbaru nosstress bertajuk ‘Ini Bukan Nosstres’ ingin menunjukkan bakat tersendiri yang dimiliki masing-masing personel, sejak penciptaan lagu hingga masteringnya. “Jadi masing-masing personel yang mengurus itulah yang bisa membedakan album ‘Ini Bukan Nosstress’,” tuturnya. Ia menjelaskan, akhir-akhir ini, di setiap penampilan mereka selalu ditemani pemain contrabass, yang sebenarnya hanya ingin melengkapi suara musik.
Terkait kehadirannya di Malam Anugerah Jurnalis Warga 2017, ketiga Personel Nosstress mengaku sangat mengapresiasi acara yang sangat spesial tersebut. “Mengingat belakangan santer beredar berita hoax. Nah, dengan adanya media seperti Balebengong dan baliblogger juga, masyarakat tidak usah ragu lagi untuk terus menyuarakan kebenaran,” tutur mereka.
Acara Malam Anugerah Jurnalisme Warga 2017 memang disambut sangat baik oleh sebagian masyarakat yang hadir. Terlebih, karya tulis serta beberapa karya-karya yang mendapat apresiasi dari BaleBengong itu, mampu mengambarkan realita kebudayaan dan menyampaikan makna positif. Seperti karya dari Julio Saputra, Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Ganesha, yang menceritakan tentang harmoni antara warga Tionghoa dengan budaya Bali. Karya tersebut menceritakan seputar pengalamannya saat upacara kematian neneknya di Baturiti, Tabanan, Bali.
Guyubnya etnis Bali dan Tionghoa di Baturiti hanya salah satu contoh. Masih banyak wujud toleransi dan kerukunan antaretnis Tionghoa dan Bali di Baturiti. “Hubungan harmonis itu menjadi warisan yang harus dijaga untuk tetap meraih kesejahteraan, kebahagiaan antarumat yang berlandaskan keluhuran budi dan hati,” tulis Julio di artikelnya tersebut. Selain kepada karya tulis, penghargaan juga diberikan kepada karya dalam format foto untuk Made Argawa dan ilustrasi untuk Gede Jayadi Pramana Kusuma. Jayadi menyampaikan kekhawatirannya terhadap hilangnya rumput laut di Nusa Penida, Klungkung.