Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lemurian Codex Gundah, Fanatisme Intoleran

Nyoman Suarna • Kamis, 12 Maret 2020 | 04:49 WIB
Lemurian Codex Gundah, Fanatisme Intoleran
Lemurian Codex Gundah, Fanatisme Intoleran


LEMURIAN Codex adalah band bagian dari  explorasi project Moel Madness, seorang komposer, pencipta lagu, pembetot bass yang juga vokalis. Pria yang bernama komplet Sapta 'Moel Madness' Mulya ini adalah frontman dari band Metal Bali, Eternal Madness, yang menjadi salah satu pelopor musik Metal yang dengan ciri etniknya dikenal  luas di komunitas 'musik keras' di Indonesia dan mancanegara. Bersama dengan drumner A A Goya yang juga salah satu pionir band Tribute Metallica Bali 'Vexer', dan Sigit Soegeng  yang multi instrumentalis, juga keyboardis yang banyak memainkan musik jazz dan klasik, Lemurian Codex terlahir.


"Ide lagu kebanyakan berasal dari kegelisahan dengan kondisi dunia yang dengan tren media sosial yang bukan cuma berdampak positif, tetapi  banyak melahirkan hal-hal yang berbau negatif, terutama meningkatnya isu suku, ras, dan  agama, juga fanatisme yang tidak bertoleransi (intoleran), yang  kemudian berdampak pada terjadinya perpecahan, bahkan kekerasan fisik di masyarakat luas, " papar Sapta Mulya yang akrab disapa Moel kepada Bali Express ( Jawa Pos Group ) di Denpasar.


Dikatakan Moel, pendekatan budaya menjadi dasar pengembangan lagu-lagu yang ditulis band, dengan harapan bisa mengingatkan kepada masyarakat luas bahwa kultur budaya yang toleransi adalah akar utama pemersatu tanpa melihat asal, suku, ras, bahkan agama.


Lemurian Codex menjadi nama pilihan band, lanjut Moel, mengacu pada legenda bersifat fiksional yang mulai populer pada awal abad ke-19 di kalangan mistikus, budayawan, dan ilmuwan Eropa tentang masyarakat maju yang menjunjung perdamaian dengan kebijakan  serta kemampuan di atas manusia rata-rata. "Lemurian adalah bangsa Lemuria, sedangkan Codex adalah hukum atau undang-undang, juga naskah kuno," urainya.


Single perdana yang dirilis bertajuk Lemurian  Manifesto, bercerita tentang legenda Lemurian, merupakan salah satu lagu dari tujuh lagu dalam kemasan EP yang sedang dalam penyelesaian recording.


Proses recording sudah dimulai awal Oktober 2019, didukung  komunitas musik seperti Marylinisa, instruktur vokal Farabi Music school yang mengisi vocal sopran. Ada juga Ricky Rangga dari band Metal Siksa Kubur yang mengisi solo gitar di single perdana ini.


Agus Aris dari Eternal Madness juga dilibatkan di posisi rhytm gitar. Single yang ditangani Madness Studio (Caffeine Sanctuary-Soulmotion),  konsep, screen play, dan sutradaranya ditangani Moel ini, juga melibatkan Steven Michael untuk urusan cinematography dan editor.

Editor : Nyoman Suarna
#denpasar #musik