Penari yang terlibat, yakni janger dan kecak tidak sembarang orang. Para penari adalah wajib warga asli Banjar Kedaton yang masih remaja. Sebelum menjadi penari terlebih dulu harus mawinten.
Prajuru Banjar Kedaton Made Sudiatmika saat diwawancara Bali Express (Jawa Pos Group) belum lama ini menegaskan, Janger Kedaton telah ada sekitar tahun 1906. Lahirnya tarian ini tak lepas dari kegiatan agraris penduduk saat itu yang lebih banyak bertani maupun berladang.
Cikal bakalnya pun tak lepas dari unsur niskala. “Saat itu ada salah satu warga yang mengalami karauhan dan dari sabda beliau menyebutkan bahwa yang 'rauh' itu adalah Meme Janger dan disuruh meminta tirta di Pura Batu Bolong di Canggu. Dan, Janger Kedaton ini bukan sekadar seni pertunjukan saja, karena ada sesuhunannya di pura,” ujar Made Sudiatmika.
Singkat cerita, petunjuk niskala itupun dilakukan sampai akhirnya puluhan tahun kemudian, Janger Kedaton mengalami perubahan. Baik dari pelatih, penari dan lainnya.
“Kalau dahulu penarinya masih semua laki-lak, baik janger maupun kecak, sekarang sudah dikhususkan yakni laki-laki di kecak dan perempuan di tari janger,” ujar lulusan seni pedalangan ini.
Lantas apa unsur niskala yang terkandung, khususnya untuk para penari ini? Sudiatmika menjelaskan ketika seseorang ingin jadi penari harus mawinten terlebih dulu, dan yang terpenting adalah warga asli Banjar Kedaton, terutama Sekaa Teruna Pamuka (Persatuan Angkatan Muda Kedaton).
“Penari janger dan kecak ini identik dengan muda-mudi. Prosesnya ditunjuk melalui masa ke masa, dan angkatan di sekaa teruna-teruni banjar. Syaratnya adalah umur 17 tahun dan belum menikah,” tegas Sudiatmika yang juga pernah menjadi penari kecak ini.
Kemudian, proses setelah mawinten juga melalui rentetan yang panjang. Ada proses namanya maeteh-eteh, yakni menelan pusuh bunga pucuk bang, kemudian pamor, madu, bungkak nyuh gadang, tirta, bija kuning, kalpika dan lain-lain.
Lalu eteh-eteh itu dilakukan sebelum menggunakan sumpang atau gelungan janger. Setelah sumpang dipakai, baru menghaturkan bakti dengan sesuhunan bahwa akan pentas.
“Fungsi dan makna eteh-eteh itu sebagai energi pelindung dan magnet dari cahaya taksu janger antara sesuhunan dan penari. Jadi saat pagelaran, janger memiliki taksu,” ujar Sudiatmika.
Soal cerita, disebutkannya lebih banyak menyanyikan syair-syair dan pantun secara bersahutan. Dan yang terpenting dalam pementasan selalu ada edukasi di dalamnya seperti pendidikan agama, pergaulan, etika, pemerintahan dan sebagainya.
Agar pementasan lebih menarik, tari janger dan kecak disatukan atau mix dengan lakon seperti Arjuna Tapa dan Sunda-Upasunda. Jumlah penari dalam setiap pementasan diakui Sudiatmika tergantung lokasi pentas. “Jika kalangan (panggung) luas, maka jumlah penarinya juga banyak, begitu juga sebaliknya. Tapi, standarnya itu disebutkannya berjumlah 14 pasang. (dip)
Editor : I Komang Gede Doktrinaya