Koordinator pementasan AA Gede Ngurah Agung mengungkapkan, pihaknya memilih dramatari Cupak untuk ditampilkan karena ingin menampilkan sesuatu yang beda. Pihaknya pun ingin agar dramatari Cupak ini bisa dikenal lebih luas lagi oleh masyarakat.
“Dalam dramatari Cupak, ada unsur magisnya, ada juga unsur lucunya. Itu yang membedakan dengan dramatari yang lain. Kalau dramatari biasanya mengandalkan lucu saja, kemudian menyampaikan cerita dan tattwa. Sedangkan dramatari Cupak ini, selain ada unsur magis, karakter Cupak yang rakus, makannya banyak, itu memang terlihat secara nyata selama pementasan,” ungkapnya.
Ngurah Agung melanjutkan, penari Cupak merupakan seorang pangayah Nari Cupak dari salah satu pura di Desa Kerta, Payangan. Kata dia, selama pentas konon taksu Ratu Cupak memang merasuki raga si penari. Sehingga melakukan sesuatu di luar batas manusia normal, seperti makan dengan cepat, terlebih satu kepala babi. Selain itu, tidak merasakan sakit saat bermain api.
Menurut Ngurah Agung, penari Cupak adalah orang-orang terpilih (mundut). “Jadi si penari ini mengundang taksunya Ratu Cupak itu biar masuk ke dirinya. Kalau orang normal tidak mungkin dia bisa seperti itu. Bahkan pada penampilan di luar PKB, ketika panggungnya beralaskan tanah, makanan itu bisa dicampur di tanah itu, lalu dimakan. Memang kelihatannya dia makan, tapi di tenggorokannya konon sudah diambil gaib,” jelasnya.
Meski lebih menonjolkan karakter Cupak, namun dramatari tersebut tetap mengambil lakon yang berkaitan dengan tema Danu Kerthi Huluning Amreta, Memuliakan Air Sebagai Sumber Kehidupan.
Banyak pesan yang ditampilkan seperti jangan mengotori sumber-sumber air, karena jika sumber air tercemar, maka kehidupan manusia pun akan terganggu. “Kami sesuaikan dengan tema PKB Danu Kerthi. Pesan yang ingin disampaikan adalah sebagai manusia dan masyarakat supaya bisa memanfaatkan air yang secara baik,” katanya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya