BALI EXPRESS - Beberapa hari terakhir Jro Jepang mengehebohkan jagad media sosial Facebook dengan aksinya menantang sejumlah oknum penekun spiritual untuk pembuktian kesaktian yang dimiliki.
Terkait hal itu, Jro Bayu Gendeng memberikan nasihat kepada Jro Jepang.
Melalui siaran langsung di akun Facebook milik Jro Bayu Gendeng, Jumat (1/9), keduanya pun duduk bersama.
Menurut Jro Bayu Gendeng, sebagai orang Bali, kita harus percaya jika setiap daerah dan setiap orang memiliki Taksu masing-masing. Begitu juga di Bali ada keilmuan leluhur yang sudah ditemukan, dianalisa dan dipelajari.
“Tetap penciptanya adalah Sang Hyang Aji Saraswati. Ilmu-ilmu leluhur itu dirangkum dalam lontar-lontar dan harus dijaga oleh generasi penerusnya, agar pakem-pakem ilmu leluhur ini tidak punah,” jelas Jro Bayu Gendeng.
Menurut Jro Bayu Gendeng, kemungkinan oknum pemangku yang berseteru dengan Jro Jepang sedang mempraktikkan keilmuan berdasarkan literasi leluhurnya.
Namun pada zaman modern ini, banyak yang ingin membuktikan ilmu gaib seperti Jro Jepang. Padahal gaib tidak mudah dibuktikan karena ini disebut dengan fisika dan metafisika.
“Gaib itu suatu hal yang tidak bisa dibuktikan secara nyata, namun jika kita mau mempelajari hal tersebut, boleh dilakukan tetapi jangan nyampahang. Dalam artian, kalau tidak bisa dibuktikan jangan beranggapan gaib itu tidak ada,” papar Bayu Gendeng.
Mendapat wejangan dari Jro Bayu Gendeng, Jro Jepang pun menjelaskan apa yang ia lakukan adalah reaksi atas aksi yang dilakukan oknum pemangku tersebut.
Jro Bayu Gendeng pun mengingatkan agar Jro Jepang mengedepankan etika komunikasi dan melihat siapa lawan bicaranya. Entah dalam mengedukasi ataupun dalam penyampaian kebenaran versi Jro Jepang.
“Saya tidak akan mengajarkan jro sopan santun, namun harus tetap ada etika dalam komunikasi yang harus dijaga. Apalagi dengan Jro Mangku yang sampun mewinten dengan upakara yang dilakukan,” jelasnya.
Jro Bayu Gendeng pun meminta agar bahasa yang digunakan dalam penyampaian edukasi oleh Jro Jepang lebih ditata sehingga tidak menimbulkan kesan arogan.
“Maksudnya begini, sebenarnya kita bermaksud baik tapi kelihatan tidak baik. Maksud kita benar untuk mengedukasi masyarakat, tetapi komunikasi kita dengan cara yang dianggap tidak etis, tentunya menimbulkan polemik dan konflik di masyarakat,” nasihat Jro Bayu Gendeng.
Editor : Nyoman Suarna