Dita menunjukkan kebolehannya menari Bali pada sesi sesi unjuk bakat para bintang tamu yang dipersilakan maju satu-satu. Dita memang dikenal sebagai penari yang baik. Sebelum bergabung dengan Secret Number, dirinya aktif di akademi dance modern terkenal di Korea. Tentu saja, tarian Bali yang dibawakan Dita menyita perhatian semua yang hadir dalam acara ini. Mereka terlihat takjub menonton Dita menari dengan gerakan khas yang diiringi musik Bali.
Baca Juga: Selain Shin Tae-yong, Sandy Walsh Soroti Menu Makan Rekannya di Timnas Indonesia
Bahkan, beberapa peserta tampak mengikuti beberapa gerakan Dita. Seperti memutar kedua pergelangan tangan atau tatapan tajam dan gerakan leher selayaknya yang biasanya kita lihat di pertunjukan tari Bali.
Dita Karang merupakan salah satu idol Korea Selatan yang diundang dalam acara TV Knowing Brothers pada pekan lalu (21/10). Selain Dita Secret Number, ada pula Tsuki (Billie), Fatou (Black Swan), Natty (Kiss of Life), Joon Park (g.o.d), Zhang Hao dan Matthew (Zerobaseone), Eddie (n.Ssign), serta Lee Ahyumi.
Dita sendiri berasal dari Yogyakarta, namun dirinya memiliki keturunan darah Bali sehingga tidak heran jika Dita cukup menguasai tarian adat dari tanah leluhurnya.
Baca Juga: Hotman Paris Alami Penyumbatan Pembuluh Darah di Jantung, Pasang Ring Hingga Ratusan Juta Rupiah
Selain itu, MC juga bertanya tentang arti dari nama lengkap Dita yakni Anak Agung Ayu Puspa Aditya Karang. Dita sering disebut sebagai salah satu idol yang memiliki nama panjang dan unik di Korea. MC juga bertanya tentang kebenaran apakah Dita berasal dari keluarga kerajaan.
Dita lalu menjelaskan bahwa tiga kata pertama dari namanya memang diberikan untuk para keturunan kerajaan di Bali.
“Anak Agung Ayu berarti anak yang berharga, atau bangsawan. Sedangkan sisanya adalah nama asli saya,” ungkap Dita dikutip dari Jawa Pos.
Ketika peserta lain menimpali apakah dirinya tinggal di istana mengingat Dita adalah bangsawan, Dita menjawab, “Saya hanya keturunannya. Jadi kalau saya pergi ke Bali, ada anggota yang tinggal di istana. Saya sendiri tinggal di rumah biasa.”
Editor : Nyoman Suarna