SINGARAJA, BALI EXPRESS – Kondisi alam Kabupaten Buleleng bagian barat saat musim kemarau memang terlihat gersang.
Wajah wilayah itu seolah menguning seperti rambut yang dicat pirang. Suasana itu menggambarkan cuaca panas dengan suhu tinggi.
Bagi para sineas, lingkungan kering di Bali barat itu tepatnya di kawasan Desa Penyabangan hingga Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng bisa disetting sebagai lokasi syuting, baik untuk film skala nasional maupun internasional.
Alam kering di bagian barat itu seolah-olah mirip dengan savana yang ada di Afrika. Konsep film yang bisa digarap di wilayah ini misalkan film action.
Kondisi alamnya pun berpotensi menjadi lokasi syuting film layar lebar. Di samping itu, Buleleng juga punya garis pantai yang panjang.
Dari sekian panjangnya, terdapat pantai-pantai cantik yang mirip dengan pantai di luar negeri.
Setting tempat juga dapat digunakan dalam film berskala internasional. Jika dikemas dengan apik, maka penonton tidak akan menyadari bahwa lokasi tersebut bukanlah di luar negeri.
“Alam di sini masih sangat alami. Banyak spot-spot lokasi yang bisa jadi pilihan untuk syuting,” ujar Produser Pelaksana Film Luchsinger and the God, Joseph JU Taylor, belum lama ini.
“Tergantung sekarang bagaimana sutradara mengatur semuanya dengan rapi dan detail. Sehingga biaya untuk syuting bisa ditekan. Minimal tidak mengeluarkan biaya untuk pindah-pindah lokasi syuting. Bisa syuting di satu tempat, dapat banyak,” tambahnya.
Produser asal Swiss yang akrab disapa Jos ini pun sempat menjelajahi Lovina bersama sang sutradara Markus Kobeli tahun 2019 silam. Ia memproduksi film “Lost in Paradise – Luchsinger and the Gods”.
Dalam perjalanannya ia juga menemukan tempat-tempat yang bisa dijadikan lokasi syuting. Seperti halnya perkampungan yang penduduknya mayoritas muslim.
Perkampungan itu bisa disetting menjadi tempat yang seolah-olah sedang berada di Jawa.
“Pergi saja ke Celukan Bawang atau ke perkampungan muslim di Kota Singaraja. Disetting sedemikian rupa, sudah jadi. Akan terlihat sama seperti di Jawa. Tidak akan ada yang sadar kalau syutingnya ada di Bali-Buleleng, kecuali penonton bertanya lokasinya di mana,” ujar Jos.
Dengan gambaran Buleleng yang demikian, bisa dikatakan Kabupaten Buleleng juga punya potensi sebagai pusat produksi film.
Dari lokal hingga internasional. Hal itu memberikan gambaran bahwa sebuah produksi film sekecil apapun sanggup memberi sumbangan penting bagi perekonomian rakyat, di samping tentunya promosi wisata di daerah tersebut.
“Buleleng bisa menjadi daerah tujuan kerja film Internasional maupun nasional karena karakter daerahnya yang macam-macam, bervariasi. Perkampungan dan desa-desa di Buleleng bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi sebuah produksi film International,” ujar Putu Kusuma, salah satu filmmaker lulusan Belanda.
Putu Kusuma yang juga sutradara dari film Jayaprana-Layonsari menegaskan bukan saja alamnya yang berpotensi menjadi objek perfilman, tetapi juga masyarakatnya.
Sebuah produksi film membutuhkan banyak orang. Seperti contoh, kru produksi film Luchsinger and the God berjumlah sekitar 42 orang.
Hanya pemain, penata gambar, penata suara. tata artistik saja yang dari luar negeri, selebihnya adalah orang yang ada di Bali.
“Jadi ini juga memberikan peluang bagi warga lokal untuk mendapat pekerjaan tambahan, di samping memberikan pengalaman kepada mereka,” terang Putu. (*)
Editor : I Made Mertawan