"Sudah Rp 8 juta terkumpul, tetapi sekarang masih ada terus yang masuk," ujar Ary Kencana di sela-sela kesibukannya manggung.
Menariknya, dari jumlah tersebut, Rp 6 juta disalurkan langsung kepada Petruk.
Sementara sisa Rp 2 juta diberikan kepada Perak, seniman yang menunjukkan kesetiakawanan luar biasa dengan memilih untuk tidak tampil di PKB sebagai bentuk dukungan kepada Petruk.
Aksi ini menjadi bukti nyata solidaritas di kalangan seniman Bali.
Bentuk Penghargaan di Usia Senja, Bukan Beban
Ary Kencana, pelantun lagu "Putih Bagus" ini, mengungkapkan alasannya menggalang donasi.
Menurutnya, di usia Petruk yang sudah senja, seharusnya beliau mendapatkan penghargaan sebagai seniman legendaris, bukan justru diberikan beban.
"Ini sebagai bentuk saling support sesama seniman Bali. Karena tidak ada istilah mantan seniman, sampai mati pun akan tetap dikenang," tegasnya.
Dukungan ini sejalan dengan filosofi lagunya, "Sayangin Saenune Meurip", yang menekankan pentingnya memberikan perhatian dan apresiasi selagi masih hidup.
Ary Kencana juga menegaskan bahwa langkahnya ini murni karena rasa kemanusiaan, bukan untuk mencari panggung.
Ia bahkan memiliki rekam jejak panjang dalam menyalurkan donasi, termasuk saat pandemi Covid-19 melalui Yayasan Arta Titipan.
Misteri di Balik Absennya Petruk: Sebuah Bentuk Protes atau Lainnya?
Ketidakhadiran Petruk di PKB 2025 ini menyisakan banyak pertanyaan. Apa yang sebenarnya terjadi sehingga Petruk memilih untuk tidak tampil?
Apakah ini sebuah bentuk protes, atau ada alasan lain yang melatarbelakangi? Dan bagaimana kelanjutan dari aksi solidaritas yang digagas Ary Kencana ini?
Meskipun alasannya masih menjadi misteri, satu hal yang jelas: aksi Ary Kencana telah menyoroti pentingnya dukungan dan penghargaan bagi para seniman, terutama mereka yang telah mendedikasikan hidupnya untuk seni.
Apakah kita akan segera mengetahui alasan di balik absennya Petruk, dan akankah gelombang dukungan ini terus membesar? Mari kita nantikan perkembangan selanjutnya. ***